“Malam yang Tersentuh Ujung Kaki Dingin”
Suara pintu kulkas di lantai bawah menutup. Mi-jin tersentak. Tempat tidur di sisinya kosong, hanya satu sisi kasur yang tenggelam. Jam berapa sekarang? Setengah lima subuh.
Dengan ujung jari kaki ia menarik ujung selimut perlahan, lalu menarik napas dalam. Bau parfum asing—bening namun menusuk—tersebar di kepala ranjang. Di kamar yang sepi, aroma itu berkeliaran seperti hantu.
Saat ia bersandar pada bantal, bekas kepala di sisi seberah terasa lebih dingin dari suhu tubuh. Artinya, sepuluh menit lalu masih ada seseorang di sini.
Kalimat Tersembunyi di Balik Punggung Suami
Sang-hyeok menahan napas di dalam kamar mandi. Matanya yang tergambar di cermin bergetar. Noda lipstik di punggung tangan, bercak merah mengintip dari bawah cincin kawin.
Hilanglah, cepat.
Dibasuh dengan handuk, aromanya tetap melekat. Bau leher wanita tak dikenal menempel di kepalanya. Bukan rasa bersalah yang lengket, melainkan kegembiraan liar karena sesuatu telah diselesaikan.
Kunjungan ‘Dia’
Sebulan lalu. Mi-jin tanpa sengaja menjumpai cincin jatuh di dalam mobil Sang-hyeok. Tapi itu bukan cincin yang ia kenal.
- Memar-memar putih di lengan. Lipstik merah menempel di situ.
- Helai rambut pirang pendek tertinggal di jok.
Mi-jin berambut sebahu gelap. Sang-hyeok pulang tanpa sepatah kata. Ia hanya melihat cincin di genggam Mi-jin dan menundukkan kepala sedikit. Itu saja.
“Apa ini.” satu frasa pendek.
Namun Mi-jin tahu. Siapa dia, sudah berapa lama, dan aroma apa yang menutupi malam ini. Ia tahu dalam tiga detik.
Menghitung Diam di Atas Ranjang
Selama sebulan keduanya mengulang pemandangan yang sama:
- Istri memejamkan mata, menghitung langkah suami.
- Suami menutup pintu kamar mandi, membuka keran.
- Tiga belas langkah yang saling menghampiri.
Di antara langkah itu tersimpan 29 tahun. Mi-jin memundurkan ketiga belas langkah itu dalam kepala: ciuman pertama, pertengkaran pertama, kelahiran anak pertama, kehilangan pekerjaan pertama, ranjang orangtua pertama semua sakit. Seluruh pertama memenuhi 29 tahun.
Tapi tahun ke-30 sepertinya tak akan tertulis.
Pengakuan Terlambat Sang-hyeok, Tapi Tidak Juga
Tadi malam. Sang-hyeok pulang mabuk. Ia berlutut di samping ranjang Mi-jin.
“Mi-jin, maaf.”
Di tangannya segel plester kecil di dahi. Bekas yang ditinggalkan seseorang. Mi-jin menggeleng pelan. Ia sudah tahu semuanya. Ia tak ingin mendengar kata-kata. Kata-kata hanya mengubah dosa menjadi benda nyata.
Psikologi Kecepatan Nafsu
Para psikolog mengatakan: nafsu pasangan yang akan genap 30 tahun berbeda kecepatannya:
- Suami ingin melaju 100 km/jam.
- Istri ingin berhenti di 0 km/jam.
Jarak satu detik saja, kecelakaan terjadi. Tapi Mi-jin tahu: bukan kecelakaan, melainkan pelarian yang direncanakan.
Kata Dingin di Balik Selimur Hangat
Pukul empat subuh. Sang-hyeok akhirnya kembali ke ranjang. Mi-jin terus memejamkan mata. Tapi ia tahu semuanya: bau di tangan suami, sisa napas perempuan dalam hela, dan desah yang ia lepas berbalik.
Semuanya tembus pandang.
“Kenapa tak kau katakan apa-apa?” bisik Sang-hyeok.
“Karena bila diam, kupikir semua belum berakhir?”
Mi-jin tak menjawab. Ia hati-hati menjauhkan tangan. Tapi makin dihindari, genggaman Sang-hyeok makin erat.
Jeda Waktu Antara Nafsu dan Menyembunyikan
Mengapa kita tak bisa melewati 29 tahun? Freud berkata: ketagihan bukan dari kekurangan, melainkan ketakutan tak bisa mengembalikan yang sudah dimiliki.
Sang-hyeok tak ingin lepas dari Mi-jin. Ia ingin bersembunyi di dalam Mi-jin. Mi-jin 30 tahun lalu, saat cinta masih membara. Tapi Mi-jin tak lagi di sana.
3 cm Terakhir
Mi-jin perlahan membuka mata. Jam meja menunjukkan 04.15. Tinggal 30 menit. Atau tepatnya: 29 tahun 11 bulan 29 hari 30 menit.
Ia menggenggam tangan Sang-hyeok perlahan. Bercak merah di punggung tangan menyentuh ujung jarinya.
“Sang-hyeok.”
Setelah lama, Sang-hyeok menjawab:
“Iya.”
Tangan mereka persis berjarak 3 cm. Di sela itu: 29 tahun yang lalu, dan satu tahun yang akan datang menahan napas.
Pertanyaan untuk Pembaca
Di ranjangmu kini berapa cm jaraknya?
Dan di sela itu, apakah sesuatu yang tak sanggup—atau tak ingin—kau isi selama 30 tahun menanti diam?