"Maaf, hari ini aku tak ingin berpegangan tangan"
Duduk di teras kafe, aku menenggak asap rokok dan tanpa basa-basi menyerahkan cangkir kertas kosong ke tangan lelaki itu. Ia tersenyum gugup, bertanya, "Di sini?" Namun aku sudah mengalihkan pandangan.
Setahun lamanya tak ada satupun hubungan—aku terlatih mendorong tangan asing lebih jauh daripada aku menjaga diri sendiri.
Hampa di ujung jari
Apa sebenarnya yang kudambakan? Dalam kedamaian yang tak tersentuh ini, akukah menyerap kembali nafsu orang lain secara terbalik?
365 hari. Tepat 8.760 jam tanpa sepasang tangan menempel di kulitku. Awalnya, sunyi ini seperti mati lampu mendadak. Tempat tidur tanpa napas di belakang leher. Bibir kering tanpa rasa.
Yang terhapus bukan hanya kehangatan di kulit, melainkan juga kekuasaan halus yang biasa kugenggam. Tatkala ia menunjukkan nafsunya, aku berlatih menolaknya perlahan, terbang lebih tinggi.
"Hari ini tidak." Satu kalimat, ia mundur hati-hati. Saat itulah aku merasa paling berkuasa.
Namun kini kuasa itu tiada bertandang; tak ada yang menginginkanku, sehingga aku tak bisa lagi menolak.
Dua potong memori tergores tipis
Diam Ji-eu sebagai perjanjian
Ji-eu (32) datang musim semi lalu, usai putus dari pacar lamanya. Ia memotong rambut berarok sampo kuat sekaligus—laki-laki satu-satunya yang ia temui selama beberapa pekan hanyalah penata rambutnya.
"Minggu pertama putus rasanya ada yang kosong. Minggu kedua aku malas keluar. Di hari ketiga puluh, aku melihat satu dus kondom di samping ranjang—masih tiga bulan sebelum kadaluarsa. Ku buang semua ke kantong sampah; saat itu aku tahu benar semuanya sudah usai."
Sejak itu ia memiliki kebiasaan merekam obrolan rekan pria—candaan saat makan siang hingga janji minum sore di kereta bawah tanah. Menunduk, ia menyaksikan detik-detik mereka menjadi objek nafsu orang lain.
Aku senang mereka tak menatapku. Tak perlu menciut di bawah pandang mata, itu awalnya terasa seperti pembebasan.
Percobaan kulkas Ella
Ella (29) bekerja di perusahaan desain dan kini hari ke-328 tanpa keterlibatan apa pun. Ia menempel angka magnet merah di pintu kulkas, menghitung hari demi hari. Setelah lewat hari ke-100, angka diganti dengan tulisan: "Dalam Perbaikan".
"Awalnya aku menyingkir tatkpa mata bertemu. Bahu yang bersentuhan di kereta membuatku kaku, aku bolos arisan kantor. Namun setelah hari ke-200, justru para pria yang menghindarkanku. Tatapan ‘perempuan itu aneh’ jelas terbaca. Lucu sekali, hingga tanpa sadar kupilih satu lelaki dan hanya menatap matanya sebulan penuh. Hanya tatapan, namun ia akhirnya menghindar di lift."
Ella mengambil mousepad milik rekan laki-laki dan menekannya di telapak tangan selama enam bulan, meneteskan suhu tubuhnya perlahan—hingga pemiliknya tak lagi bisa menggunakannya.
Ia tak membantah jika itu obsesi. Hanya saja, arah obsesinya kini berputar pada ‘penolakan’.
Debu halus dalam kekosongan
Psikolog menyebut "kekosongan nafsu" sebagai penindasan libido. Benar, namun kami menangkap titik yang lebih gelap: pembalikan kekuasaan.
Dalam hubungan, mengetahui nafsu lawan lalu menolaknya menempatkan kami di posisi aktif. Namun bila tak ada yang menginginkan kita, kita tak bisa menciptakan yang menginginkan.
Maka kami berlatih nafsu terbalik: membuat lawan tak ingin. Menjadikan diri agar, meski dipandang, tak bisa diinginkan.
Sampai kapan damai ini menaungiku? Dalam hening tanpa pencinta, akankah aku kembali menjadi sasaran obsesi?
Terakhir, untukmu di depan pintu
Jangan-jangan kini kau sudah siap menerima kembali nafsu orang lain.
Atau, seperti aku, masih ingin memegang teguh damai tanpa sentuhan ini di hari ke-365?