Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Setelah 7 Tahun Cinta, Ia Menikah dalam 2 Bulan. Tiap Malam Aku Mengitari Rumahnya

Nafsu yang tak pudar pasca putus. Di tembok rumah pengantin barunya, bayang-bayang itu adalah diriku sendiri. 45 malam, pengamatan yang melanggar tabu dan pahitnya sadar diri.

perpisahanobsesitabunafsumalam

1. Tamu Tak Diundang

Setiap malam, sebuah bayangan melekat pada tembok rumah pengantin yang asing bagiku. Ujung kakiku menelan rumput sintetis baru yang baru saja dipasang dua tahun lalu. Di balkon lantai dua, masih ada pot tanaman yang kita pilih bersama. Atau, tepatnya, pernah ada. Kini pasti digantikan bunga berbentuk hati yang baru saja dibeli orang lain.

"Kau tahu kan? Ini bukan patroli. Aku hanya ingin memastikan dia hidup bahagia, tertawa meski tanpaku. Dan setiap hari aku memastikannya. Tertawa atau tidak."


2. Malam ke-17, 02:14

Jendela setengah terbuka. Bingkai jendela baru tanpa satu pun stiker menjerit: ‘pasti memang tak disukai istri barunya’. Lampu dalam ruang hangat kekuningan. Namun hanya kenangan sejuk kilat yang tetap runcing di kepalaku.

Ketika ia memperkenalkan wanita itu untuk pertama kali, pandanganku langsung tertuju pada kalung di lehernya. Rantai emas muda dengan hati kecil bergelantung. Teringat kalung pertama yang pernah kuberikan padanya.

‘Memberi barang yang sama lagi?’

Itu akhirnya. Perlahan kucucupkan pandanganku ke sela jendela. Lalu kulihat—bukan dia, tapi siluet wanita itu. Bercelana putih, mengepalkan rambut, menaruh sesuatu di atas meja makan. Mungkin camilan malam. Kujilat bibirku yang luka. Apakah ia makan masakan buatanku juga, sama persis seperti yang biasa ia makan?

"Kaos putih, kalung hati—semua itu dulunya milikku. Tapi yang datang lebih dulu selalu harus pergi lebih dulu."


3. Malam ke-23, 01:57

Lampu balkon mati. Hanya lampu duduk di ruang tamu yang menyala sepi. Kuselinap hingga ke ujung tembok dan terlungkup di atas rumput. Aroma menguar—tanah baru, rumput segar, dan parfum lembut. Ah, itu parfumnya wanita itu. Ia punya hidung sensitif; tentu tengah mabuk pada bau baru sang istri.

Tanah dingin membasahi lututku. Kumatikan mata, menelusuri bayang-bayang yang terbentuk di celah pintu. Dua sosok. Kepala saling bersentuhan. Dari bayang-bayang saja sudah terasa ciuman itu. Aku tak bisa menutup mulut. Pertama kuhentikan napas, lalu kuserap dalam-dalam aroma tanah.

"Aku bisa terbakar hanya karena bayangan, semoga kau tahu. Bayangan tak punya suara, makanya lebih kejam."


4. Malam ke-30, 02:38

Aneh. Semua lampu padam, rumah gelap gulita. Apakah aku ketahuan? Atau mereka pergi berbulan madu? Kutarik kakiku dari tembok dan melangkah pelan ke arah taman. Di sana masih ada lavender yang kami tanam dulu. Hanya satu tangkai pun bisa membuatnya bersin karena alergi, tapi aku mencintai aromanya.

Lavender itu kini dipetik. Entah untuk teh penenang. Aku berlutut di bawahnya, memetik sisa kelopak yang menempel. Aromanya masih sama. Tapi di dalamnya tak lagi tersimpan rahasia kami berdua. Kumasukkan kelopak itu ke mulut dan kukunyah. Rasa pahit naik ke lidah. Rasa pahit inilah satu-satunya realitas yang masih bisa kurasa.

"Pahit bukan rasa. Itu kenangan. Di ujung kenangan itulah aku masih berdiri."


5. Subuh ke-45, 03:05

Aku datang juga hari itu. Tapi kali ini berbeda. Di balkon, wanita itu berdiri. Mengenakan daster putih, rambut acak-acak, melempar asap rokok. Untuk pertama kalinya kami saling pandang. Detik pandangan kami bertemu, ia menekan puntung rokok dan menengok ke samping. Lalu bibirnya bergerak—tidak bersuara.

‘Pergilah.’

Aku tak bisa bergerak. Kaki seolah berakar di rumput. Ia mundur selangkah, menutup jendela. Kaca berderit pelan. Lampu padam. Aku tertegun. Hanya sisa aroma lavender di rambutku.

Sejak hari itu aku tak lagi mengitari rumahnya. Sebaliknya, aku menyimpan sehelai daun lavender di dompetku. Setiap kali rasa pahit itu muncul, aku tahu: aku masih berdiri di depan rumah itu, sekaligus tahu bahwa aku tak pernah bisa masuk ke dalamnya.

"Ketika ia menyuruhku pergi, aku tahu itu bukan berarti ‘aku menyayangimu’, melainkan ‘jangan ada lagi rasa’. Namun hanya karena aku sempat mendengar kata itu, aku bertahan hingga hari ini."

← Kembali