Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Lahir ’88, Kau Terlalu Polos

Team-leader 30-an ingin menghancurkan kepercayaan polos para pria 20-an, lalu lenyap saat fajar tiba.

percintaannafsuperbedaan-generasitabukekuasaan

Kamar mandi bar seperti cerobong asap

“Unni, kamu cantik sekali,” kata Junha. Hembusan napas di punggung tanganku lebih panas dari soju. Ia lahir ’96, dua belas tahun lebih muda dariku. Tangan yang sedang memperbaiki lipstik di depan cermin terhenti sejenak. Kata cantik datang membawa dua makna: pujian dan tantangan. Api yang berkelip di matanya bukan sekadar takjub, melainkan pertanyaan tersembunyi: Bolehkah aku merindukanmu? Pertanyaan itu murni, karena itu lebih mematikan.


Suhu tersembunyi

Malam itu, ujung jari Junha menyentai pergelangan tanganku. Saat pintu lift menutup, angka 15 naik perlahan. Saat pintu terbuka, kami sudah saling mengenal suhu tubuh. Di bawah cahaya lampu samping ranjang, tulang lehernya tampak. Bahu yang belum berlemak, gaya bicara ceplas-ceplos. Namun yang lebih dulu kusadari adalah kepercayaan: keyakinan bahwa dunia masih berpihak padanya. Ingin kuhancurkan keyakinan itu, dan kesadaran itu menyedihkan tanpa tahu sebabnya.


Minsu di kamar sebelah

Dua bulan kemudian, usai makan malam kantor, Minsu meneguk alkohol. Lahir ’98, sepuluh tahun di bawahku. Ia staf baru, aku manajer tim. Dalam keadaan mabuk ia bergumam, “Perusahaan ini… susah ya.” Aku tak menjawab, hanya menyingkap sehelai rambutnya. Ujung jariku meluncur turun menyentuh pipi. Minsu menatapku dengan mata bulat. Di sana kembali terlihat keyakinan yang sama: Tempat ini akan memaafkanku. Apakah aku bisa menghancurkannya, atau justru ikut goyah?


Bobot keyakinan

Mengapa pria berusia 20-an? Karena mereka percaya masih boleh salah. Aku iri. Aku mengecap ketidakmatangan itu—saat mereka ragu namun tak kehilangan percaya diri. Melangkah di atas saat-saat itu, aku merasakan bobot diri sendiri: Aku sudah seberat ini. Di pertengahan 30, aku tak lagi dimaafkan. Maka aku tertarik pada mereka yang masih bisa dimaafkan. Kemudaan mereka membuatku teringat bahwa aku pernah begitu, dan bahwa masa itu tak pernah bisa kembali.


Kenangan di depan cermin

Malam terakhir bersama Junha. Dari kepala ranjang ia bertanya, “Unni, kenapa dengan… aku?” Aku tak menjawab, hanya menyisir rambutnya dengan jari. Kenapa? Karena kau belum tahu apa-apa. Malam itu aku ingin mengingat segalanya—kerutan kecil di sudut matanya yang masih muda, kuku jarinya yang belum berkapalan. Dan saat fajar menjelang, aku pergi.


Rasa tabu

Seorang sarjana menyebut nafsu ini strofaris: tarikan pada sesuatu yang berbahaya. Aku menafsirkan definisinya berbeda. Yang paling berbahaya adalah aku tahu aku bisa merusak awal mereka. Maka kuguncang langkah pertama mereka, membuat polos itu retak. Lalu lenyap saat pagi tiba.


Suhu yang tersisa

Saat fajar, ranjang mendingin. Menyentuh pergelangan tangan, sisa suhu perlahan menghilang. Sisa panas itu mencari korban berikutnya, menanam ilusi: Kali ini akan berbeda. Tapi selalu sama. Saat kepercayaan mereka hancur, aku pun ikut remuk. Tetapi aku tak bisa berhenti. Aku ingin mendengar suara kepercayaan yang pecah—karena suara itu menjadi bukti bahwa aku masih hidup.

← Kembali