Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Separuh Dada Pria Usia 30-an, Tatapan Wanita Asing yang Membara

Ketika wanita asing menoleh, yang terlintas bukan cinta, melainkan keruntuhan. Mengupas tuntas psikologi pria 30-an yang ambruk karena satu kali pandang.

tatapannafsupria30antabuobsesi
Separuh Dada Pria Usia 30-an, Tatapan Wanita Asing yang Membara

Simpang Jalan Ketika Ia Berbalik

Kemarin malam jam 11 lewat 47 menit, pintu keluar 5 Stasiun Gangnam, Jalur 2. Di cermin gedung, mata seorang wanita bertemu dengan mata Jeonghyeon. Rambut dikepang panjang, masker hitam, sekilas kulit pinggang yang terlihat dari balik celana jins.

'Dia menatapku. Atau hanya aku yang mengira begitu?' Saat ia menengok, wanita itu pun menoleh. Bersamaan. Seperti dua jam tangan yang tepat menunjuk detik ke-23 pada 11:47. Titik singgung 0,8 detik. Dalam sekejap itu, Jeonghyeon sudah membayangkan ciuman pertama, pertengkaran pertama, dan perpisahan pertama dengan wanita itu. Ia mendengar suara separuh dadanya runtuh.


Nafsu Tak Pernah Menjadi Datar

Pria usia 30-an tahu: cinta, dari awal hingga akhir, bisa dimanipulasi. Entah di ruang tamar apartemen sambil menonton Netflix, di kereta pulang kerja, atau saat menerima ucapan selamat di resepsi pernikahan teman. Dia menatapku. Pasti. Namun ini bukan cinta. Ini beban potensi yang belum teruji. Kompensasi atas perhatian yang tak sempat diraih di masa kecil. Hari ketika Jisoo, cinta pertama di tahun kedua kuliah, tersenyum pada pria lain. Hari ketika wanita yang sekadar bertatapan di kereta turun tanpa menoleh. Semua hari itu melahirkan nafsu kini. Nafsu tatapan pria 30-an bukan sekadar nafsu seksual. Ini ujian: akan ada wanita yang terus menatapku sampai akhir? Ujian yang tak pernah ia lulusi.

Sangam-dong, 14 Hari Milik Park Junho

Park Junho, 33 tahun, PM di perusahaan game. Harinya biasa-biasa saja. Pukul 07:30, pintu keluar 9 DMC Sangam. Saat itulah. Seorang wanita berkemeja bulu hitam menatap punggungnya tajam seperti bisa menembus. Seperti layar ponsel yang tembus pandang.

'Apakah dia kenal aku? Atau hanya...' Wanita itu mendekat. 3 detik, 5 detik, 7 detik. Jantung Junho terbelah dua. Ingin lari. Tapi kaki membeku. Mulut wanita itu terbuka.

  • Maaf… dulu pernah bertemu di Gangnam, kan? Dusta. Junho tak pernah melihat wanita itu di Gangnam seumur hidupnya. Tapi ia mengangguk. Sejak hari itu, selama 14 hari, Junho bertemu dengannya. Di kafe berdinding kaca. Wanita itu tak bertanya apa-apa. Hanya menatap matanya sambil tersenyum. Hari ke-14, wanita itu lenyap. Tanpa chat, tanpa telepon, tanpa Instagram. Seolah pertemuan pertama memang bohong belaka. Junho masih tak bisa melupakan tatapan hari itu. Bukan, ia sengaja tak melupakan.

Incheon, Kejadian Terencana Choi Minjae

Choi Minjae, 35 tahun, manajer di firma akuntan. Ia pria perencana. Selama enam bulan ia sengaja bersinggungan di pintu keluar 2 Stasiun Dongincheon, Jalur 1, pada jam yang sama. Awalnya kebetulan. Namun dari kedua, ketiga kali, bukan lagi. Wanita itu setiap hari di titik sama, waktu sama. Jas hitam, pen di tangan kiri, di kanan selalu Americano hitam. Minjae tak menatap langsung. Ia berdiri pada sudut 45 derajat, mengamati lewat pantulan kaca.

'Hari ini lagi. Menatapku. Atau pura-pura menatapku.' Hari ke-100, Minjae menghampiri.

  • Sepertinya kita sering bertemu?
  • Saya juga. Jawabannya ringan. Seolah 100 hari hening harus berakhir begini. Mereka makan siang. Wanita itu bernama Seoyeon. Sedang menyiapkan ujian advokat. Minjae menceritakan 100 hari pengamatannya. Seoyeon tak terkejut.
  • Saya tahu. Saya merasa tatapan Anda setiap hari. Sejak hari itu, Minjae tak pernah melihat Seoyeon lagi. Tak di pintu keluar 2 Dongincheon. Tak di mana pun. Seolah 100 hari menatap telah habis menyerap mereka.

Di Mana Letak Akar Tabu?

Alasannya sederhana: bosan pada hidup yang sudah terverifikasi. Uang muka apartemen, struktur organisasi, negosiasi gaji, cek kesehatan orang tua. Semua menjanjikan masa depan yang jelas. Tatapan wanita asing berbeda. Ia satu-satunya variabel yang bisa memutar masa depan. Psikolog Esther Perel berkata: "Nafsu melahirkan rasa takut kehilangan." Pria 30-an sudah kehilangan banyak: cinta pertama, masa muda, kepasrahan. Mereka merasa tak ada lagi yang bisa hilang. Itu keliru. Yang sebenarnya bisa hilang adalah bobot segala yang telah mereka bangun. Tatapan wanita asing bisa meringankannya sekejap. Dan ringan itu lalu berubah menjadi obsesi yang tumpul.

Masihkah Kau Menoleh?

Saat ini, di mana kau berdiri? Di kereta pulang kerja, di kamar kos bersama sekaleng bir, atau di tengah lagu selamat ulang tahun teman. Sewaktu membaca, barangkali kau mengingat sorot mata seseorang. Di kereta, di kafe, atau sekadar di jalan. Dan tatapan itu mungkin membuka kemungkinan. Namun ingatlah:

Ketika tatapan itu menyentuhmu, apakah kau sungguh menginginkan cinta. Atau hanya menginginkan potensimu yang belum teruji.

← Kembali