Ujung kaki yang lebih dingin dari dugaan
Tepat pukul sebelas malam. Ranjang two-room Gangnam sudah mendingin. Listrik penghangat dilipat rangkap dua, tapi ujung kakiku tetap seperti balok es hingga aku akhirnya mengenakan kaus kaki. TV mati, hanya ponsel yang memancarkan cahaya biru layaknya hantu.
"Kali ini ranking satu seluruh Asia." Junho tiba sambil membuka pintu masuk. Dasi longgar menggantung di lehernya, ujung jarinya masih terasa seperti terciprat materi presentasi.
Ia melempar jaket dan berkata, "Hari ini aku bertahan karena memikirkanmu."
Entah yang dipikirkan aku, atau aku sebagai pencapaian pribadinya.
Aku diam-diam menarik selimut hingga ke dagu. Seluruh tubuh hendak memanas, namun satu titik di tengah dada tetap membeku.
Aku ingin bibir, bukan ujung kaki
Setelah mandi air panas, Junho masuk ke ranjang. Kulitnya merah kehangatan. Tangan mendarat di pinggangku — hangat. Namun setiap sentuhan bukan suhu yang terasa, melainkan angka: keberhasilan 120% yang diukir tangan ini, tiga perusahaan besar yang tergiur bibir ini, bonus lima puluh juta yang diraih dada ini.
Napasnya mendekat. Saat hembusan itu menyentuh telingaku, aku tak sengaja berbisik, "Hari ini juga mau bercerita soal kantor?"
Junho berkedip. Di matanya bukan aku, melainkan tepuk tangan dari presentasi tadi. "Maaf. Aku hanya senang luar biasa. Semua ini bisa karena kamu ada."
Bukan karena keberadaanmu, bukan karena kau menjaga, melainkan karena aku menjadi ‘bukti’.
Aku perlahan menoleh. Tangan meremas bahuku, tapi ujung jarinya masih berbau AC ruang rapat.
Saat angka menggantikan rasa
Hari ini hari ke-1.095 kami bersama. Seperti merayakan ulang tahun ketiga, angka muncul lebih dulu. Yang ia ingat bukan tanggal kencan pertama, melainkan jumlah halaman ringkasan dokumen hari itu. Ia tak mengingat saat aku pertama kali jatuh cinta, tapi mengingat saat aku membelikan saham sebagai selamat atas promosinya.
"Berkat kamu, aku bisa rayakan promosi pertama dengan mewah." Ia kembali menunjuk grafik performa di ponselnya. Batang merah menjulang, di situ kami melukiskan masa depan. Grafik melonjak, kami semakin merosot.
Yang kucintai bukan kilau matanya, melainkan masa depanku yang tercermin di sana.
Tiba-tiba kusadari: aku bukan mencintai Junho, aku mencintai diriku yang bersinar lewat dirinya. Bukan karena prestasinya, melainkan karena diriku yang bersinar berkat prestasi itu.
Napas panas di atas kulit beku
Malam itu, Junho meniup napas di belakang leherku — panas. Namun panas itu lekas lumer ditelan dingin kulit. Kupegang lengannya — dingin. Semakin sukses, kulitnya kian mendingin.
"Kelelahan. Besok pesawat fajar lagi," katanya, menempelkan dahi di bahuku. Rambutnya menyentuh pipi — lembut, lalu lekas melayang seperti memo tertiup angin.
Aku perlahan mengecup helai rambutnya. Namun masih terasa cahaya gemerlap panggung megah. Aku meraba prestasinya lewat helai rambut itu.
Ranjang tempat prestasi terbaring
Akhirnya aku membelah ranjang menjadi dua. Satu untuk prestasi Junho, satunya lagi untuk diriku. Aku bolak-balik di antara keduanya. Ranjang prestasi Junho gemerlap, tapi ranjangku hening.
"Kenapa tiba-tiba tidur terpisah?" tanya Junho. Di matanya masih terpantau statistik performa.
"Kamu terlalu panas," jawabku. Sebenarnya, panas itu tak pernah sampai padaku — semua untuk prestasi.
Aku bukan ingin prestasinya, aku ingin kulitnya, napasnya, cahaya matanya.
Mencari diri di kedua bola mata
Beberapa hari kemudian, aku menatap mata Junho. Di sana masih tercermin prestasi. Tapi aku berusaha menemukan diriku. Namun prestasi lebih tajam dari aku.
"Aku mencintaimu," ucap Junho. Kata itu terdengar seperti: "Prestasiku mencintaimu lewat dirimu."
Aku ingin percaya, tapi prestasinya lebih nyaring.
Tanya terakhir
Aku bertanya: "Kau mencintaiku, atau kau mencintai prestasimu lewat diriku?"
Junho terdiam. Bola matanya bergetar. Di getaran itu aku menemukan jawaban.
Aku mencintai Junho, tapi Junho tak mencintaiku. Ia mencintai prestasinya lewat diriku.
Aku bukan memilih prestasi Junho, aku memilih ranjangku sendiri. Ranjang prestasi Junho gemerlap, tapi ranjangku hening. Aku memilih mendengar napasku sendiri dalam hening.
Ranjang tak pernah menjadi hangat karena prestasi.
Ranjang hanya menjadi hangat karena cinta.