Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Saat Pintu Lift Menutup Setelah Kencan Pertama, Kita Telah Siap Ditinggalkan

Dalam 0,2 detik pintu menutup, pandangannya membayangkan tiga tahun masa depan kita. Belakang kencan pertama yang tak pernah diceritakan siapa pun.

kencan pertamamomen takdirpenolakan bawaanpermainan batinnafsu dan ketakutan
Saat Pintu Lift Menutup Setelah Kencan Pertama, Kita Telah Siap Ditinggalkan

0,2 Detik Pintu Menutup

“Hari ini sangat menyenangkan.” Sambil mengucapkan itu, Yujin sudah mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Cahaya layar yang menyala mengelus dagunya. Aku masih berdiri di depan pintu, sementara Yujin menekan tombol panggil lift dua kali berturut-turut.

Antara kami 1,5 meter. Jarak ini adalah sisa etika terakhir kencan pertama, sekaligus tembok yang akan memisahkan kami selamanya.

Saat pintu terbuka, gadis itu tak menoleh lagi.


Sisa Nafsu

‘Apa yang salah, ya? Senyumku? Aromaku? Atau dia melihat aku mengeluarkan dompet dari saku belakang saat membayar?’

Kita tak pernah selesai bertanya. Bahkan setelah bulan atau tahun berlalu, kita masih mengingat rasa lidak yang bertaut atau suhu kulit yang tersapu, lalu terus menganalisis apa yang keliru.

Itu bukan sekadar mencari kesalahan.

‘Kalau aku tahu kenapa aku ditolak, bisakah aku menghindarinya lain kali?’

Sejak awal kita sudah siap ditinggalkan. Maka, bahkan saat mata bertemu, kepala bergemar: ‘Orang ini pasti akan pergi suatu saat.’

Setiap senyuman di awal pacaran sesungguhnya hanya latihan pementasan akhir yang samar.


Cermin Seungheon

Seungheon, 31 tahun, Art Director di sebuah agensi iklan. Ia ingat kencan pertamanya dimulai pukul 19.00, 19 April, di Playseum, Itaewon. Lawan bicaranya, Jia, yang bekerja di agensi model.

Setelah gelas keempat dikosongkan, Jia mengulurkan lengan dan menepuk punggung tangan Seungheon dua kali.

‘Ini sinyal bagus.’ Seungheon menghitung dalam hati.

Saat itu, pupil Jia memantulkan notifikasi ponsel berwarna keemasan. Ia mengecek sekilas, lalu tersenyum.

‘Balasan untuk siapa, ya?’

Ketika tagihan datang, Jia lebih dulu menyerahkan kartu.

  • “Saya bayar.”
  • “Eh, biar saya—”
  • “Lain kali saja, ya.”

Lain kali. Kata itu menjanjikan masa depan sekaligus menunda kini dengan tenggat.

Di luar, Seungheon hendak menggenggam tangan Jia, lalu menahan diri. Jia menaiki taksi sambil menatap wajah Seungheon cermat untuk terakhir kali.

Pintu tertutup, dan di balik jendela, Jia menelepon nomor tak dikenal.

Seungheon mengingatnya hingga ke bawah tanah stasiun.

Sebulan kemudian, Seungheon tak sengaja menemukan SNS Jia. Di sana, di sampingnya, lelaki yang tadi malam menerima telepon.


Mencuri Masa Depan

Dalam pertemuan pertama, kita mencuri masa depan seseorang.

Kira-kira parfum apa yang akan ia semprotkan esok, kafe mana yang akan ia singgahi, bersama siapa ia akan tertidur—mengukur semuanya adalah hak istimewa yang kejam.

Kita tak tahu apa-apa, namun hidup dengan keyakinan ‘dia akan memilihku’ atau ‘aku akan tersisih darinya’.

Psikolog menamakannya rantai penolakan bawaan. Ketidakcocokan halus, selisih suhu aroma, selisih 0,1 detik tatapan—semua tertimbun di kepala, membuat kesimpulan: ‘sebentar lagi aku akan ditinggalkan.’

Karenanya, kita berlatih mengakhiri cinta sebelum sempat mencintai.


Kau di Peron Bawah Tanah

Kini, kau pulang dan memulai hitungan mundur.

‘Apa yang dipikirkannya dalam perjalanan pulang?’ ‘Bisakah lelucon terakhirku terdengar klise?’ ‘Seandainya tadi aku menciumnya…’

Dalam 0,2 detik pintu menutup, kau sudah membayangkan tiga tahun lagi. Foto pernikahan kalian tertawa. Atau skenario lebih nyata—tiga minggu lagi dia mengirim pesan: ‘kita berteman saja ya’.

Karena kau sudah mengira hal itu, ketika pesan itu benar-benar datang, kau tak terlalu terkejut.

Itulah yang lebih menyedihkan.


Pertanyaan Terakhir

Saat kencan pertama usai dan pintu menutup, apakah kau mencintainya?

Atau kau hanya berjuang agar tak ditinggalkan, dan mengejang di atas usaha itu?

← Kembali