Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Bayangan Putri Buatan AI, Ayah 55 Tahun Gemetar di Depan Pintu

Satu foto sintetis AI membelah pandangan ayah bernama Kim Hyun-soo. Apakah dia melihat ‘ayah’ atau ‘laki-laki’? Bayangan di balik putrinya kini tak lagi terperangkap di layar.

sintesa AIetika keluargatatapan ayahpandangan tersembunyibayangan digital
Bayangan Putri Buatan AI, Ayah 55 Tahun Gemetar di Depan Pintu

7 Detik Tak Bernapas, Layar Hitam di Meja Makan

Kim Hyun-soo memegang sumpit di udara. Di atas meja sarapan yang diselimuti cahaya pagi, sebuah tablet tertutup, layarnya mati. Di permukaan gelap itu tercermin wajahnya yang pucat dan siluet Ji-woo yang menghampiri dari belakang.

Pagi ini, satu tautan di DM Instagram. Hanya satu baris: ‘Ini benar putri Anda?’ Sebelum diklik, kiriman itu tampak spam biasa. Namun begitu berkas terbuka, paru-paru Hyun-soo mengeras seperti pil. Di dalam layar terdapat wajah putrinya, namun di bawahnya terselip ekspresi yang tak pernah dilihatnya. Senyum yang terlalu manis, kepala setengah menoleh dengan pandangan ke tempat yang tak jelas—itu bukan Ji-woo. Tapi juga Ji-woo.


Mata Seorang Ayah, Bukan Mata Seorang Ayah

Hyun-soo membalikkan tablet. Layar tak padam. Pupilnya yang tercermin di kaca gelap berlipat dua, dan di dalamnya tampak wajah putri tersenyum. Untuk pertama kali ia merasa pandangannya terbelah dua.

Sisi ini adalah mata seorang ayah. Sisi itu adalah mata seorang laki-laki. Yang terjepit di antara keduanya adalah siluet gelap satu. Selama 25 tahun siluet itu mengeras dengan nama ayah. Tapi kini, satu bayang buatan AI mengguncangnya. Hyun-soo tersadar: ia bahkan belum pernah melihat ‘satu bayang pun’ milik putrinya dengan benar.


Duduk di Tutup Kloset, Malam Jin-hyuk yang 52 Tahun

Lee Jin-hyuk (nama samaran, 52 th.) duduk di tutup kloset kamar mandi kantor. Di dalam bilik sempit, lampu neon berkedip seperti kelopak biru. Ia mengeluarkan ponsel. Dalam layar hitam, wajah putri tersenyum di bawah cahaya bulan asing. Ia menggoyangkan layar dengan jari. Senyum itu tak bergoyang.

‘Siapa yang membuat ini…’ Setelah menyelidiki, ia bertemu pria 20-an pembuat gambarnya. Di minimarket depan apotek, di bawah lampu, pupil si pemuda berlapis neon. Di situ juga terdapat bayang gelap yang bergerak. Selama satu jam Jin-hyuk terdiam, lalu melontar satu kalimat: “Kalian punya anak perempuan nanti, baru tahu.” Pemuda itu hanya mengangguk. Anggukan itu bukan ‘mengerti’, melainkan ‘saya juga tak tahu’. Saat itu Jin-hyuk paham kenapa ia tak sanggup membunuhnya: bayang dalam mata pemuda itu barangkali adalah dirinya di masa depan, sebuah konspirasi yang tak terucap.


USB Tersembunyi, Gembok Ganda Sang Ayah 48 Tahun

Park Seong-woo (nama samaran, 48 th.) diam-diam men-download tiga foto AI putrinya lagi. Ia menyimpannya dalam USB hitam di balik laci kamar, lalu menghapusnya dari desktop. USB itu dikunci rangkap: kunci pertama kata sandi komputer, kunci kedua mantra di pikirannya: ‘Ini bukan putriku’. Namun setiap kali ia melihatnya sendirian, mantra itu terbaca terbalik. Sambil bergumul ‘ini bukan putriku, hanya AI’, pandangannya justru makin menelusup jauh. Rasa penasaran terdengar seperti tawa tertahan di balik pintu terkunci.

Lahirnya Sensor, Di Balik Nama Ayah

Kamu putri siapa, sebenarnya? Tabu selalu bermula di dalam ayah. Ayah adalah sensor pertama di dunia. Sejak anak perempuan lahir, ia menarik batas ‘ini tak boleh dilihat’. Batas itu mengeras seiring waktu, tapi juga kian tembus pandang. AI memantulkan batas tembus pandang itu seperti cermin. Cermin tak pernah berkata benar. Cermin hanya mengembalikan wajahmu. Para ayah zaman kini berperang ganda: satu melawan bayang yang mereka lihat, satu lagi melawan bayang yang mereka sembunyikan. Di antara kedua bayang itu, nafsu ayah tersembunyi. Bukan sekadar birahi, melainkan ketakutan saat ‘milikku’ menjadi ‘milik orang’, bercampur geliut yang sama menusuknya.


Kalimat Terakhir, Kau di Depan Pintu

Kau berdiri di depan pintu. Di bawah telapak kaki yang bungkam, sesuatu bergetar. Bayang buatan AI tak terkurung di layar; ia telah terukir dalam bola matamu. Kini, setiap pagi saat putrimu bertanya “Pagi ini aku pakai apa, ya, Pa?”, tatapanmu memegang kenop pintu sambil gemetar.

Terpejam pun bayang tak lenyap. Terbuka pun mata seorang ayah tetap terkatup. Itulah perang paling sepi yang harus dihadapi para ayah di zaman ini.

← Kembali