Teks terakhir yang ia kirim Pukul 16.17. Tiga hari sudah ia menghilang. Maaf, rasanya kita sudah selesai. Aku tiba-tiba merasakannya. “Rasa” satu kata ini menutupi jantungku dengan plester semen. Aku masuk-keluar ruang chat sebanyak dua belas kali. Salah baca, barangkali. Atau mungkin terkirim karena kecelakaan. Layar mati, aku muncul di kaca cermin: bibir mengeras, mata kosong. Kalimat tiba-tiba merasakannya mungkin hanya eufemisme untuk kamu membosankan; pikiran itu merayap di tenggorokanku.
Bedah nafsu Sebenarnya… Aku tahu kita telah usai. Saat ia mencubit hongeo di pesta kantor dan mengerutkan hidung, tiba-tiba aku meraba: ‘Ah, orang ini punya sisi yang kelak akan memuakkan.’ Tapi aku tetap melaju. Kenapa? > Menjadi “diri yang tak kunjung selesai” berarti percaya bahwa aku baru ada kalau cinta yang padam bisa kunyalakan kembali. Setiap mur kecil longgar dalam pacaran, aku buru-buru seperti anak kecil merangkai puzzle perasaan. Salah? Bongkar lagi, pasang lagi. Fakta usai memang sepele bagi yang sudah bosan, tapi bagiku ia sisa-sisa hangat yang kemarin masih dekat. Jadi saat akhirnya kutelan kenyataan, aku berdiri lagi di atas bangkai hubungan yang sama.
Dua kisah nyata yang terdengar fiksi
1. Hari Yuri di kereta bawah-tanah jalur 2 Yuri berusia dua puluh. Pulang kerja setelah magang, ia duduk di tangga bawah tanah, menangis sepuasnya. Beberapa pekan “almost” dengan senior kantor habis sekadar coretan satu baris. Mulai hari ini aku makan siang dengan Dongho. Kamu cepat cari pasangan ya. Ia melipat memo itu, menyimpannya di dompet. Lalu menatap tak berujung ke arah kaki orang-orang yang turun tangga. Setengah jam berlalu, tiba-tiba ia menggenggam ponsel, membuka foto pertama Dongho, menekan layar. Screenshot, simpan, ulang. “Ini catatan buatanku,” bisiknya. Malam itu hingga pukul 03.00 ia menjelajah timeline Dongho dari paling belakang. Tak pernah menekan like, tapi setiap foto baru ia unduh diam-diam. Yuri mengoleksi cerita cinta yang hanya hidup di titik selesai buatannya.
2. Kartu ulang tahun Jun-su, 33 tahun Jun-su tiba-tiba ditinggal kekasihnya, Min-jeong. Alasannya klise: “Kamu terlalu baik, aku merasa bersalah.” Ia berpura-pura tak terluka, tetapi tiap 5 Juni ia pulang membawa sepotong kue. Satu lilin dinyalakan, dibiarkan meleleh sambil menengok kartu ulang yang pernah ditulis Min-jeong. Selamat ulang tahun! Terima kasih tetap jadi orang baik. Kalimat itu menghantuinya. Permintaan ‘tetap jadi orang baik’ sejatinya vonis: aku bisa berubah, kamu tidak. Jun-su memasukkan kembali kartu itu ke amplop setiap tahun, memperingati tanggal kadaluarsa cintanya. Walau Min-jeong sudah menjalin asmara baru, ia tetap mengirim karangan bunga tanpa nama. Di kartu pengirim selalu kalimat sama: Hingga di sini, 5 Jun milikmu.
Kenapa kita tak kunjung selesai Alasannya sederhana: Obsesi adalah perawatan terakhir atas kehilangan. 1. Tudingan terhadap diri: Perulangan ‘andaikan saja dulu aku lebih baik’ sejatinya menolak melihat bahwa masa depan memang tak dapat diubah. 2. Kenyamanan pengulangan: Mengulang kisah usai memberi satu-satunya doa untuk menatap diri sendiri yang tak kuat berpamitan. 3. Ingatan tubuh: Suhu kulit yang bergetar, hembusan napas, cahaya mata yang gemerlap—tubuh mengingat lebih dulu dari otak. Dengan menggenggam cinta mati, kita menjaga diri yang tak kunjung mati. Maka kata ‘berhentilah’ sering kali berarti ‘lepaskan aku, bukan dirimu’.
Pertanyaan terakhir Ketika ia berkata sudah selesai, di manakah kau akan mengubur diri yang belum terima akhir?
← Kembali