Kesalahan pertama, kata yang tumpah dari ujung lidah
"Lenganmu kenapa begitu?" Sujin bertanya sambil menghembuskan napas. Aku ingin menarik lenganku, tapi ia sudah terjepit di antara kedua pahanya. Lengan mati rasa, aku menoleh dan selimut terlepas meluncur ke bawah. Maaf terucap dalam hati, tapi yang terlontar hanya dalih. "Ah, aku memang tak pandai menata lengan. Selalu saja..."
Tubuhku tak bisa berbohong
Bukan lengan, seluruh diriku memang canggung. Setiap bulan meremas ranjang, kenangan itu kembali. Sesudah sekolah menengah, lorong belakang gym, saat pertama kali aku bergandengan tangan dengan teman. Keringat di punggung tangan, jari yang tak karuan. Mungkin sejak saat itulah. Ketakutan bahwa gerak tubuhku akan mengecewakan harapan orang lain tertulis di kulitku.
Dewasa, setiap kekasih membuat hening kecil. Mereka berkata, "Santai saja," namun kalimat itu justru menjadi jerat. Tuntutan untuk menjadi natural melahirkan kekakuan yang lebih besar.
Ia pura-pura tak tahu
Minseo memejamkan mata, mengelus punggung tanganku. "Tak apa, ikuti saja gerakmu." Kata itu justru memenjarakanku. Tanganku bingung hendak kemana. Napasnya menyentuh cuping telingaku, bahuku menggigil. Minseo tertawa. "Tahukah, gelagatmu gemas sekali?"
Bukan gugup. Itu penyesalan. Dentuman dalam diri, ‘Mengapa aku tak berbakat?’ memukul dada. Mungkin ia menutup mata agar tak melihat gemetarku. Minseo menemukan bibirku tanpa membuka mata, aku menyentuh keningnya tanpa sanggup melihat.
Ranjang lain, kesalahan sama
"Hei, lidahmu terlalu tergesa-gesa," Junho berkata dengan sebelah mata terbuka. Nada yang sungguh berbeda dengan Minseo. Sindiran tajam, lalu senyum sekejap. Wajahku panas. Ketika aku membeku, Junho langsung melembut. "Bukan salah, hanya... kau terlalu memaksakan diri."
Malam itu ia bertanya, "Kenapa mulai dari sini?" Aku tak sanggup menjawab. Hanya ingatan akan ‘trik’ yang kulihat dari internet. Menyentuh tubuh orang, kukira, semudah mengikuti peta yang dihafal. Junho menorehkan bintang kecil di punggung tanganku dengan pulpen. "Mulai dari sini boleh. Atau dari mana saja sesukamu. Besok boleh berubah lagi."
Sampai bintang itu pudar, kami diam seribu bahasa.
Mengapa kita tergila-gila pada kecanggungan
Psikolog Roy Baumeister bicara tentang ‘paradoks harga diri’. Manusia menginginkan performa sempurna, tapi juga tergoda oleh ‘cacat’. Gerak canggung adalah bukti kekurangan, sekaligus tabu yang membuat pasangan merasa bisa ‘menaklukkan’ kita.
Salah urut menyingkap isi hati. Pesan, ‘Aku masih belajar.’ Transparansi itu memberi gairah yang lebih melekat ketimbang kepandaian. Pada akhirnya, kita terpikat pada ketidaksempurnaan.
Dengan mata terpejam
Beberapa hari lalu, seseorang yang baru kukenal bertanya. "Kenapa tak membuka mata?" Aku menjawab dengan menoreh bintang di punggung tangannya, seperti ajaran Junho. Ia berbisik, "Selama kau pejam, aku mendengar tubuhmu bicara."
Andai saja aku membuka mata, mungkin aku malah kembali canggung. Dengan mata tertutup, aku mengeluarkan suara paling panas: helaan napas, gemetar, dan satu desah yang tak sempat kusembunyikan.
Aku memang belum pandai. Lengan kusut, napas kasar. Lalu kenangan paling jelas setiap putus tak pernah saat-saat cekap, melainkan ujung jari yang tersekut?
Kau buka atau pejam malam itu
Tadi malam di ranjang, apa yang paling menusukmu. Kelihaiannya, atau ruang kecil yang lahir dari ketidakmahiranmu. Mana yang lebih membarakanmu?