Ketika aku pertama kali membuka mata sambil tergeletak di atas perut Sujin, sudah ada noda di sana. Bekas operasi samar tampak di antara celana dalam putihnya. Sebuah gurat pendek, hanya 6 cm, menurun ke bawah, dan kulitku lebih cepat daripada akal sehatku mengingat bahwa tanda itu menetapkan tubuhnya sebagai raga yang tak mampu melahirkan. Malam itu, menjilati bekas luka itu, aku berkata:
"Ini, aku akan sembunyikan. Takkan ada yang melihat."
Dia memejamkan mata. Aku berbohong. Karena sesungguhnya aku mengingat bekas luka itu sebagai sekadar rintangan. Sebuah selundupan aturan Tuhan: di tempat tali pusar seseorang terputus, tali pusar baru tak bisa terjalin.
Malam setelah pesta kantor, begitu membuka pintu, aku langsung mencium aroma Sujin. Aroma baik. Aroma samar sampo yang tak bergairah, dan bau handuk lembab. Dia duduk di sofa, dan aku menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya. Namun ketika aku mengangkat kepala, aku mencium bau anak di sana. Atau lebih tepat, kekosongan yang tak kutemukan merayap naik dari perutku.
"Hari ini, ada acara TK. Manajer Dongho datang dengan anaknya."
Aku tak menjawab, hanya menyerap suhu tubuhnya lebih dalam. Tetapi panasnya sudah mereda. Aku lebih dulu merasakan fakta bahwa aku menginginkan seorang anak daripada merasakan suhu tubuhnya.
Jam makan siang di kantor, aku bertemu manajer Dongho di tangga lantai tujuh. Dengan bangga ia menunjukkan foto anaknya di ponsel. Seorang bocah perempuan berusia enam tahun berbaju hijau, melambaikan jari V ke kamera.
"Anak saya, acara olahraga terakhir di TK. Kakak cepatlah..."
Aku tersenyum masam. Sesuatu yang tak bisa kumiliki tersenyum lebar di depan mata. Saat itu, aku teringat bekas luka Sujin. Keyakinan bahwa garis pendek itu akan memutuskan DNA-ku lebih tajam daripada foto anak di hadapanku.
Malam itu, di tubuh Sujin, aku memejamkan mata. Ia belum tahu bahwa aku bukan melayang di atas tubuh seorang istri, melainkan melayang di atas ketidakmungkinan. Aku menempelkan telapak tangan di perutnya, memastikan bahwa takkan ada apa pun tumbuh di sana. Lalu kekosongan itu, justru kujelajahi dengan kasar.
Sebulan kemudian, aku meminta penempatan ke Jepang kepada Kepala HR. Aku berbohong: konon untuk terapi di luar negeri karena masalah kesehatan istri. Faktanya, aku menuruti perintah genetik untuk meninggalkannya. Saat mengeluarkan berkas, aku sudah menjadi pengkhianat.
Sujin melihat koporku dan bertanya:
"Bagiku?" "...Bisa jadi ikut, bisa jadi tidak."
Dia mengerti. Bahwa "bisa jadi" adalah eufemisme "tidak". Kami menembus titik lemah satu sama lain: dia tahu aku memandang tubuhnya sebagai cacat, aku tahu dia memandangku sebagai kesempatan.
Di dalam pesawat, aku menatap lampu kota Seoul di luar jendela. Lampu-lampu kompleks apartemen berkelap-kelip. Di setiap jendela, tangisan, tawa, keriuhan hidup merembes. Baru saat itu aku sadari: cinta saja tak cukup. Aku mencintai Sujin bukan hanya di atas tubuhnya, melainkan di atas keterbatasan tubuhnya. Dan keterbatasan itu menghadiahkanku masa depan tanpa anak.
Sesaat sebelum lepas landas, aku mengeluarkan ponsel. Kutulis pesan terakhir untuk Sujin:
"Aku menginginkan anak. Tanpa dirimu."
Tak kukirim. Sebaliknya, aku teringat bekas lukanya. Fakta bahwa garis pendek itu akan memutus DNA-ku. Aku mencoba mengubah kenangan tubuhnya yang kupandang sebagai noda menjadi takdir. Ketika pesawat melaju di landasan, aku tiba-tiba bertanya: saat kita pergi karena tubuh orang yang kita cintai tak mampu melukis masa depan yang sama dengan kita, apakah kita menjadi monster? Ataukah manusia memang telah menjadi monster sejak awal?
Akhirnya, menurut perintah gen, aku berbalik pergi. Malam aku menyerbu ke ranjang setelah tahu Sujin mandul, aku sudah menjadi noda yang kugoreskan pada tubuhnya.