Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Istriku Menidurkan Suami Sepupunya, dan Tempat Tidur Menahan Napas

Ia menutup mata pada perselingkuhan, kini ranjang justru membara. Api birah kembali menyala di atas luka pengkhianatan.

perselingkuhancemburuhubungan suami istrithriller psikologisapi kembali menyala
Istriku Menidurkan Suami Sepupunya, dan Tempat Tidur Menahan Napas

Bantal yang Jatuh Berkata, ‘Ini… siapa?’

Junhyeok hanya membuka pintu sepenggal. Di balik kelambu musim panas yang tergantung ala kadarnya karena alasan gerah, tercium bau asing. Di antara helai rambut istrinya, Jieun, jari-jari tak dikenal meliuk perlahan. Di ujung jari itu tidak ada cincin pernikahan yang berkilau. Seharusnya ada di tempat yang kini kosong.

‘Masuklah.’ Jieun berbisik dengan suara serak. Pintu tak ditutup. Junhyeok mengangguk. Saat itu, ia justru seolah menantikan kesempatan ini.


Seperti Hinaan yang Terbakar

Sejak saat itu Junhyeok tak pernah bertanya apa-apa pada Jieun. Ia justru kembali. Usai dua pekan dinas luar, begitu menginjakkan kaki di teras rumah, bau asing tercium di ujung hidung, namun bibirnya tetap terkatup. Saat Jieun keluar dari kamar mandi, ia membalikkan pundaknya dengan kedua tangan.

Jangan minta maaf, ucap Junhyeok lebih dulu. Tak ada yang berubah dengan kata itu, malah… rasakan lebih dalam.

Tempat tidur menahan napas seperti hendak terjungkal. Selembar sprei kusut, ujung selimut meluncur ke lantai. Malam itu, mereka saling memanggil bukan dengan nama, melainkan hanya ‘kamu’. Dalam satu kata itu tercampur siluet suami, siluet istri, siluet perselingkuhan.

Tapi kenapa, mengapa di atas luka itu api justru membakar lebih dahsyat?


Tiga Kebenaran

Kasus 1. ‘Sejin’ dan ‘Dohyun’

Sejin mengetahui sebulan lalu bahwa suaminya, Dohyun, telah melangkah lebih jauh dari sekadar pesta malam bersama rekan kerja ‘Chaewon’. Buktinya: satu tangkapan layar KakaoTalk dan aroma ‘Bleu de Chanel’ yang tersisa.

Ia hanya berkata satu kalimat ketika membangunkan Dohyun. “Aku akan lakukan serupa.”

Sejak itu tiap Rabu, Sejin mengajak pulang mantan kampus ‘Hyunwoo’ (30 th, kulit jambangan pasca-proyek Jakarta) ke rumah. Hyunwoo menghisap rokok di balkon, Sejin menatap pantulan mata Dohyun di cermin kamar mandi. Akhirnya, ketika Dohyun mendorong pintu, Sejin tengah menempelkan wajah di lekuk leher Hyunwoo. Tempat tidur goyah—dan di atas goyangan itu Dohyun menindih Sejin. Tak ada yang ingat siapa lebih dulu.

Kasus 2. ‘Minjae’ dan ‘Yuri’

Minjae menangkap pesan mantan pacar Yuri, ‘Seokjin’, yang berisi emoticon ♥ terlalu manis. Ia diam. Ketika Yuri mandi, ia menyebar foto yang dikirim Seokjin—foto Yuri di tepi pantai tempo dulu—di ruang tamu.

Ketika Yuri keluar dan wajahnya memucat, Minjae mencengkeram pergelangan tangan Yuri dan menyeretnya ke kamar. Ia membangkitkan bayangan Seokjin dalam diri Yuri, dan membangkitkan dirinya sebagai Seokjin di matanya. Di antara luka masing-masing, mereka mencium dengan sangat hati-hati—sehingga menjadi lebih ganas.


Mengapa Kita Membara Lebih Dahsyat di Atas Luka

‘Dia menodai aku, maka aku pun akan menodainya’

Ahli psikologi menyebutnya ‘pembakaran cemburu’. Cemburu bukan sekadar emosi merusak; ia adalah kompas birah yang bengkok. Saat istri tahu suami berseling, keputusasaan ‘aku tak bisa memiliki lagi’ berubah menjadi klaim ‘aku juga bisa memiliki’.

Saat itu, birah berubah menjadi racun, racun pun melahirkan birah kembali. ‘Re-ignition’ ini membuktikan: meski kata maaf terucap, tubuh tak pernah melupakan. Bagian yang terluka paling peka. Untuk membuktikan kepekaan itu, suami istri menjangkau satu sama lain lebih dalam, lebih tajam, lebih asing. Mereka mengonsumsi diri dalam cara baru di atas jejak orang ketiga.


Setelah Malam Api Menyala di Ranjang

Junhyeok dan Jieun kini setiap malam menulis ulang kaidah di atas tubuh masing-masing. Perselingkuhan bukan dimaafkan, melainkan ditumpuk sebagai bahan bakar baru—seperti dinding kamar sebelah.

Kadang Jieun memejamkan mata, berpura-pura mencium ‘Jaehun’, suami sepupu malam itu. Junhyeok membuka matanya, menatapnya, berbisik.

“Jieun-ah, kamu… kini sepanas aku.”

Perkataan itu bukan penghiburan, hanya pernyataan. Kita akan terbakar bersama, lalu bangkit kembali dari abu. Walau ranjang serasa meleleh oleh panas, sumber panasnya tetap perselingkuhan malam itu, pengkhianatan itu, kemarahan itu.

← Kembali