“Kancing yang pertama terbuka.” Saat Ji-won berkata begitu, aku menatap stroberi yang tertancap di wastafel. Daging merah itu berkilat di bawah aliran air. Jari yang menggenggam satu buah gemetar kedinginan.
“Terus?”
“Terus… yang kedua, ketiga, ikut terbuka.”
Suaranya semakin menipis. Setiap kancing yang lepas meninggalkan desir sutra yang hidup di telingaku. Ku tutup keran dan bersandar pada wastafel. Aroma stroberi menggelitik hidung, seolah-olah sebentar lagi akan meresap ke ruangan lain, ke cahaya lain.
Gemetar pertama: itu bukan sekadar amarah
‘Kenapa aku tak marah?’ Tanda tanya itu kecil dan keras bagai biji stroberi yang tersisa seharian di ujung lidah. Sepantasnya aku marah. Tapi jantungku menerjang seperti ombak panas.
Malam itu, di bawah cahaya lampu tidur, aku memilin sehelai rambut Ji-won. Kadang aku ingin berhenti. Tapi ujung jari terus mengikuti lekuk barunya. Di titik yang sudah dilihat orang lain, jari-jariku gemetar meluncur. Saat itu kusadari: getaran ini bukan kemarahan.
Peta nafsu: apa yang ‘dia’ lihat
“Dia menekan kancing mantelku satu per satu,” kata Ji-won. “Setiap kali kancing hitam itu mengkilat tepi perak, napasnya tersengal.”
Yang dilihatnya bukan pakaian. Lipatan dalam mantel krem yang kuberikan sebulan lalu, aroma musk yang Ji-won semprot tadi malam—semua dijelajahnya kembali. Ia sedang membaca kembali pemandangan yang sudah kukenal. Tempat yang tadinya biasa saja terlahir kembali di mata baru.
Dua kisah yang terasa nyata
Yuri dan Jung-woo
Yuri, 29, perancang mode. Di klub ia meminta lelaki asing menurunkan resleting jaket kulitnya. “Begitu suara gigi pertama terdengar, aku menarik napas tanpa sadar.”
Jung-woo keluar-masuk koridor kantor seharian. Cangkir kopi di tangannya tak henti-hentinya bergetar. Kata Yuri, “Setiap kali resleting turun, dia mengetuk meja dengan punggung tangan. Klik, klik, klik.”
Bunyinya panjang dan samar. Jung-woo menutup telinga, tapi getaran itu merayap naik ke lengannya. Tubuh Yuri yang biasa dijamahnya kini berubah menjadi peta baru setiap kali sorot lain menerpa.
Min-seo dan Seong-hyun
Min-seo dan Seong-hyun sudah menikah tiga tahun. Suatu malam Min-seo berkata, “Kami tak melakukan apa-apa. Cuma… berciuman.”
“Bibirnya?”
“Dia yang mendekat duluan.”
Seong-hyun membayangkan udara yang menyap bibir Min-seo. Manis, tapi bersuhu asing. Kemarahan mendidih, tapi lalu bercampur sesuatu yang mengalir di seluruh tubuh. Bibir Min-seo malam itu terasa punya rasa baru yang sensasional.
Kenapa kita gemetar
Otak manusia tajam paling tajam saat ia harus menjaga sesuatu yang sudah dimiliki. Tatapan orang pada pasanganku menimbulkan sinar baru pada nilainya. Bersamaan, aku terhanyut pada desakan untuk memperolehnya sekali lagi.
Saat rasa milik bertemu ketakutan kehilangan, jari gemetar. Psikologi menyebutnya arousal kompetitif. Semakin banyak yang menginginkan, obyek itu semakin bersinar. Karena silaunya, kita ulurkan tangan sekali lagi.
Pertanyaan terakhir
Setelah Ji-won tertidur, aku duduk di samping tempat tidur, mendengar napasnya. Dadanya pasti bergetar juga di bawah tatapan lain. Dan getaran itu kembali menarikku ke sisinya.
Jika wanitamu mengatakan ia dengan hati-hati membuka kancing di depan orang lain, apakah gemetar di ujung jari itu kemaruan, atau awal dari rasa milik yang baru?