Kuncinya sudah ada di genggamku 02:14. Chat Min-jun berkedip. "Aku di luar, boleh naik?" Aku belum buang rias, rambutku masih lepek keringat. Tapi jari ini sudah mengetik kode pintu. Kenapa buru-buru sekali? ada suara berbisik, namun aku menahan napas di ambang. "Masuk." Min-jun melangkah tanpa menanggalkan sepatunya dengan rapi. Suhanya—campur bau alkohol dan keringat—menyapu kulitku. Tak sepatah katapun. Bibir bertemu, tangan melingkar pinggangku. Kancing kemeja melompat, beradu ke kaca. Saat itu, aku hanya berpikir satu hal. Ini terakhir. Sungguh terakhir. --- ## Mengapa kita ingin saling menghancurkan? Kebengisan terbesar seks kasual bukan soal saling "menyewa" tubuh, tapi saling menukar harapan. Kau berkali-kali menegaskan tak mengharap apa-apa, tapi begitu pintu tertutup, mengapa dada ini tiba-tiba kosong? > "Aku cuma butuh tubuhnya, tapi kenapa dadaku sepi?" Kita berusaha menjadikan satu sama lain perkakas. Emosi yang tak terjangkau hendak digantikan oleh tubuh basah keringat. Tapi manusia tak sesederhana itu. Alasannya Eun-jin terus meraba rahang Min-jun dalam gelap bukan cuma karena sentuhan. --- ## Eun-jin, 29, ia buka pintu dua kali Eun-jin tidur dengan Seok-jin—teman klub—hari ketiga mereka bertemu. Hari pertama minum, kedua nonton, ketiga di kasur kost Seok-jin. "Kita santai saja, ya?" kata Seok-jin, ia mengangguk. Tapi dalam hati: Mungkin ini awalnya? Satu bulan, seminggu dua kali. Usai bercinta Seok-jin selalu berkata, "Aku ada kerjaan subuh…" Awalnya Eun-jin maklumi. Startup memang sibuk. Tapi suatu hari di grup klub muncul foto Seok-jin gandeng tangan perempuan lain. Lokasi sama, jam sama. Tiga jam setelah Eun-jin meninggalkan kost itu. > "Kenapa aku marah? Kan kita memang tidak serius." Malam itu, di kamar mandi, Eun-jin tersedu lalu mengirim chat: ‘Hari ini saja, ketemu lagi ya?’ Dan lagi, ia berdiri di depan kost Seok-jin. --- ## Second-round pick-up, lalu cara melupakan Hyeon-su dan Seo-yeon. Di klub Hyeon-su langsung menghampiri. "Aku ingin bercinta denganmu." Awalnya ditolak, tapi keterus-terangannya menyegarkan. Seo-yeon baru putus cinta panjang; ia ingin tubuhnya lupa dulu. Tanpa kontrak, hubungan itu bertahan enam bulan. Hyeon-su selalu menyiapkan kondom saja—isyarat tak akan berbagi perasaan. Tapi saat Seo-yeon flu dan tak muncul, Hyeon-su berdiri di depan rumahnya. "Kenapa tak keluar?" Ia memeluk Seo-yeon di ambang. Seo-yeon berbisik, "Kita… nonton film seperti teman biasa saja?" Wajah Hyeon-su mengeras. Ia mundur. "Itu tak termasuk dalam perjanjian kita." --- ## Mengapa tabu terasa manis? Rangsangan terkuat seks kasual adalah larangan. Kita salah paham bahwa tak dimiliki siapa-siapa itu kebebasan. Nyatanya sebaliknya. Dalam ilusi tak mengharap apa-apa, kau diam-diam meminta lebih. Psikolog menyebutnya ketimpangan pengorbanan-ganjaran. Yang kau beri membengkak, yang kau terima tetap atau mengecil. Agar tak mengakuinya, kau membohongi diri: Aku memang tak mengharap begini. --- ## Saat pintu tertutup, barulah semua dimulai Jadi, seks kasual akhirnya membuatmu lebih rugi. Bukan soal waktu atau emosi, tapi harga diri—keyakinanmu bahwa aku tak akan terluka—yang paling terpukul. Setelah Min-jun pergi, aku hampir merobek seprai. Bekas kancing kemeja masih terpaku. Kenapa aku sebal ini? Aku membuka pintu untuknya, tapi saat pintu tertutup pintu untuk diriku sendiri tak ada yang membukakan. --- ## Apa kau benar hanya memberi tubuh? Saat ini juga seseorang tengah membohongi diri dengan kata ‘sekali ini saja’. Tapi lihat hp di meja samping ranjang—tak berdering sama sekali—masihkah kau percaya itu hanya soal tubuh? Kalau begitu, kenapa kau masih berdiri di depan pintu?
← Kembali