―"Kenapa sushi-nya begini bentuknya? Chef kalian sudah berapa tahun pengalamannya, sih?"
Suara gadis itu meluncur tajam, menembus lampu restoran lalu menjatuhkan diri ke udara.
Irisan salmon asap yang tersaji di atas meja marmer—seperti halaman depan yang terbentang luas—belum tersentuh, tapi mulutnya sudah lebih dulu bergerak.
Aku melihat bibirnya yang kemerahan seperti anggur gelap bergetar.
Dibalik getaran itu tersembunyi kegembiraan yang samar.
Untuk sesaat, fokusnya bukan padaku, melainkan pada pelayan berambu putih yang tertunduk.
Dengan dalih sedang makan, aku menenggelamkan pandang.
Ia lantas berbisik pelan:
"Kau tak tahu, sulit sekali menemukan orang yang benar-benar bekerja dengan semestinya."
Saat gelas transparan dijatuhkan
Ia menepak keras gelas berisi air; dentaannya jatuh tepat di atas jantungku.
Air menyeberang, bercak-basah menodai taplak putih, dan gelas masih miring ke kiri.
Kemiringan itu seolah meramalkan masa depan kami.
Kutangkap kilatan emosi yang lekas berganti di kedua matanya:
pertama jijik, lalu tajam—seperti belati kecil.
Pandangannya meluncur di atas tengkuk pelayan yang membungkuk meminta maaf.
Setiap langkah pelayan itu mundur, semakin terasa kekuatan yang mengisi sorot matanya.
Lemari es sampanye dari London
Musim dingin tahun itu, aku pertama kali bertemu Claire di lounge hotel bintang lima yang menjulang tinggi.
Sejak awal ia tampak sempurna: suhu anggur, musim keju, bahkan nama pelayan ia hafal sekaligus.
Ia selalu lembut, tak pernah menaikkan suara—setidaknya sampai saat itu.
Kapan ia berubah?
Mungkin cahaya di matanya hanya sementara, sekilas lampu Natal London.
Ketika ia menilai tak perlu lagi bersikap murah hati, tirai pun turun.
Perempuan merokok di gang belakang restoran
Dua bulan lalu, aku melihat seorang perempuan menangis di tangga dekat parkiran bawah tanah.
Namanya Yoon-sol, pelayan paruh waktu di restoran yang sama.
Pada hari ketika Claire melempar piring sambil berkata "kecerobohan", pergelangan tangan Yoon-sol memar tertimpa alat masak.
"Tamunya memang bermasalah. Ia tahu itu, tapi tetap saja…"
Yoon-sol menyeka air matanya.
"Setiap melihat orang seperti itu, aku jadi merasa sangat kecil."
Apakah Claire tahu bahwa ia menggelapkan sekelilingnya?
Atau malah justru kegelapan itu yang membuatnya bersinar?
Mengapa kita bereaksi seperti hewan
Manusia adalah makhlukan sosial yang tak pernah benar-benar melupakan hukum rimba.
Di ruang penuh emosi—meja makan—kita secara naluri menakar siapa yang lebih kuat, siapa yang akan memimpin.
Ketika Claire dengan tegas menegur pelayan, matanya sesungguhnya tertuju padaku.
Lihat, aku lebih kuat darimu.
Para psikolog menyebutnya ‘permainan penegakan kasta’: menindas orang lain di depan kekasih sebagai isyarat bahwa kekuatan itu bisa pula diarahkan padanya.
Karenanya, mata Claire berbinar. Ia baru saja menemukan objek yang bisa ditegakkannya.
Garpu yang gemetar di atas es
Malam itu, aku tak menyentuh pencuci mulut.
Claire mengangkat satu macaron, lalu bercerita: ketika kecil ia terjatuh di puncak salju, tak ada orang tua yang menolong.
Mungkin karena itulah ia menjadi dingin setiap kali orang bergantung padanya.
Selagi mendengar ceritanya, aku merasakan rasa logam dingin di lidah.
Sepertinya aku menggigit garpu—atau mungkin itu kristal emosi yang tergores oleh nada bicaranya.
Pertanyaan terakhir
Ketika ia menyerang pelayan itu, apakah kau baru pertama kali menyadari bahwa kau tak lagi mencintainya?
Atau justru kau merasa ketakutan bahwa suatu hari nanti dirimu yang akan menjadi sasaran berikutnya?