Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Malam Kusut Saat Kumakukan di Depan Orang Tua: Aku Tidur dengan Pria 49 Tahun

Di hadapan ayah, sendoknya berhenti seteguk. Aku ungkap ranjangku dengan lelaki 24 tahun lebih tua. Tiga detik matanya mendingin, tapi aku justru ringan.

pria-lebih-tuahakim-keluargapengakuan-tabukekuasaan-dalam-cintapolitik-nafsu
Malam Kusut Saat Kumakukan di Depan Orang Tua: Aku Tidur dengan Pria 49 Tahun

0,5 Detik Sendok yang Berhenti - Ayah, hari ini aku punya sesuatu untuk dikatakan. - Apa sih yang harus dibilang, makan saja nasinya. Uap dari mangkuk kuah yang mengepul tak ditiup ayah. Ibu meletakkan sumpit yang tengah mengangkat lauk, lalu melirikku pelan. Aku mendengar suara meja makan yang seolah merosot, menggunakan seluruh tubuhku. > Cukup lima kata. Aku duduk di meja ini sambil membawa bau tubuh pria 49 tahun dalam diriku. Malam itu aku berkata. Nasi yang kugenggam sepanas suhu tubuh, hingga telapakku tak terasa sakit walau tertekan. ## Kekuatan Gelap yang Kugenggam di Ranjang Ia 24 tahun lebih tua dariku. Tahun aku masuk SD, ia sudah menjadi karyawan baru konglomerat. Aku menelan jarak itu sebagai rasa rendah diri yang lengket, lalu tiap malam terbelah dua. - Laptop miliknya, keyboard yang kusamarkan. - Cerutu yang ia hisap, bau tembakau yang kucuri hirup. Segala benda harus kembali ke tuan-nya. Tapi di atas ranjang, hukum itu tak berlaku. Saat aku naik, ia harus terlentang. Saat kugigit, ia harus melukai. Bukan usia, melainkan siapa lebih dulu menggerakkan siapa yang membalikkan dunia. > Ayah, tatanan yang kaujaga seumur hidupmu di sini tidak berdaya. ## Min-seo 31 Tahun, ‘Gurunya’ 55 Tahun Min-seo karyawan biasa di perusahaan multinasional. Suatu Sabtu, ia galau memilih ‘pria’ yang akan dibawa ke pesta ulang tahun ayahnya, lalu mengeluarkan foto dari dompet. Guru bahasa Indonesia di SMA setempat itu pernah menjadi wali kelasnya saat ia 17 tahun. - Ayah, hari ini aku juga mengundang Guru. - Guru kenapa harus menyapaku… Kata-kata terpotong. Ayah Min-seo merasakan kemeja bermotif bunga kris yang kusut. Ibu tetangga berbisik, “Wah, balas budi gurunya seperti ini?” suaranya menggema seperti di alun-alun. Min-seo baru sadar. Saat ia mengaku meminjam tubuh lelaki lebih tua di atas meja makan, orang tuanya berhenti menjadi ‘orang tua’. Mereka kembali sebagai penjawab masalah penjara yang dulu menjaganya. ## Kemarahan Ayah Sebenarnya Iri, Bukan Murka Mengapa kita memimpikan hubungan tabu yang bahkan menabrak ambang rumah? Bukan sekadar memberontak. Membalikkan usia cinta pertama ayah, usia ciuman pertama ibu. Saat kita buktikan dengan tubuh kebebasan seksual yang tak pernah mereka rasa. Di atas meja, orang tua bukan lagi otoritas, melainkan bayang-bayang dirinya yang mungkin pernah panas. - Min-seo bercerita, di atas ranjang dengan Guru ia pertama kali memanggilnya ‘Guru’ bukan ‘Pak Guru’. - Satu panggilan itu melelehkan ketakutan yang selama 21 tahun mencengkeramnya. Aku juga begitu. Aku 25, dia 49. Saat aku tak memanggilnya ‘Mas’ atau ‘Senior’, melainkan namanya saja. Ha-gyeong, dua suku kata itu meleleh di mulutku, barulah aku mengizinkan tubuhku sendiri. ## Dosa Apa yang Kan Kau Akui di Meja Makan Mana? Keluarga memang penjara pertama kita. Baju olahraga, pakaian dalam, ciuman pertama—semua harus seizin. Karena itu kita melarikan diri, mencari tubuh lebih besar dan lebih tua. Kumis uban lelaki 24 tahun lebih tua, kerut dada wanita 21 tahun lebih tua. Lalu kembali, mengaku di meja makan paling akrab. > Mengaku di hadapan orang tua pada akhirnya adalah mengaku di hadapan diri sendiri. Malam itu, ayah meneguk kuah sebelum berkata. “Kurang asin rasanya.” Ibu menjawab. “Tapi tetap harus dimakan, ya.” Aku masih tak tahu. Apakah rasa hambar itu nafsuku, atau ketakutan mereka. Bagaimana denganmu? Apakah kau masih membawa jeruji penjara pertama dalam tubuhmu?

← Kembali