Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Tali Merah Bra-nya yang Meninggalkan Bekas Gerayang

Sehelai busana rahasia yang membekas menjadi jejak nafsu. Pernahkah kau menggigit ujung lidah saat menghitung napas di balik sutra itu?

kasmarangodaan visualobsesipuasan yang belum tuntas

“Ini, sepertinya mau melorot.” Saat tali sutra merah delima meluncur di atas bahu, Joonhyeok menghentikan tangan yang sedang menggenggam sendok. Di bawah meja, sehelai kain perlahan turun, hampir menutupi perutnya, lalu kembali meluncur naik. Kyungmin tak berkata apa-apa. Hanya tersenyum di sudut bibir. Joonhyeok, kau lihat kan? Talinya sedikit tergeser ke samping… Mm. Itu pun kau perhatikan? Benar-benar. Kata-katanya menegur, namun buah adamanya berdenyut. Joonhyeok tak melesatkan mata dari getaran itu. Sejalur bayang antara sutra merah dan kulit putih. Hanya celah seinci terbuka, napas dua lelaki sudah saling menyentuh. --- ## Dalam celah bayang, nafsu yang mendengarkan Sebenarnya tak satu pun dari mereka berniat menyentuh bra itu. Pupil lebih dulu tiba daripada ujung jari, dan tatapan terus membayangkan kalau saja. Segitiga bayang yang terbentuk saat tali meluncur. Dorongan untuk menutupi celah itu datang belakangan; yang datang duluan ialah dorongan untuk menggali celah itu lebih dalam. > ‘Kalau saja aku perlahan menunduk dan menggigit sutra itu sekejap.’ > > ‘Kalau saja dia tersenyum diam-diam dan tak mengembalikan tali itu.’ Pandangan mata saling bertanya. ‘Kau lihat kan?’ ‘Iya, aku juga melihat.’ Benang yang menghubungkan dua lelaki itu tak kasat mata. Bau, suhu tubuh, ritme halus. Semua itu merembet di atas sutra merah dan meninggalkan bekas yang tak luntur. --- ## Yerin, dan percobaan tak sempurna Do-hyun Sebulan lalu, Yerin menerima hadiah dari Do-hyun. Sepaket tiba dengan pesan bercanda: ‘Rayakan White Day untukku ya.’ Di dalam kardus itu tergeletak satu set bra sutra merah delima. Alamat pengiriman: kantornya. Saat membuka amplop di dalam lift, Yerin melihat kedipan matanya sendiri bergetar di cermin. Malam itu, Yerin meneguk segelas anggur Burgundy lalu merebahkan diri di ranjang. Ia mengenakan bra itu dan menatap cermin. Napas gemetar di balik sutra merah. Ia mengangkat ponsel, memotret dirinya sekejap. Bagian bawah dipotong, tersisa hanya lekuk dada dan garis bahu. Tiga menit setelah foto dikirim, balasan Do-hyun datang. Aku pun sedang bernapas di dalam bayanganmu sekarang. Sejak saat itu keduanya tak pernah bertemu. Seperti api korsi yang membumbung, lalu lenyap seperti bayang. Namun tiap Rabu malam Yerin mengenakan sutra itu, membuka pintu kamar mandi, menatap dirinya dalam cermin yang basah. Masih tersisa satu foto. Di sana tak ada napas, hanya sutra; tak ada sutra, hanya nafsu. --- ## Mengapa kita bergetar Sutra merah bukan sekadar warna; ia tapal batas larangan. Menyimpan panas sehingga lebih membara, menampung cahaya sehingga lebih gelap. Kita sering bosan pada daging telanjang. Yang kita suka adalah getar tertahan di balik lipatan kain satu, dua lapis. Para psikolog menamainya perangkat penunda visual. Semakin lama puas ditunda, sirkuit dopamin otak menyala lebih lama. Sehelai sutra merah mengganggu kita bukan karena haus akan tampak, melainkan karena kepastian tak sampai terasa lebih tajam daripada kepastian sampai. Obsesi bermula dari celah. Sedikit udara yang menerabas antara kulit dan sutra. Saat kita berusaha merebutnya, kita menahan napas sendiri. --- ## Saat tali merah melorot, apa yang kau kejar? Saat ini juga, di suatu restoran, di ruang tamu, atau di kamar mandi, sutra merah sedang meluncur. Tatapan yang menatap lengkung tubuhnya tak menang apa-apa, hanya memeluk udara. Lalu kembali bertanya. > Kau lihat kan? Iya, aku juga melihat. Tanya itu mungkin milikku, bukan milikmu. Sutra merah akhirnya terlempar padamu. Malam ini, saat tali itu melorot, apa yang akan kau kejar? Kulit, atau justru rongga yang menyelimutinya?

← Kembali