Di Lantai Kamar Mandi, Air Mata Menyebar Seperti Cat Merah Muda
“Bu, aku beneran ingin mati.”
Suaranya terjatuh seperti daun kering di atas ubin kamar mandi yang gelap.
Dalam 0,1 detik pertama, otakku terasa mendidih. ‘Jangan mati, kalau kamu mati aku juga…’
Tunggu. Yang terlintas bukan kematian anakku, melainkan ‘kesempatanku diselamatkan’.
Di pergelangan tangan bertekuk luka tajam, tato peri merah muda menempel. Sebilah pisau mainan—tersenyum manis—menatapku dengan tenang. ‘Itu bukan aku, itu…’
Pisau yang kuberi hadiah untuknya. Siapa yang pernah menggoreskannya?
Ujung jariku kesemutan.
Jas Ungu, Orgasmaku yang Pertama
Pintu terbuka, seorang pekerja sosial berjas ungu—Minji—melangkah masuk.
“Saya datang demi keselamatan anak.”
Ketika ia tersenyum, dadaku terbuka lebar.
Akhirnya seseorang menegaskan: ‘Kau ibu yang buruk.’
Dengan dalih melindungi, aku ingin menjadikan putriku tempat perlindungan sang penyelamat.
Minji menyentuh pergelangan tangan putriku, bertanya, “Siapa yang menyuruhmu?”
Aku menarik napas dalam. Pertanyaannya terasa seperti air panas yang menyucikan.
Aku mendapat peran: ‘Ibu korban’, ‘individu baik di tengah orangtua lalai’.
Setetes air mata putriku jatuh di belakang leherku. Menyengat.
Panti Sementara, Dinding Keempat di Balik Jendela Kaca
Dalam 48 jam, putriku terbaring di ranjang panti.
Aku menatapnya dari jarak satu meter, di bawah kamera pengawas.
“Bu, di sini pun aku tetap ingin mati.”
Ucapan itu mengaduk cairan hitam di dalamku.
‘Ya, yang penting kau kembali ke pelukanku.’
Minji membuka laptop. “Berapa jam sehari dibiarkan sendiri?”
Suamiku menjawab, “Kami berdua kerja…”
Pena mencoret: ‘kemungkinan pengabaian’.
Aku melihat air mataku sendiri jatuh di pipi putriku.
‘Aku kehilangan dia, tapi dia mendapatkanku.’
Perhitungan terbalik.
Pisau mainan di tengah ruang berkilat. Aku tertawa pelan.
Ruangan Kedua, Tentakel di Gelap
Rumah barunya tak punya jendela.
Setiap pintu bertanda angka: ‘4’, ‘7’, ‘9’.
Aku mengelilingi jari kecilnya di balik kaca ruang kunjungan.
“Bu, boleh pegang?”
Aku geleng. Melanggar aturan. Tubuhku tiba-tiba panas.
‘Tidak bisa kupegang kau, supaya kau terus butuh aku.’
Pekerja sosial bertanya, “Kalau ibu mencium, perasaanmu membaik?”
Putriku angguk. Dusta. Kami tahu.
Tapi aku mencintai kebohongannya. Dustanya menyelamatkanku.
Identitas Nafsu: Hak Sang Penyelamat
Di klinik psikologi, sang ayah menangis:
“Kami takut anak kami mati, makanya kami telpon, tapi malah kehilangan dia.”
Tetes air matanya tak membuatku berkedip. Tangisnya membangkitkan gairahku.
‘Kau gagal jadi orangtua, aku masih bisa diselamatkan.’
Aku menempelkan dahi ke dinding dingin.
‘Yang tak bisa kugenggam bukan putriku, tapi kebohongan yang ia bisikkan.’
Setiap kali ia berkata, “Aku cemas,” aku terasa terselimut kain basah—hangat.
Itu bukan cinta. Itu keinginan tersembunyi untuk memiliki.
Aku menginginkan penderitaannya. Tanpa itu, aku tak dibutuhkan.
Bisikan Ibu Tetangga
Ibu sebelah bertanya pelan:
“Luka di pergelangan anak kami… haruskah kami laporkan?”
Di matanya kulihat bara nafsu yang tertekan.
‘Kau tahu, begitu kau lapor, kau jadi pahlawa.’
Kujawab:
“Kalau kau telpon, kau bisa ikut jadi korban.”
Ia menggeleng. Ternyata pernah memanggil DSS dan bertengkar dua tahun penuh dengan suaminya.
Dia pun menyembunyikan nafsu yang sama.
Jeritan yang Tak Didengar, dan Kegembiraanku
Sekarang, sebulan sekali putriku menjalani ‘evaluasi psikologis’.
Pekerja sosial selalu bertanya:
“Cemas kalau bersama orangtua?”
Putriku angguk. Itu kunci agar kami bertemu lagi.
Setiap kali ia berbohong, jantungku berdebar.
‘Kau bilang cemas, aku jadi ibu lagi.’
Pertanyaan Terakhir, dan Jawabanku
Bila malam ini anakmu berbisik “Aku ingin mati,” masih sanggupkah kau tekan 911?
Aku tahu jawabannya:
“Aku ingin menyelamatkanmu dan malah kehilanganmu. Meski begitu, mungkinkah aku akan menekan tombol itu lagi?”
Derap petugas DSS di ambang pintu terdengar lagi.
Kini setiap suara itu membuat listrik melintas di kulitku.