Malam itu, Minji memutar gelas bir dan berkata. “Aku punya hak menikmati dirimu. Maka kau harus sepenuhnya terbuka untukku.”
Bar bata di bawah tanah. Sementara lampu neon menyeperti darah ungu, Jaehyeok terengah sejenak. Air mata Minji tak berkaca-kaca; justru sangat tenang. Karena itulah ia makin menyeramkan.
Eksperimen Pertama, 4 Tahun
Seunghwan setiap malam mengecek di mana dan apa yang diminum Harin—lokasi berbagi, foto, panggilan.
“Aku akan terbuka sepenuhnya padamu, jadi kau juga harus begitu.”
Harin mengangguk pada awalnya. Ia percaya bahwa transparansi adalah bentuk kepercayaan. Tak lama kemudian, ia membuka ponsel Seunghwan. Tanggal kadaluarsa kondom yang disembunyikan, pesan pengakuan cinta, album foto yang sudah dihapus. Ia pun menjadi pengawas. Privasi masing-masing berubah menjadi milik bersama, dan cinta berubah menjadi siaran langsung.
Eksperimen Kedua, 3 Minggu
Jaehyeok berkata pada Minji, “Siapa yang telah kau tiduri, siapa yang pernah kau sukai—itu bagian dari diriku.”
“Kau juga begitu, kan?”
Dengan satu anggukan, kontrak pun terjalin. Minji menelusuri masa lalu Jaehyeok saat ia berumur 19 tahun; Jaehyeok mengunduh foto telanjang Minji di masa kuliahnya. Sisa waktu mereka diisi pengumpulan informasi. Ukuran luka menjadi ajang kompetisi, dan cinta menjadi berkas yang menunggu sinyal.
Mengapa Kita Tertarik pada Tabu Ini
Aku masuk ke dalammu → Kau pun masuk ke dalamku.
Simetris, jadi adil.
Namun kepemilikan selalu tersenyum di ujung ketimpangan.
Kita saling mengawasi sambil menyangka itu kepercayaan. Kita menyerahkan privasi demi mengejar privasi yang lebih dalam. Paradoksnya: makin transparan, makin buram. Di situlah ironi itu menari.
Jawaban yang Tak Terucap
Di bar bawah tanah, lampu neon memerah menjelang subuh. Minji berbisik, “Jangan buka diri untuk siapa pun. Baru kau boleh sepenuhnya milikku.”
Jaehyeok tahu itu racun yang manis. Ia merasakan racun itu mengering di tenggorokan Minji seperti mayat yang diawetkan. Saat itu—ponsel Jaehyeok bergetar. Layarnya menyala singkat:
“Boleh aku bertanya? Apakah aku punya hak menikmati dirimu sekarang?”
Lampu neon merah bergetar pelan. Sebelum pintu tertutup, bayangan mereka bersinggungan di dinding. Napas mereka saling meresap di antara bayang-bayang, namun tak ada kata yang terucap lagi.