Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Sebuah Kata Setelah 8 Tahun, Wajah Pucat Suami Memberitahu Kebenaran

Nama yang tak terucap selama 8 tahun, lalu satu kalian terjatuh di meja makan. Wajah pucat suami membongkar hubungan rahasia di balik pernikahan.

pernikahanmenikahdiamdinginrahasiaekspresi
Sebuah Kata Setelah 8 Tahun, Wajah Pucat Suami Memberitahu Kebenaran

Pecahan di Piring Putih Sementara steak di atas meja makan mendingin, sebuah piring kaca jatuh ke lantai. Saat suami menundukkan kepala, aku melontarkan lima huruf. "Masih bertemu Bu Hye?" Sendok berdenting menggelinding. Saat kulihat punggung tangan suami memucat, bayangan yang 8 tahun kubuat tertutup kini tampak bening. Pupil kehilangan fokus, bibir gemetar. Ekspresinya berkata. Bukan ketahuan yang paling nyaring, melainkan fakta bahwa mereka masih terhubung. > Kalau ia membantah, semua bisa berakhir; mengapa justera pandangan mata itu bergetar? ## Debu yang Menumpuk Delapan tahun bukan waktu lama. Ia singkat. Dalam kurang dari separuh usia yang kita jalani, apa yang telah kita bangun? Diam. Diam adalah penumpukan paling senyap. Saat-saat kita sengaja abaikan, sengaja pura-pura tak tahu, sengaja tertawa lewat—lapis demi lapis menjadi tembok tebal. Tembok itu menyerap suara sehingga ruang tamu menjadi hening. Makanya kita membesarkan volume televisi. Di balik tembok itu, ‘dia’ masih ada. Keberadaan seperti dibekukan dalam freezer. Tak pernah kita keluarkan, namun tak pernah mencair. Kadang, saat gentaran, pintu freezer sedikit terbuka, nama yang berembun es merembes keluar. ## Minjae dan Sujin, lalu Hye Sujin melihat tato di tangan Minjae di pagi resepsi pernikahan mereka. ‘Minjae♥Hye’ —tiga huruk menusuk dada. Sejak saat itu. Untuk tak mengucapkan nama gadis itu, ia menekan tombol ‘J’ di papan ketik, tapi jari gemetar. Delapan tahun, Sujin tak pernah tanya apakah Minjae bertemu Hye, tapi ia terus melihat apakah Hye masih mencintai Minjae. Media sosial, pesan, kilau mata, helaan napas yang gemetar. Lalu suatu malam, Sujin membuka laptop Minjae tanpa sengaja. Layar kunci: foto baru Hye. Keringat dingin mengalir. Foto itu bukan dari delapan tahun lalu, tapi diambil kemarin. Minjae masih memandangi cincin di jari Hye. Cincin itu bukan cincin pernikahan kami, melainkan cincin pasangan yang diberikan Hye saat mereka pacaran. --- Kisah lain. Soyul tahu suaminya Jungmin ‘lembur’ di jam yang sama selama delapan tahun. Di bagasi mobil Jungmin masih tersimpan payung dan rajut milik Hye. Tiap malam Soyul memandangi punggung Jungmin, bertanya kenapa Hye tak pernah diakhiri. Kita menikah delapan tahun lalu. Suatu hari, Soyul menggandakan sidik jari Jungmin, membuka kunci ponsel. Kotak pesan. Teks ke Hye selalu dikirim pukul 23.11. Isinya selalu sama. Karena kau, aku masih bisa bernapas. Malam itu Soyul menaruh secarik memo di samping bantal Jungmin. ‘Karena tak ada kau, aku masih bisa bernapas.’ Saat kulihat muka Jungmin memucat, aku tahu. Sejak delapan tahun lalu, sebenarnya tak pernah usai. ## Mengapa Tak Pernah Berakhir Manusia menyukai luka yang tak kunjung sembuh. Rindu yang sakit namun familiar. Bila lenyap sepenuhnya, tinggal ketakutan. Maka sedikit disisakan. Sedikit demi sedikit, samar. Harapan pudar ‘mungkin dia masih’ menjadi kunci hubungan. > Tak mengakhiri bukan karena cinta, mungkin cara menjaga diri sendiri yang pernah mencintai itu. Kita menyimpan masa lalu yang tak berujung untuk bertahan di masa kini. Tak sanggup menghapus nama Hye karena nama itu yang membuktikan masa muda kita. Delapan tahun cuma angka; waktu sejati adalah saat ‘kenangan masih bernapas’. ## Kapan Detik Pucatmu Setelah delapan tahun, atau delapan hari. Satu kata yang kau lemparkan sepertinya belum tiba. Tapi ekspresimu sudah tahu. Memucat karena malu, atau sesal? Atau karena ketahuan masih mencintai? > Saat kau memucat, apakah masa lalu berakhir, atau justru baru mulai?

← Kembali