Gagang pintu gerai es krim Hook terasa mendingin. Hanya sehari setelah ulang tahunku yang ke-18, pukul 17:47 sore. Begitu ‘Hyun-woo’ berusia 26 tahun menjemput dengan mobil bergambar stiker ride-hailing, jam digital di dashboard-nya lebih cepat delapan menit. Aku mengikuti delapan menit itu dalam imaji: delapan tahun lagi aku akan 26, ia 34. Di dalam mobil yang sama, siapa pula yang akan ia antar? Mungkin, seperti sekarang, seorang gadis berusia 18 tahun lagi.
Malam yang Terbakar Angka
‘Delapan tahun berbeda, apakah ini baik-baik saja?’ Pertanyaan itu tak terucap. Yang kulihat justeru urat di lengannya yang menonjol setiap kali ia memutar setir. Ia menunggu di tangga sehabis sekolah. Di hari rok seragamku terlihat seperti celana pendek, ia membungkuk dan berkata. Katanya ia sepupu jauh—siapa yang percaya.
Autopsi Nafsu
18 berarti dewasa. 26 berarti baru pertama kali bekerja. Di antara dua angka itu tercipta rawa kekuasaan yang mengembang seperti lumut.
- Informasi: Ia punya ijazah S1 dan kartu karyawan. Aku masih lembar rapor hasil ujian nasional.
- Kekuatan finansial: Ia gesek kartu, aku bookmark iklan paruh waktu.
- Waktu: Ia bisa lembur semalam suntuk, aku harus pulang sebelum jam 11. Ilusi yang diberikan ketidakseimbangan ini kepada seorang 18 tahun sangatlah besar: khayalan perlindungan dan pilihan yang belum pernah dirasakan tubuh muda ini. Khayalan bahwa Hyun-woo telah ‘memilih’ diriku. Baru kemudian kusadari bukan aku yang terpilih, melainkan tidak punya pilihan.
Kisah yang Terlalu Nyata
Kasus 1: Hye-jin
Hye-jin, 18 tahun, kelas 3 SMA Sangmyeong. Pertama kali melihat ‘Do-jin’ berusia 26 di area merokok depan bimbingan belajar. Do-jin adalah instrukturnya.
Hye-jin-ah, ini spesial untukmu. Anak lain senang kalau dapat permen di jam istirahat. Yang Do-jin berikan adalah secangkir espresso dan pesan KakaoTalk berkedok ‘periksa PR’. Setiap huruf diakhiri Hye-jin-ah. Dadanya berdebar, seolah-olah sedang menarik dirinya sendiri ke dunia orang dewasa. Tiga bulan kemudian ia pergi ke kostan Do-jin. Saat bertanya boleh masuk?, tanpa jawaban Do-jin memutar kenop pintu lalu berbisik: Cukup kamu yang datang. Sejak hari itu Hye-jin berhenti les. Do-jin bilang tak butuh. Delapan bulan kemudian, diam-diam ia menggugurkan kandungan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Di ruang tunggu klinik, di jendela tertempel Panduan Perlindungan Anak di Bawah Umur.
Kasus 2: ‘Kelinci’ dan ‘Serigala’
Di komunitas daring ada kata kunci:
‘Kelinci’: perempuan 18–20 tahun
‘Serigala’: pria 25–35 tahun
Indeks ‘serigala’ juga diukur dari pekerjaan: sudah wajib militer, karyawan, punya mobil. Para kelinci dengan sengaja masuk ke kanal serigala, ingin dibuat ‘istimewa’. Ada gadis bernama bunny97. Di fotonya, di atas rok seragamnya dibentuk hati dengan jari. Judul posting: ‘Hari ini White Day’. Lebih dari 200 komentar:
- Lucu, hehe. Abang jemput yuk?
- Umurku 29, boleh?
bunny97 merayakan bergabungnya di situs dewasa dengan janjian kencan nyata. Parkiran motel. Ia memposting foto selfie real-time bersama pria yang memperkenalkan diri sebagai ‘sopir pengganti berusia 28 tahun’. Malam itu ia nyalakan Instagram Live. Layar dipenuhi air mata. Tapi tak seorang pun menyelamatkannya. Bahkan menekan hati—hati nafsu ingin terus melihat.
Mengapa Kita Tertarik?
Angka adalah batas. 18 adalah ambah, tapi sesungguhnya rawa.
1. Fantasi Kejatuhannya
Nafsu melihat ‘yang polos’ jatuh. 18 bagaikan percikan di mana kejatuhannya dimulai. Kenikmatan menyaksikan lenyapnya kemurnian.
2. Umpan Kekuasaan
Perbedaan pengetahuan dan pengalaman adalah kekuasaan mutlak. 26 membuka dunia yang tak mungkin dijangkau 18. Kuncinya selalu di genggamannya. 18 sekaligus takut dan menginginkannya. Seolah saat aku paling muda adalah saat aku paling kuat.
3. Ilusi Waktu
Yang diinginkan 18 bukan pria itu, melainkan diriku di masa depan. Percaya suatu hari akan setara dan bebas. Tapi 26 kembali menginginkan 18. Waktu berputar seperti lingkaran.
Pertanyaan Terakhir
Saat ini, berapa usiamu dan siapa di sisimu? Angka itu mengendalikan apa darimu? Dan kapan angka itu menjadi larangan—atau sejak dulu memang larangan?