Jinwoo meletakkan gelas. Sedikit busa bir menggetar di atas meja, menabur cahaya. Di balik kaca, Jiyeon duduk. Gaun hitam barunya menempel di tubuh seperti hembusan napas. Tatapan Jinwoo meluncur dari ujung kakinya, naik ke pinggang, meniti bahu, hingga bertemu mataku—dan aku tahu persis apa yang sedang dipikirkannya.
‘Andai saja Jiyeon kini sedikit lebih tergoda pada pria lain…’
Bayangan itu muncul pertama kali di koridor. Suami tetangga tersenyum sambil menunggu lift; Jiyeon ikut tertawa. Sesaat itu terekam di otakku seperti klise hitam-putih. Bayangan paling pekat melesak: bagaimana jika pria itu menyentuh Jiyeon? Seiring waktu, lukisan itu makin tajam.
Di atas ranjang, ia menutup mata dan tersenyum. Di ujung bayanganku, aku berdiri: menahan napas, bersandar pada dinding.
Mengapa jantungku berdegup sekeras ini?
Pertama kali kami tak bicara apa-apa. Remote TV di genggaman, aktor di layar menciumi udara. Jiyeon bertanya, "Pernah… membayangkan hal seperti itu?"
"Bayangan apa?"
"Aku… dengan orang lain."
Napasku tercekat. Ia melanjutkan. Ia pun punya fantasi yang sama, malam yang sama. Bukan jawaban yang kudambakan, melainkan bayangan yang juga kerap ia peluk sendirian.
Malam itu kami mencari tubuh satu sama lain lebih ganas. Namun anehnya api makin menjilat. Menelusuri kulit pasangan, kami sekaligus memanggil orang lain. Kami memilih Jinwoo—teman kuliah yang terputus kontak sejak lima kali lalu. Cukup dipercaya, tapi tak terlalu dekat, jaraknya pas.
Ketika kusisipkan dia ke grup Kakao, Jinwoo hanya mengetik ‘…’ sejenak.
Lama tak berjumpa. Ada apa?
Minum saja. Lama tak bertemu.
Kami bertemu di bar hotel. Jiyeon mengenakan gaun hitam baru. Awalnya Jinwoo tak sadar; bahkan ketika Jiyeon duduk di sampingnya dan silangkan kaki, ia hanya tersenyum sopan. Tapi kulihat: ujung jari yang menggenggam dasi bergetar halus.
"Sebenarnya, istriku tertarik padamu." Kata-kata itu melompat dari ucapanku.
Jinwoo menatap sambil meneguk. "Apa?"
"Aku tidak masalah. Kalau kamu dan Jiyeon… begitu."
Gelas menyentuh meja dengan denting. Bola mata Jinwoo berayun; pandangannya ke Jiyeon. Ia mengangguk—kecil, namun tegas.
Mengapa aku larut dalam fantasi kelam seperti cokelat pekat?
Niko, 34, perancang game
Pertama kali kulihat di porno. Anehnya, bukan marah yang muncul, tapi tergulung gairah. Ketika kubicarakan dengan istriku Sarah, ternyata ia pun punya bayangan serupa. Jadilah kami mencoba sekali. Setelah makan malam, kami ke rumah teman. Aku duduk diam di sofa; pintu kamar ditutup, dan… ya. Degup jantungku berderap campur takut dan nafsu. Setelah itu, tak pernah lagi kami ulang.
Malam itu Sarah pulang dan berkata, "Aku pun membayangkanmu terpusuh pada orang itu." Saat itu kusadari: bukan dia yang kuinginkan—aku ingin menjadi objek hasrat orang lain.
Di dalam lift hotel. Jiyeon mencengkeram tanganku erat. Jinwoo mengikuti di belakang tanpa suara. Pintu terbuka, ranjang terlihat; seprai putih terhampar. Hembusan AC menerpa. Napas Jiyeon menyentuh pipiku—panas. Jinwoo berdiri memegang gagang pintu. Tak seorang pun bergerak.
Kami hanya meneguk bir. Saling menatap, tersenyum pelan. Lalu tak terjadi apa-apa.
Entah karena kenyataan lebih muram dibayang, atau karena yang paling kami takutkan adalah hampa ketika khayalan runtuh.
Dini hari setelah Jiyeon tertidur, aku duduk sendi di ruang tamu. Tiba-tiba terpikir: malam itu yang sesungguhnya kami inginkan bukanlah tindakan, melainkan larangan itu sendiri yang membuat kami saling menggebu.