“Masih… lenganmu terasa nyut-nyutan, ya?”
Di depan pintu gerbong Jalur 2 bawah tanah, dia bertanya lagi. Hari keempat kami bertemu. Aku mengangguk. Sebenarnya tidak. Bekas gigitan kursi yang tertinggal sebulan lalu saat aku pingsan karena henti jantung sudah tak terasa. Tapi aku tahu pertanyaannya bukan sekadar basa-basi.
Saat jantung berdetak kembali
Aku perempuan 32 tahun, ibu rumah tangga. Suami sedang dinas luar negeri, anak kusimpan di rumah mertua, lalu aku pergi belanja sendiri dan tiba-tiba roboh. Detak tajam, pandangan berkabut; yang terakhir kulihat sarung tangan putih lelaki tak dikenal. Ia menekan dadaku. Meniupkan napas. Lima menit kemudian jantungku berdetak lagi.
Ketika mataku terbuka di ranjang rumah sakit, dia berdiri di sana. Lee Jun-hyuk. Aku masih ingat namanya pada lencana. Tim EMT elit, usia kerja lima tahun. Matanya tajam, seolah dia pernah menyelamatkan seluruh dunia. Aku berbisik, “Terima kasih. Sungguh… aku masih hidup.”
Dia tersenyum. “Sekarang saya yang harus bertanggung jawab.”
Apa yang tersembunyi di balik surat ucapan terima kasih
Seminggu setelah pulang, sebungkus paket tiba di depan rumah: sepucuk surat tangan dan satu alat pencatat detak jantung canggih. ‘Pakai setiap hari. Saya pantau dari kejauhan.’
Dia memantau? Awalnya aku curiga. Namun lama-lama aku menikmati angka-angkanya. Setiap malam, saat membuka aplikasi, ikonnya selalu biru. ‘Hari ini pun kau hidup dengan baik.’ Dia menuliskan balasan; aku pura-pura tak tahu, tapi jantungku berdebar.
Tatapan yang mulai mengekor
Pertama: minimarket sebelah rumah. Saat aku mengeluarkan dompet di kasir, dia berdiri di balik rak lawan. Topi hitam ia tarik rendah, tapi aku tahu dari garis rahangnya. Tatapan kami bertemu, dia mengangguk pelan. Aku melarikan diri seperti buron.
Kedua: di depan les anakku. Setelah parkir, dia lewat di balik kaca mobil, ponsel di tangan. Layarnya mengarah pada mobilku. Aku matikan mesin dengan tergesa. Dia berhenti, bertepuk tangan pelan, lalu lenyap.
Ketiga: kereta bawah tanah. Gerbong yang sama, pegangan yang sama. Dia mendekat dan berbisik, “Tadi 85 bpm. Agak tegang, ya?”
Potongan syahwat
Mengapa aku tak melarikan diri? Fakta bahwa dialah yang menyelamatkanku membuat tubuhku berhutang padanya. Hutang nyawa. Tak ada cara membayarnya, sehingga dia merasa berhak memantau. Jantungmu kini di bawah kekuasaanku. Kalimat itu menyiksa, namun juga manis. Suamiku memandangku ‘pasien’; dia memandangku sebagai ‘yang hidup’.
Kisah nyata yang terdengar fiksi
Sujin, 29 tahun “Dia mantanku. Perawat IGD. Saat aku koma karena kecelakaan mobil, katanya dia jaga 24 jam. Begitu aku sadar, langsung melamar. Awalnya aku tersentuh… tapi setelah menikah, sedikit napas tersengal saja langsung dibawa ke rumah sakit. ‘Aku yang menyelamatkan, aku yang bertanggung jawab,’ katanya. Akhirnya aku cerai. Katanya dia masih berdiri di depan rumah, takut aku mati.”
Min-jae, 37 tahun “Waktu aku drop karena serangan jantung, seorang dokter memberi CPR. Setelah pulang, dia terus menghubungi. ‘Minum obatnya?’ Lalu suatu hari dia muncul di depan rumah. ‘Takut kambuh lagi.’ Aku tolak. Tapi malam itu, di depan pintu terpasang laporan detak jantungku: bpm, frekuensi napas, semua tercatat saat aku tidur.”
Mengapa kita terpikat
Para psikolog menyebutnya trauma bonding. Keintiman aneh setelah pengalaman hidup-mati. Di ambang maut, penyelamat menjadi dewa. Dan dewa mengawasi. Kau masih hidup. Tatapan itu mencekam sekaligus merindukan, karena saat kita dilahirkan kembali dari kematian, tak ada yang bisa kita rasakan sendirian.
Pertanyaan terakhir
Tadi malam, aku menemukan secarik kertas di ambang pintu: ‘Malam ini 72 bpm. Tenang sekali.’ Kapan dia datang? Aku mencengkeram kertas itu erat.
Haruskah sekarang aku yang menemuinya? Atau, justru aku menunggu dekapan gila-gilaan itu?
Kalau kau, bagaimana? Jika orang yang pertama kali membuat jantungmu berdetak kini mengekor di belakangmu?