Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Feminisme Menyalakan Api Pemberontakan di Jiwa Pria

Setiap kali dia menjawab 'tidak', suhu tubuhmu naik. Apa sebenarnya yang tersembunyi di balik hasrat yang tak pernah kamu sadari?

hasrat-tabupsikologi-pemberontakanmaskulinitasfeminismepsikologi-nafsu

Dia meneguk jus anggur secukupnya, lalu menurunkan sedikit kacamata hitamnya sambil berkata, “Aku tak suka pria yang mengerumuni di gym sambil menyebarkan bau keringat.” Reaksi pertamaku yang tersimpan di dalam lemari adalah, ‘Ah, aku juga berpikiran sama.’ Namun di saat bersamaan, sesuatu di kepalaku mulai mendidih. Apakah berarti aku tak boleh melakukannya? Di situlah letak masalahnya. Seekor ular meliuk pelan menuju arah yang dilarang, dan suhu tubuhku naik.

Aroma panas penolakan yang dia semprotkan

Aku memang sudah biasa. Tiap kali kekasihku berujar, “Ini terlalu patriarkis,” bagian bawah pinggangku lebih dulu bereaksi. Otakku memerah karena malu, tapi darahku mengalir ke arah yang berlawanan dengan tantangan. Semakin tajam ucapannya, aku justru ingin menempelkan dagingku pada mata pisau itu.

Ingin kukatakan ‘itu omongan tak masuk akal’, tapi kalimat itu naik hingga tenggorokan lalu tenggelam kembali. Sebab ketika suaranya yang lantang bergema di telingaku, aku tanpa sadar menegang. Yang menegang adalah batu batas yang mencegahku melangkah, sekaligus gemetar buku kakiku yang ingin melewatinya.


Kasus 1: ‘Tidak’ Jun-yeong adalah tantangan

Jun-yeong pertama kali melihat Yujin di festival budaya kampus saat ia berusia dua puluh tahun. Yujin menjaga stan Pasar Bebas Gender, rambutnya dicat biru-hijau, dan ia memegang poster berisi tulisan Tak ada masyarakat di mana hanya pria yang menderita. Ketika Jun-yeong mendekat dan berkata, “Saya setuju,” Yujin menyipitkan matanya. Apa yang ingin dibahas pria ini? Jun-yeong melanjutkan, “Sungguh, saya juga menentang misogini…” Yujin memotong, “Setuju saja tidak cukup, kalau tindakan tidak mengikuti.” Sejak hari itu, Jun-yeong ratusan kali membuka profil KakaoTalk Yujin. Setiap kali membaca catatan hariannya yang berbunyi, “Hari ini lagi pria berlebihan,” ia meneguk bir hingga tetes terakhir. Pikiran bahwa ‘pria berlebihan’ itu mungkin dirinya membuat dadanya panas. Anehnya, semakin ia merasa dibenci, semakin ia ingin mendekat.

Kasus 2: Perjalanan panjang Ji-hun menuju ‘ya’

Ji-hun, 35 tahun, pegawai kantoran biasa. Kekasihnya, Sujin, begitu lelah bekerja sampai nyaris kehilangan bahu, lalu bergegas ke konseling kekerasan seksual di tempat kerja. Saat Sujin berkata dengan mata kosong, “Aku terlalu lelah,” Ji-hun tergopoh-gopoh menelan nasi lalu berujar, “Kalau begitu… istirahatlah. Aku segera ambil cuti.” Sujin meneguk soju dan menjawab, “Cuti? Kalian pria mengira cuti adalah jawaban.” Malam itu, Ji-hun membuka-tutup pintu kulkas sendirian. Kenapa aku jadi merasa bersalah? Dan kenapa rasa bersalah ini panas? Sujin terbaring di sofa. Ji-hun pelan-pelan mendekat dan menyapukan rambutnya. Setelah lama, ketika Sujin membuka mata separuh, Ji-hun membaca ‘tidak’ di sana. Tepatnya, ‘sekarang belum’. Tubuhnya melemas, namun dalamnya mendidih.

‘Tidak’ darinya telanjangi aku. Rasa bersalah dan gairah bersalaman turun, lalu aku ingin menggigit pergelangan tangan itu.


Cermin tabu dan nafsu

Mengapa kita menjadi lebih panas di hadapan dinding yang katanya ‘tak mungkin jebol’? Jawabannya sederhana: larangan adalah bahan bakar paling mematikan bagi nafsu. Wacana feminisme berkata pada pria, “Sekarang jangan lakukan itu.” Namun pria tak melewatkan nuansa ‘sebelumnya mungkin pernah’ yang tersirat. Benar, mungkin dulu aku seperti itu. Lalu, akankah sekarang aku bisa berbeda? Pertanyaan itu barangkali konfirmasi diri bahwa aku masih memiliki kekuatan untuk melakukannya. Ketika pilihan untuk tak menggunakannya keliru dianggap sebagai kekuatan, pria mengangkat dirinya jadi ‘pemegang kekuatan berhati nurani’. Dan pengangkatan itu melahirkan gairah baru.

Pada diriku dalam cermin

Hari ini pun seseorang akan berjanji, “Aku pun harus berubah,” sambil membaca feminisme. Namun dari dalam terdengar bisikan kecil. Apa sebenarnya aku ingin tetap panas saat berubah? Saat ia berkata ‘ya’, akankah aku masih membara? Atau justru karena ‘tidak’lah aku membara. Sekarang sambil membaca kalimat ini, bukankah kaki Anda tercelup ke dalam imajinasi yang dilarang untuk seseorang?

← Kembali