Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Pertama Terlalu Panas hingga Tak Bisa Ulang, Tapi Entah Mengapa Ingin Bertemu Lagi

Setelah ia pergi, ranjangku masih menyisakan bayangnya. Gerak tubuh yang hanya sekali itu makin menggores dalam. Psikologi di balik rasa takut untuk kencan kedua.

hubungan awaltrauma seks pertamahasrat terlarangobsesi

Saat punggungnya melintas pintu, aku bertanya dalam hati, ‘Lalu apa yang harus kulakukan?’ Aku hanya mencengkeram ujung selimut tanpa suara. Jam menunjukkan pukul empat pagi. AC mati, tapi kamar terasa membeku. Pegas ranjang di satu sisi yang tadinya terbenam lalu kembali melompat, seolah masih mengingat beban tubuhnya. Seharusnya sekali saja cukup. Sebelah kaus kaki terselip di bawah sofa. Saat ia keluar sambil menggenggam sepatunya, ia menepuk pundakku sekilas—entah itu salam perpisahan atau hiburan. Ujung jarinya panas. Panas itu belum juga lekang dari kulitku, sehingga setiap kali kubayangkan kencan kedua, ia menyambar seperti petir yang menyilaukan. --- ## Ketakutan bersembunyi di kedua bola mata Kami sebenarnya takut pada ‘ingatan tubuh’. Ciuman pertama bisa gagap dan canggung, tapi penetrasi pertama terekam tanpa sejengkal pun salah. Malam itu yang kurasa bukanlah kenikmatan, melainkan ‘guncangan yang belum terurai’. Bagaimana dia menilai aku? Penilaian performa seks, penilaian bentuk tubuh, latihan suara dan ekspresi—kotak pencarian di kepalaku berputar tiada henti. Indra mungkin mencapai puncak, tapi jiwaku hancur berkeping-keping. Pecahan itu berserakan di atas ranjang, sehingga keesokan pagi aku segera mencuci seprai, diam-diam. Karena itulah kita enggan bertemu lagi. Semakin kita hindari yang kedua, semakin yang pertama menjadi kawasan suci. Terlalu sakral untuk disentuh, sekaligus terus ingin kita ulang tanpa akhir. --- ## Chaewon, 29 tahun, Account Executive di agensi iklan Jinu yang ditemuinya usai pesta kantor berasal dari divisi lain. Pukul satu subuh, mabuk mulai naik, kami berciuman pertama di sudut gang yang ramai. Dinding semen mendingin punggungku, lalu Jinu membuka ikat pinggangnya tanpa kata. Tak ada setitik keraguan pun. Begitu masuk kamar, lampu langsung padam. Jinu memelukku dari belakang. Tubuhku sudah gemetar, tapi ia berbisik di telinga, ‘Kalau takut, katakan saja.’ Ucapan itu justru melelehkan lututku. Yang kutakutkan bukan ketakutan, melainkan tak sanggup melupakan momen ini. Setiap kali Jinu memasuki diriku, napasku tersendat. Dada seperti mau meledak. Meski mata terpejam, percikan api muncul di pandangan. Pukul lima pagi, Jinu bangun untuk minum air. Ia tak kembali. Terdengar selimut empuk di sofa ruang tamu. Aku pura-pura tak tahu. Pukul tujuh, ia pergi dengan alasan ‘ada rapat pagi’. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Seminggu kemudian, Jinu mengirim pesan jam tiga pagi: ‘Kamu baik-baik saja?’ Aku menulis balasan, lalu menghapus, menulis lagi, akhirnya hanya membiarkannya terbaca. Sebenarnya aku ingin bertemu. Tapi bila nanti tidak seterik itu lagi, aku takut kenangan pertama akan retak. --- ## Minjae, 32 tahun, CEO start-up Sujin ditemuinya di klub. Keduanya setengah mabuk. Minjae mengelus bekas luka kecil di lengan Sujin. Setiap kali luka itu tersentuh, Sujin gemetar halus. Gemetar itu membuat Minjae gila. Dalam taksi, Sujin diam-diam menggenggam tangan Minjae. Jari-jarinya menjahit celah di antara jari Minjae. Setiap lampu merah, tekanan genggaman berubah. Minjae menajamkan telinga pada perubahan halus itu. Ingin sekali kubaca irama wanita ini sepanjang malam. Namun di ranjang hotel, Sujin terlalu hening. Saat Minjae menatap dari atas, Sujin memejamkan mata, diam seperti mayat. Minjae tiba-tiba takut. Ia merasa telah ‘membunuh’ wanita ini hanya dalam tiga puluh menit. Saat indra mencapai puncak, Minjae bertanya, ‘Kamu baik-baik saja?’ Sujin mengangguk tanpa membuka mata. Anukan itu terlalu pelan, membuat Minjae cemas. Usai ejakulasi, Sujin membuka mata. Bola matanya berkilat seperti binatang liar yang polos. Saat itu Minjae sadar. Wanita ini jauh lebih dalam dariku. Pagi harinya, Sujin mandi, lalu berdandan sambil berkata, ‘Untukku ini cukup. Sepertinya tak usah ada malam kedua.’ Minjae hampa. Sujin tegas. Ia ingin menjadikan pengalaman pertama sebagai kawasan suci. Sejak itu Minjae tak pernah merayu Sujin lagi. Ia malah mengulang malam itu sendirian sambil masturbasi. Dan setelah Sujin pergi, ia memegangi lekuk kasur yang masih ada sela-nya sambil bertanya tiap kali. Mengapa aku makin mendambakan malam kedua yang tanpa dirinya. --- ## Kita ingin menjadikan malam pertama ‘padang pasir yang sempurna’ Psikolog menyebutnya perpanjangan ‘kompleks perawan’. Bukan sekadar romansa seks pertama, melainkan obsesi untuk mengabadikan momen yang hanya sekali ini. Ilusi yang terekam selamanya setelah satu kali alami. Karenanya kita menghindari yang kedua. Kali kedua memberi celah pada realitas. Dan realitas selalu punya cacat. Ada lapis lain. Dalam pengalaman pertama kita ‘terbuka sepenuhnya’. Setiap sudut tubuh, setiap nuansa gairah, ritme suara dan ekspresi. Pembukaan itu terjadi tanpa pelindung, sehingga kita bisa ‘dibunuh’ oleh pasangan. Pembunuhan di sini bukan sakit fisik, melainkan rasa takut titik paling sensitifku kelak dijadikan bahan ejekan. Karena itu kita menyebut malam pertama ‘padang pasir’. Pasir tak terenggam, puing diterbangkan angin. Tersisa hanya gersang. Di kegersangan itulah akhirnya kita memantulkan diri. Ternyata di ujung nafsu ku ada padang begini. --- ## Akhirnya, akukah padang pasir pertama seseorang? Begitu pagi menjelang, kita menyembunyikan ketakutan satu sama lain. Aroma memalukan, bantal yang kendur, kondom di tong sampah. Tapi kita tak sanggup melepaskan harapan bertemu lagi. Sebab bila ternyata kali kedua tak seterik malam pertama, kita bisa jadi kehilangan kesakralan malam pertama. > Karenanya kita menunda yang kedua. Semakin ditunda, malam pertama semakin jelas. Semakin jelas, kita berdiri di tempat tak bisa dilangkah lagi. Timbul tiba-tiba pertanyaan ini. Mungkin bukan dia tak datang lagi, melainkan aku yang takut pada yang kedua. Jika demikian, demi menjaga padang pasir pertama kita selamanya, kita malah saling memalingkan selamanya. Karenanya hari ini pun, sambil membelai seprai rapat-rapat, aku berbisik sendiri. ‘Kalau kita bertemu lagi, sanggupkah kita melompat lebih jauh dari malam pertama?’

← Kembali