Malam itu, di mana api singgah
“Semua sudah habis terbakar.”
Sujin menelusuri bekas hitam dengan ujung jari. Yang tersisa di atas meja hitam bukan sekadar bekas bara. Tapi jejak yang menggores kenangan satu jam lalu saat ia menjilat rokok Minu. Sujin tersenyum dalam hati. Ini… bukan sekadar rokok.
Nafas Minu yang tersalur dari ujung rokok menggelitik ujung lidahnya, lalu tenggelam jauh ke dalam jantung. Satu tarikan saja merobohkan semua benteng. Ia menatap bibir Minu dengan mata kosong dan tiba-tiba terpikir: Ini lebih dekat daripada ciuman.
Rasa yang harus disembunyikan, rasa yang selalu mengintai
Esensi tabu bukan hanya pada “tidak boleh dilakukan”, tapi pada “tidak boleh dicicip”. Setelah sekali tersentuh lidah, rasa itu tak terulang kembali. Ia menggaruk batu api di otak lalu menjatuhkan bara memori.
Yang Sujin rasakan bukan nikotin, tapi panas berbagi nafsu orang lain. Saat Minu menawarkan rokok yang telah diembannya, “Mau coba?” itu bukan tawaran biasa. Melainkan kalimat tajam, “Aku akan membuka mulutku untukmu.”
Rasa pertama, dua akhir yang berbeda
Akhiran A: Catatan Hayeon
“Awalnya cuma rasa penasaran.”
Hayeon, 29, desainer, diam-diam menghisap rokok suaminya setahun lalu. Yang lebih kuat dari rasa tembakau adalah bekas rahasia yang suaminya selalu sembunyikan; kini melekat di lidahnya. Sejak itu ia menyelundupkan satu bungkus rokok di sudut kulkas. Pukul 3 pagi, saat sang suami tidur, ia duduk di sofa ruang tamu, menyalakan api dengan hati-hati. Apakah api ini akan membakar kegelapanku juga?
Asap naik ke paru-parunya, seiring menggemukkan nafsu lain yang tak pernah suaminya tahu. Ia tak pernah berhenti. Sang suami mencium benda asing dalam napas istrinya. Alasan cerai tertulis singkat: “Ada bara api orang lain jatuh di rumah kami.”
Akhiran B: Segel Doyun
“Sekali saja, aku ingin mencicip.”
Doyun, 31, mahasiswa pascasarjana, menghisap pipa dosen pembimbingnya. Saat itu hanya “sekadar sekali”. Namun yang tak terlupakan bukan aromanya yang harum, tapi ilusi saat dosen itu menutup bibir dengan jari: Doyun merasa ujung jari itu menyentuh bibirnya.
Sejak itu, setiap kali melintas koridor laboratorium, mulutnya terasa panas. Yang tersimpan bukan nikotin, tapi imajinasi yang lebih tajam. Dua bulan kemudian ia pindah jurusan. Sampai lulus ia berkata, “Cium bau rokok saja ingin muntah,” dan menjauhinya. Namun tiap malam, ia mengganti obat tidur dengan membayangkan asap pipa sang dosen. Segel itu tak pernah rapat; bara hanya tertimbun lebih dalam.
Mengapa kita mencari api
Tabu menyalakan kecemasan. Tetapi api itu juga menerangi kita. Pelepasan rahasia dari keyakinan: Aku memang sudah tercemar.
Rasa pertama bukan rasa curian, tapi rasa yang kembali. Saat nafsu orang lain menjadi milikku, aku berhadapan dengan diri yang sudah retak. Maka kita mengulang tarikan pertama. Terus mencari rokok baru, bibir baru, bara baru. Untuk memastikan satu kebenaran:
Aku masih bisa terbakar.
Jadi, apa yang kau kulum saat ini? Rokok biasa, atau gema ciuman pertama yang takkan pernah diakui? Sebelum bara itu padam, di mana jawabanmu akan mendarat?