Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Di Malam Pertama Seorang Istri Setelah 11 Tahun Menidurkan Diri Sendiri di Tempat Tidur, Siapa yang Muncul dari Celah Pintu?

Setelah perpisahan, ia menidurkan diri sendiri. Di sana, naluri yang meringkuk, rasa takut, serta nafsu baru menyelinap masuk.

akhirpernikahantidursebelumperpisahantempattidurseorangaromanafsubayangan11tahun

"Apakah benar kamu yang sedang terbaring di bantal sekarang?"

Di depan ruang belajar berita. Juhyun, usia tujuh tiga puluh, mengeratkan cangkir kopi americano begitu mendengar suara suaminya. Kertas perceraian masih terselip di pojok laci. Hanya kata "rehat sebentar" yang kini berlanjut hingga hari ke-61.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, ia mengulurkan selimut seorang diri. Di atas sprei yang aromanya tak berubah sedikit pun, ia lebih memikirkan siapa yang akan datang ketimbang siapa yang telah pergi.


Yang dirindukan bukan tubuh, melainkan bentuk luka

Dia tak lagi di sampingku, tapi masih tersisa di dalamku.

Pernikahan adalah proses menorehkan tubuh satu sama lain bagai peta. Otot berkilat di bahu kanan, bintik lembut di dalam paha kiri. Namun yang lenyap bukanlah garis-garis itu.

Riak napas di samping kepala. Ketika riak itu menguap, udara sekeliling beriak seperti lubang renda. Naluri untuk menutup lubang itu bangkit.

Malam pertama tidur sendiri, orang-orang menyebutnya "kesepian". Padahal itu hanya kulitnya. Sebenarnya, harapan jahat ingin mencocokkan sesuatu ke dalam ruang yang kosong.


Dua kamar, dua tempat tidur

Kasus 1. Lemari Eunji

Eunji, 42 tahun, kepala tim pemasaran. Setelah suaminya pergi dengan tas tengah malam pukul 02.47 tahun lalu, ia menaruh timer kumur di samping ranjang. Setiap tiga menit akan bergetar. Saat itu ia menutupi diri dengan selimut dan menutup mata.

Saat memasuki bulan ketiga, ia bangkit dengan sensitif 30 detik sebelum timer berbunyi. Ia menyangka timer akan dihentikan seseorang. Malam itu, dalam keadaan mabuk, ia membawa pulang bartender tetangga. Tak terjadi apa-apa. Hanya dengan kata "jika saja" di dadanya, ia menempelkan napas sang bartender di sisinya.

Pagi tersenyum, bartender lenyap, timer tetap berdering tiap tiga menit.

Kasus 2. Senter Sangwoo

Sangwoo, 38 tahun, sopir antar-jemput. Dua puluh satu hari sejak istri pergi. Ranjang di kos atap sempit, jika berbaring tangan menyentuh dinding. Ia menyalakan senter kecil dan menyinari langit-langit. Melihat bayangan jari di cahaya, ia mendengar ucapan terakhir istri sebelum pergi.

"Kamu lebih panas saat mengingatanku ketimbang saat melihatku."

Ia baru paham maknanya saat tidur sebatang kara. Melalui bayangan ia membayangkan tangan "orang lain". Saat itu, mengikuti bayangan, ia meraih dirinya sendiri. Sebelum keluar, ia mematikan senter. Dalam gelap ia memeluk siluet ketidakhadiran, bukan suara istri.


Orang asing tersembunyi dalam tubuh yang tidur sebatang kara

Kehilangan meninggalkan bekas. Yaitu, sambutan orang ketiga pada ruang kosong. Para ahli saraf menyebutnya "distorsi plastisitas saraf". Pernikahan panjang membuat otak dua orang terkunci dalam irama yang sama. Ketika ikatan itu putus, otak berusaha menutup irama kosong dengan paksa.

Maka tiba-tiba kita teringat seseorang. Bukan yang tadi di samping, melainkan yang takkan pernah datang. Bukan kesepian semata, melainkan gairah terlarang. Sensasi menarik "X yang tak boleh ada di sini" ke dalam kepala. Akibatnya, di ujung sebelas tahun kita tidur sendiri. Dan menjejal nama lain dalam bisikan sendirian. Itu barangkali bukan cinta juga bukan benci, melainkan nafsu tak tuntas itu sendiri.


Apakah suara yang mengetuk pintu adalah suaramu

Saat lampu samping ranjang dimatikan, kamar menjadi senyap bagai mati. Yang berputar di telinga bukan napas "dia", melainkan udara seperti lagu pengantar yang menegaskan kau masih hidup.

Di dalamnya, siapa yang akan kau panggil? Atau, saat memanggil seseorang, akankah kau tetap menjadi dirimu?

← Kembali