Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Mainan Pertamaku Tak Pernah Membiarkanku Sendiri

Dari gerbang belakang kelas SMP hingga 3 detik terlarang di lift, kenikmatan yang kupetik sepi meninggalkan dusta dan obsesi. Panggilan kasar bersama Ji-Eun, serta panas yang belum padam.

dewasatumbuhrahasiasentuhanJi-Eun

“Tangannya kenapa seperti itu?”

Gerbang belakang kelas SMP. Begitu bel istirahat tengah hari berbunyi, semua orang terburu-buru mengejar aroma bekal. Hanya aku yang tertinggal, seperti boneka terpaku di meja. Tangan kiriku kaku seperti remot terselip di antara buku pelajaran; tangan kanan bergetar pelan. Yang meresap di balik sabuk bukan rasa takut, melainkan listrik yang jauh lebih cepat.

Kalau melakukan ini aku jadi anak nakal. Tapi aku tak bisa berhenti. Waktu kurang dari tiga detik berlalu seperti helaan napas. Di perjalanan ke sekolah, apartemen dua belas lantai itu menaungi jalanku seperti atap beruntung. Di lantai delapan, suara pintu lift menutup terngiang di telinga. Saat pintu tertutup, seseorang berbisik: kau datang lagi.


Kabel tersembunyi

Tubuhku mulai bereaksi bukan karena mainan itu. Sebuah ujung pensil runcing terselip di antara halaman Matematika Terapan milik ibu yang dulu memicu bara. Ketika ujungnya menusuk kertas lembut, detak jantungku melesak hingga ubun-ubun. Sejak hari itu aku jadi detektif di dalam tempat pensil: spidol, kunci, tabung pensil bulat, baut skateboard—semua terasa kasar. Aku tak menginginkan yang lembut.

Di sekolah sama saja. Pita merah klub olahraga di saku seragam—begitu kukalungkan di leher, hantu sesak menghujam tengkukku. Teman-teman menyebutnya hanya ‘pita’, bagiku ia kulit asli.


Tertinggal sendiri

Liburan musim panas kelas satu SMA, aku mendengar kisah Ji-Eun. Kakak kelas yang kutemui di minimarket depan bimbel. Ji-Eun meneguk susu langsung dari kotaknya sambil berkata,

“Seharian bolak-balik soal sampai pergelangan tanganku mati rasa. Tapi, aneh, walaupun sakit, ada sesuatu yang berubah.” Ia menunjukkan goresan tipis di punggung tangan—bekas ujung gunting menyentuh kulit dalam lengan—kemudian menikmati sentilan kain yang menyentuh luka itu. Ia bilang, satu garis merah memutar dunia.

Aku teringat kotak styrofoam bekas daur ulang yang kutemui di lift lantai delapan. Serbuk halus berbulu menggores kulit lebih kasar dari dugaan. Di antara lantai lima dan enam, sebelum pintu terbuka, semuanya usai. Tak seorang pun tahu, aku menyelipkan serbuk itu ke dalam saku celana dan meremasnya berulang kali.

Kami menyusun rahasia bersama. Ji-Eun bertanya,

“Momen paling kasarmu?” Kujawab: ketika pintu lift tertutup, tiga detik sendirian. Dalam sesaat, seluruh dunia menjadi milikku.


Mengapa rasa terlarang manis?

Psikolog McClelland menyebutnya ‘segitiga kebutuhan’: prestasi, kekuasaan, keintiman. Namun tubuh kita menyembunyikan keempat—larang. Buah terlarang memang manis. Poster edukasi seks di ruang konseling selalu menampilkan ‘bersama’: sepasang kekasih saling berpegangan tangan tertawa. Aku berdiri di luar gambar itu. Tertawa sendiri, menahan napas sendiri, berakhir sendiri.

Karena itu, imajinasi seksualku selalu berujung pada ‘tertinggal sendiri’. Ji-Eun dan aku saling menjadikan cermin. Ia memberiku kekuasaan, aku memberinya rasa iri. Kami saling meminjam kekasaran, namun tak pernah berakhir bersama. Setiap kali Ji-Eun menunjukkan bekas luka, aku menggenggam erat serbuk styrofoam di sakuku—mata uang eksklusif milik kami.


Kekasaran itu masih ada

Usia dua puluh lima, detik ini pun aku masih merasakan suhu jari. Kekakuan plastik kartu tol yang kuremas, serat kayu gagang sapu masih membangkitkan respons lebih cepat dari sentuhan kekasih. Bukan takut pada yang lembut; aku takut dilupakan.

Seandainya kekasaran itu lenyap, aku pun ikut lenyap.

Ji-Eun hilang tanpa kabar. Entah runtuhnya ujian masuk perguruan tinggi atau rasa bersalah. Apakah ia juga membawa serbuk styrofoam di sakunya, atau membiarkan kekasaran seseorang menyentuhnya? Aku tak tahu.

Maka, aku masih sendiri.


Apakah kau masih sendiri, atau sudah siap membiarkan kekasaran seseorang menyentuhmu?

← Kembali