Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Percakapan yang Tak Pernah Selesai Meninggalkan Satu Baris di Tempat Tidur Setelah Lima Tahun

Tujuh tahun menikah, Juhee menemukan memo lama di balik kepala ranjang: ‘Maaf, aku tak lagi mencintaimu.’

akhirpernikahanpercakapantertundabisikanranjanghasratkekosonganmemolama

"Iya, malam ini pun tak pulang" Pukul 23.47. Juhee menatap sisi kiri ranjang, tempat suaminya seharusnya berbaring. Sprei tetap bersih, tanpa jejak. Tak terdengar suara pintu kulkas tertutup, langkah kaki, atau apa pun. Hari ke-1.826 tanpanya. Mengapa angka itu terasa pas seperti pasangan yang pernah cocok? Jariku menjangkau sela kepala ranjang. Di celah yang terkikis kuku, setengah tersembunyi selembar kertas. Post-it menguning. Tulisan tangan suami, lima kata. > Maaf, aku tak lagi mencintaimu. --- ## Kenapa baru kini kata itu muncul? Bukannya diucapkan, semua diseret menjadi celah: bantal yang tak lagi berpasangan, balasan pesan yang selalu diundur sehari, sentuhan yang menghindar. Kata itu hanya tersisa di atas kertas. Sejak kapan aku tahu? Mungkin sejak tempat tidurnya mulai mendingin, sejak kami tetap berbaring namun tak lagi berdampingan, bahkan saat mata terpejam. --- ## Kisah Huijeong "Aku bingung mengisi kolom ‘alasan’ di surat cerai, akhirnya kutulis saja: ‘kurang komunikasi’," ujar Huijeong (38) sambil memutar gelas whisky di bar kawasan Gangnam. Enam tahun menikah, ia mulai tidur terpisah. Dua tahun kemudian, suaminya menempati kamar tamu, laptop berdebu sebagai teman tidur. Tak ada bau kopi pagi, tak ada suara di dapur, tak ada aroma. "Suatu pagi, aku temukan secarik nota menempel di ujung sprei: ‘Sejak kau pergi, aku pindahkan saklar lampu supaya kamar lebih gelap.’ Baru saat itu aku sadar: oh, kita memang sudah selesai." --- ## Ranjang sejajar Di klinik psikologi perkawinan, tiga pasangan duduk berhadapan dengan plakat bertuliskan: ‘Alasan kami berpisah ranjang’ Mereka berkata: > "Bukan karena dengkur. Kami tak sanggup menahan napasnya pun." > "Sentuhan ujung jari saja terasa tak tertahankan, setiap malam." Kapan larangan itu dimulai? Dahulu, dua tubuh yang membara tak butuh kata. Kini, hening yang mengalir di antara tubuh yang mendingin membesar, menelurkan terowongan es. --- ## Alasan tak kusobek memo itu Juhee membiarkan Post-it itu di sana. Kembali diselipkan di sela kayu. Mengapa tak ku buang? Mungkin aku ingin membacanya lagi lima atau sepuluh tahun lagi, saat luka ini mengeras seperti tulang. Atau karena aku diam-diam menantikan hari ketika suami kembali dan kami membacanya bersama. Cinta telah usai. Namun kata ‘usai’ sendiri belum juga berakhir. --- ## Pertemuan klub Di rumah teman lama, Jisu, kulihat kamar tidurnya diubah jadi studio penuh noda cat biru tua. Kanvas masih basah. > "Di sini tak ada lagi yang tidur. Jadi aku bisa berbaring dan melukis." Katanya, "Ranjang sejatinya adalah lukisan yang sempurna hanya saat dua orang berbaring. Jika hanya satu, tinggal bingkai persegi kosong." --- ## Pertanyaan tiba-tiba Di ranjang tempat kau berbaring malam ini, kata apa yang ingin kau tinggalkan? Ataukah kau sudah menuliskannya, namun belum terucapkan, hingga kini ia masih terbaring di sisimu?

← Kembali