Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

5 Tahun Tanpa Pacaran, Saat Kukatakan Cinta Ia Membalas dengan Terima Kasih

Semuanya runtuh sejak sang lelaki hanya ucap "terima kasih" atas pengakuan cintaku. Apa yang tersembunyi di baliknya?

nonpacaranpengakuan-gagalemositerkurasnafasuditolakpsikologi-manipulatif
5 Tahun Tanpa Pacaran, Saat Kukatakan Cinta Ia Membalas dengan Terima Kasih

Sebuah Kancing yang Copot, Rasa Seperti Batu Es

Saat aku mengucapkan "aku mencintaimu", semuanya hancur tanpa suara seperti potongan es yang terjatuh ke dalam gelas kaca.
— Terima kasih, tulus.
Lee Jun-hyuk mengucap kalimat itu sambil sedikit miringkan gelas soju di tangannya. 33 derajat. Tepat jumlah yang ingin kuminum. Ia masih sama—terlalu terhitung.

Aku baru kali ini mengungkapkan cinta setelah lima tahun. Jika menunda sehari lagi, perasaan ini akan membusuk dan mati. Maka dengan tangan gemetar kuletakkan gelas dan bicara seolah gila.
Aku, maksudku, aku mencintaimu.

Ia tersenyum. Saat mengucap terima kasih, sudut bibirnya naik 17 derajat, seperti biasa.


Suhu Rasa yang Tak Seimbang

Aku mengucap cinta, ia mengucap terima kasih. Di antara kami tercipta jurang selebar suhu tubuh manusia—37 derajat Celcius—yang ternyata mematikan.

Nafasku adalah anak panah menuju ujung,
sedangkan jawabannya tak menangkap, tak pula menahan,
hanya menatap langit lalu berkata, "Indah."

Saat itu aku tahu. Pengakuan cinta bukanlah pertukaran antara dua hati. Ada yang melempar, ada yang menghindar.


Cerita yang Bisa Disalahkan sebagai Fiksi

Kasus 1. Topeng bernama "Park So-jin"

Musim dingin lalu, aku tak sengaja mendengar percakapan di depan kamar mandi bar.
Wanita: Aku sungguh menyukaimu.
Pria: …
Pria: Maaf, terlalu tiba-tiba.
Wanita: Tiba-tiba? Sudah empat tahun kita bertemu.
Pria: Makanya aku berterima kasih. Sungguh.

Sejak hari itu Park So-jin tak pernah muncul lagi di bar itu. Menurut pegawai, cermin kamar mandi wanita retak.

Kasus 2. File rekaman "Kang Yu-na"

Seorang pembaca pria mengirimkan pesan suara via KakaoTalk. Ia sudah enam tahun tanpa pacaran.

Wanita: Selama ini hanya kamu yang memberiku rasa ini.
Pria: Apa?
Wanita: Degup. Tapi sekarang rasa itu sakit.
Pria: …Maaf.
Pria: Jika ada yang pernah kuberikan, itu hanya "maaf".

Di ujang rekaman terdengar pintu mobil tertutup. Lalu suara tetesan air mata—2,3 detik.


Mengapa Kita Terus Mendidih dalam Derita

Para psikolog berkata: ucapan "aku mencintaimu" sebenarnya teriakan selamatkan aku. Saat teriakan itu bergema sebagai "terima kasih", kita mati dua kali. Sekali karena kepeduliannya yang dingin, sekali lagi karena sia-sianya nafsu kita.

Namun yang membuat kita terus bertahan adalah harapan sakit bahkan pada gema itu.
Mungkin nanti terdengar berbeda.
Mungkin bila kuteriak lebih keras responsnya berubah.

Ini perjudian. Taruhannya hanya satu—harga diri sendiri.


Suara Pintu yang Tertutup

Lee Jun-hyuk memutus kontak sejak malam itu. Di grup obrolan, ia diam-diam menekan tombol keluar—dalam satu detik.
Aku tak pernah mencarinya. Kata "terima kasih" yang ia beri terlalu besar, tak ada celah untukku masuk.

Hingga hari ini aku menatap gelas malam itu. Es telah mencair, tapi air yang tersisa masih dingin—seperti 0,5 derajat ketidakberdayaan yang tersisa setelah mencuri sisa hangat seseorang.

Maka kutanyakan:
Apakah kau masih meneguk "terima kasih" yang hangat itu,
atau akhirnya punya nyali menukarnya menjadi racun lalu meludahkannya?

← Kembali