Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

40 Tahun, Ujung Jari yang Tiba-tiba Gemetar dan Kamar Mandi Gelap yang Tak Dilihat Siapa Pun

Pemberontakan tubuh yang datang lagi pada usia 40-an yang kira sudah lewat masa remaja. Ketika rutinitas biasa runtuh, catatan gemetar ketakutan mengizinkan seseorang.

pubertas-keduagemetardosa-nafsucinta-gelapumur-40
40 Tahun, Ujung Jari yang Tiba-tiba Gemetar dan Kamar Mandi Gelap yang Tak Dilihat Siapa Pun

Pertemuan pertama, malam ia menumpahkan kopi "Maaf, tangan saya licin." Meja kafe dengan lampu kuning yang berkedip. Ketika ia menunduk menyeka tumpahan, tiba-tiba punggung tangan saya terasa perih. 0,7 detik mata bertemu. Saya yang menengok duluan. Lalu tanpa sadar menarik napas dalam-dalam. Dalam empat puluh tahun hidup, belum pernah terjadi begini. Seperti setelah ciuman pertama di usia lima belas, tengkuk saya terbakar panas. --- ## Suhu bisikan > Apa ini, nama yang tak terucapkan Saya kira masa remaja sudah usai. Dua puluhan, tiga puluhan, tubuh saya hanya belajar satu hal: efisiensi. Menggandeng tangan, bertatapan, berciuman semua dijadwal dan selesai. Namun kini berbeda. Mengetik notulen rapat pukul tiga sore, tiba-tiba ujung jarinya muncul dan paha bagian dalam saya geli. Menggemparkan jelas sekali. Lengan yang terlihat saat ia menggulung lengan kemeja kotak-kotak, tetes kopi mengalir di atasnya. Saya kini seharusnya sudah mengeras. Sendi terasa seperti ulat berduri menancap, setiap pagi pinggang kaku. Tetapi tetap saja jantung berdebar, masuk akal? Ini bukan pubertas. Ini pemberontakan yang lebih gelap, lebih terlambat. --- ## Kisah Yumi: pintu belakang kantor Yumi (42) setiap Rabu malam keluar lewat pintu belakang kantor. Jam sembilan malam, di ujung koridor gelap, intern berusia 31 tahun, Jihwan, menunggu. Pertama kali kebetulan. Menutup kantor setelah lembur, Jihwan berbisik. Sunbae, hari ini kenapa cantik sekali? Yumi tertawa menyepelekan. Namun minggu depan, ia kembali berdiri di pintu belakang. Menerima latte hangat yang dibawa Jihwan, saat jari mereka bersentuh Yumi sadar suaranya bergetar. Sejak itu mereka berjalan tanpa kata. Jalur setapak taman yang tak diketahui siapa pun, tangan tak pernah berpegangan. Hanya Jihwan yang sesekali menepuk belakang tangan Yumi. Pulang ke rumah, Yumi lama menatap diri di depan kaca kamar mandi. Keriput di sudut mata makin banyak, namun bola mata tetap bergetar. --- ## Seung-joon dan Su-jin: dalam bus Seung-joon (40) menikah dua belas tahun. Akhir pekan berdua dengan istri Su-jin (39) dalam perjalanan. Di bus, Su-jin menopang kepala di bahu Seung-joon dan tertidur. Wanita di kursi sebelah tergelincir, kepala sedikit bersandar di lengan Seung-joon. Nampak berusia 27 tahun, tidur tetap pulas. Aroma parfum lembut. Lemon, debu, dan gula. Seung-joon tak bisa bergerak. Diam saja. Detak jantung bergema di telinga. Seperti akan meledak dadaku. Setiap bus bergetar, rambut wanita itu menggelitik lengan Seung-joon. Empat puluh menit penuh, Seung-joon merasakan napasnya. Apakah ini pengkhianatan, atau sekadar voyeur tanpa daya. Pulang, Seung-joon bercinta bergairah dengan Su-jin. Untuk pertama kali, menutup mata membayangkan ciuman lain. --- ## Geliat terlambat Mengapa kita kembali tergoda. Istilah pubertas kedua terdengar janggal. Sebenarnya rasa penasaran yang tak selesai tiba-tiba muncul. Setelah bahu kaku, nafsu tua yang dulu hanya dicicipi tiba-tiba muncul utuh. Berbeda dengan rasa penasaran pemula dua puluhan. Gemetar empat puluhan lebih mengkhianati. Kita sudah tahu. Rasa pahit akhir, pola luka, cara ditolak. Namun tetap saja kita bertatapan, untuk memastikan semuanya. Aku masih bisa membara. Pernyataan pilu ini memilukan. --- ## Api hitam di cermin Wajahku di pantulan kaca. Masih ada di sini. Satu nafsu terpojok belum padam. Apakah itu menakutkan, ataukah harus disyukuri. Tanda jari yang diulurkan dari lubuk terdalam, bisakah kuabaikan. Namun walau kuabaikan, tubuh mengingat. Gemetar, panas, pandang yang tergelincir. Ini pubertas keduaku yang harus kutanggung. > Malam ini, pernahkah kau merasa gemetar di depan pintu tertutup tanpa diketahui siapa pun. Dan apakah kau membuka pintu itu, atau mengunci lagi dan berbalik. --- ## Pertanyaan terakhir, bisik sendiri Ia bertanya pelan. "Tangannya, baik-baik saja?" Aku mengangguk ketimbang menjawab. Saat itu, gemetar yang kembali setelah dua puluh lima tahun hidup di telapak tanganku. Apakah ini cinta, obsesi, atau penyakit, kini tak penting. Masalahnya begini. Besok pagi, bagaimana lagi aku menahan gemetar ini.

← Kembali