Kakiku terjulur di ujung ranjang milik seseorang. Aku belum membuka mata, tapi napasmu sudah menggelitik telingaku. Katamu kita cuma teman. Ya, memang cuma teman. ‘Hari ini aku harus pakai dalih apa lagi?’ --- ## Kata yang terlepas dari bibir terkunci Sejujurnya, aku tahu sejak awal. Setiap malam mabuk, setiap kali kau menuntunku masuk ke kamarmu, ucapan “kita memang cuma teman” terasa seperti benang sehalus rambut. Benang itu tak mampu menekan hubungan kita, juga tak mampu memutusnya. Ia hanya mengendur, lalu kita saling mengecek suhu tubuh masing-masing. > “Kalau begitu, kita memang teman sejati, ya?” > > “Iya. Teman yang sedikit lebih hangat saja.” Setiap kalimat itu membuat seonggok rasa di dadaku matang perlahan. Semakin kita mengenal tubuh satu sama lain, semakin pula kita tahu luka yang kita miliki. Karenanya, semakin mudah pula untuk saling menghancurkan. --- ## Detik ketika ciuman pertama bukanlah yang pertama Do-yoon baru saja mengosongkan gelas bir ketiganya ketika ia tak sanggup melepaskan tangan dari rambut Su-yeon. Mereka bertemu di bangku kuliah dan kini sudah merayakan ulang tahun bersama untuk ketujuh kalinya. Keduanya selalu berpura-pura sendirian sambil menertawakan kisah cinta satu sama lain. Hari itu pun tidak berbeda. Su-yeon mengangkat satu alis ketika mendengar kisah cinta terbaru Do-yoon. “Kalian ciuman?” “Iya.” “Terus putus?” Do-yoon menahan pandang. Pantulan lampu di bar membuat leher Su-yeon tampak putih berkilat. Saat itu, Do-yoon hanya melihat leher yang menempel erat, bukan Su-yonan. Mungkin karena alkohol. Atau bisa jadi bukan. Malam itu, Su-yeon merebahkan diri di ranjang Do-yoon. Awalnya sunyi. Hanya ujung jari kaki yang saling menyentuh. Lalu Su-yeon berbisik. “Apa kita memang seharusnya begini?” Do-yoon tak menjawab; ia hanya menggenggam satu jari Su-yeon. Jari itu perlahan—amat perlahan—meluncur di atas dadanya. Sejak saat itu, kata teman menjadi lelucon paling getir. --- ## Kisah kedua: Alkohol tak pernah meminta maaf Jin-sol dan Jae-min sudah lima tahun menjadi partner olahraga. Mereka bertemu di kolam renang, berlatih bareng, berkeringat, lalu kebetulan bertemu lagi di kamar mandi. Jin-sol merasa tatapan Jae-min kerap melintas di perut bawahnya. Jae-min selalu berkata, “Enak banget latihan sama hyung,” sambil menepuk bahu Jin-sol. Jumat malam, mereka memboyong satu kaleng bir dan menjejak kamar kos Jin-sol. Jae-min membuka bir sambil berujar, “Hyung, sejujurnya aku aneh hari ini.” “Apanya?” “Nggak suka geli-geli sendiri.” Jin-sol tertawa, lalu menutup kaleng. Tatapan Jae-min terlalu dekat. Tangannya merayap ke paha Jin-sol. Telapaknya panas. “Gimana kalau kita coba sekali aja?” Jin-sol langsung menutup mulut Jae-min dengan bibirnya. Bibir saling menerkam. Aroma seragam olahraga, alkohol bir, dan diam panjang bercampur. Sejak hari itu, mereka tak lagi berkata apa-apa. Kalau bertemu di kolam, cukup saling angguk. Rahasia selalu meninggalkan suhu lebih panas. --- ## Mengapa kita tergoda pada hubungan ini Nikmat menyelinap menatap seseorang tanpa diketahui orang lain. Rasanya seperti menyelundup keluar lewat pintu belakang sekolah. Label teman membuat kita lebih berani. Kecoak berbisik, ‘Kalau pun kandas, kita masih bisa jadi teman.’ Padahal itu kontrak paling sadis yang kita tahu. Para psikolog menamainya teori dinding api. Tanpa status pacar, kita malah bisa menelusuri lebih dalam. Kita menipu diri: ‘Kita cuma saling pinjam sesekali.’ Tapi setiap kali meminjam, kita diam-diam menginginkan lebih, hingga bau itu tak lagi tersembunyi. --- ## Tangan siapa yang kau genggam tadi malam? Waktu kita tertidur, tanganmu masih terkatup di pinggangku. Begitu mata terbuka, haruskah kita kembali mengucap ‘kita kan teman’? Atau hari ini pun, kita lagi-lalu hanya menjuntai kaki di ujang ranjang, mengecek suhu tanpa sepatah katapun. > “Toh kita masih teman, kan?” Pertanyaan itu hingga kini belum terjawab. --- Jujur, apakah kau mencintai orang yang tadi malam tidur di sampingmu?
2026-03-22
Teman Sekaligus Selingkuh di Ranjang: Kemunafikan Kita
Dua sahabat yang berbohong dengan label ‘teman biasa’ sambil berbagi tubuh. Di balik alkohol dan diam malam, mereka menanyakan cinta sejati.
← Kembali