Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Ketika Sebuah Pesan Singkat Membuat Kekasihku Meledak di Tengah Game, Aku Menyaksikan Wajah Aslinya

Sebuah notifikasi singkat membuatnya berteriak dan meninggalkan game. Di balik topeng asmara, wajah sebenarnya terbuka.

psikologi-cintapasangankecanduan-gamerasa-milikititik-lemah
Ketika Sebuah Pesan Singkat Membuat Kekasihku Meledak di Tengah Game, Aku Menyaksikan Wajah Aslinya

"Hei, sebentar." Saat Junhye melepas headset dan menengok ke luar layar, ponselnya berdering. Sebaris pesan KakaoTalk. Sujin: "Hari ini juga semangat ya hehe." Itu saja. Namun yang keluar dari tenggorokannya bukan tawa, melainkan geraman seperti binas. "Apaan sih, brengsek." Ia menjerit dan melonjak dari kursi. Di jendela obrolan dalam game, hanya tersisa satu kata: brb. Aku menatap punggungnya dengan bingung lalu mengikuti ke ruang tamu. Junhye menutup pintu kamar mandi tanpa suara, lalu terdengar sesuatu pecah di dalam. Dungkak. Seperti kaca yang hancur. Aku menahan napas di depan pintu.

Kenapa aku gemetar ini? Cuma satu baris pesan darinya.


Telapak tangan berkeringat

Pintu terbuka. Di dagu Junhye menetes keringat tebal. Ia masih tersenyum, tapi senyumnya mengeras seperti topeng. "Kenapa, putus koneksi ya?" Tanpa kata, ia memelukku. Aroma pasta gigi dan keringat menyeruak. Detak jantungnya kencang sekali.

Siapa orang ini sebenarnya?


Suhu wajah tanpa riasan

Malam itu, setelah Junhye tertidur, aku bangkit. Di lantai kamar mandi, cermin retak menutupi langit-langit. Di kulitnya tampak memar sebesar telapak tangan. Layar mati, tapi headset masih berpendar merah, seperti saksi bisu.


Bedah hasrat

Mengapa satu baris itu, nama "Sujin", membuatnya meledak? Bukan sekadar cemburu. Itu bentuk paling panas dari rasa milik. Saat objek yang kau kira bagian dari dirimu tiba-tiba meresap ke dunia lain. Game adalah wilayah kendali sempurna baginya: satu ketukan keyboard, satu klik mouse, semua tunduk. Tapi satu baris pesan menghancurkan kendali itu, serangan dari luar. Saat itu, Junhye bukan lagi raja kerajaan yang ia kuasai, melainkan anak kecil yang membawa bekal, terpingkal-pingkal.


Kisah nyata 1 — Minseo & Hyunwoo

Minseo suatu sore masuk ke grup obrolan tempat Hyunwoo bermain. Ia tahu nama panggungnya: Hyunwoozjang. Hyunwoo menulis, "Pacarku datang." Puluhan "hahaha" melambung. Malamnya, Hyunwoo mengirim pesan yang sama padanya: "Hari ini juga semangat ya hehe." Minseo matikan layar, lalu nyalakan lagi. Ia merasa Hyunwoo memanggilnya "nasi kotak" — habis dimakan, tinggal buang.


Kisah nyata 2 — Ara & Dohyun

Dohyun bangun pukul 3 pagi tiap hari untuk raid. Ia menyebutnya konser. Ara hanya bisa memandangi punggungnya hingga fajar. Suatu subuh, Ara membuka kalender ponselnya. Tak ada "Ulang tahun Ara", hanya "Raid terakhir" yang tercetak merah. Keesokan pagi, Ara berkata, "Aku juga ingin bikin karakter." Dohyun menoleh. "Kamu kan dunia nyata."


Mengapa kita tergoda?

Realita terlalu lambat, game terlalu cepat. Di antara keduanya, kita merasa selalu kehilangan sesuatu. Ledakan kekasihku bukan sekadar ledakan cemburu. Itu ketakutan karena ruang bertukar tempat. Saat kau — yang kupikir wilayahku — tiba-tiba berkomunikasi dengan dunia luar. Kita terpikat pada cerita ini karena alasan sederhana: tanpa sadar, kita tak ingin jadi NPC dalam game orang lain.


Pertanyaan terakhir

Ketika Junhye kembali ke depan layar, aku menatap punggungnya dan bertanya, "Kau juga akan mengirimiku pesan?" Ia diam. Tapi aku tahu: sedang mengetik. Dan pesan itu tak pernah sampai padaku.

← Kembali