"Eh, malem ini luang nggak?"
Notifikasi KakaoTalk berdering saat aku baru setengah jalan mengancing kemeja. Yujin—kekasihku—terbang dengan penerbangan dini hari tadi, tinggal aroma sisa parfumnya berkelana di rumah. Di layar, nama ‘Minji’ terpampang seperti noda yang tak kunjung hilang.
Di bangku kuliah, kami bukan sepasang kekasih, tapi kami berpisah tepat saat kupu-kupu mulai liar di perut kami.
Kenapa baru sekarang?
Kenapa ia menunggu celah 72 jam tanpa Yujin?
Hari itu, yang menggerakkan kami bukan sekaleng bir
Minimarket langganan kami masih sama. Minji masih tak sanggup menyalakan rokok, hanya menggigit bibir dengan erat.
"Kamu kan suka es krim batang, ya?"
"Iyaa, pernah tergigit lidahnya, inget?"
Tawa kami meledak, lalu hening menyusul. Kami saling menilai. Pesan Yujin belum datang, jarum jam baru menunjukkan tujuh malam.
Anatomi nafsu: pengkhianat kecil di dalam diriku
Dia tiada. Maka aku aman.
Persamaan aneh berputar di kepalaku. Bila Yujin ada, kisah ini takkan pernah dimulai—atau setidaknya ada garis merah yang jelas. Tapi kenyataannya lain. Ketiadaan seseorang bukan sekadar peluang; itu izin usaha. Zona tak beraturan yang berteriak: di sini hukum tidak berlaku.
Kata-kata yang terjatuh dari bir keempat
"Gimana kalau kita coba… sebentar?" bisik Minji.
Ia menurunkan gelas ke meja, miringkan kepala. Kilau matanya sama persis saat kami berjalan di kampus tengah malam, tangan berkelindan, dulu.
Aku tak menjawab. Hanya mengeluarkan ponsel, lalu mengaktifkan mode pesawat. Satu gerakan itu menutup semua pintu.
Pesan Yujin: 43 notifikasi. Yang terakhir berbunyi:
"Sudah sampai! Langsung video call yuk."
Loteng, rumah baru Minji
Dari kamar mandi, Minji keluar hanya mengenakan kaos tipis. Ia menutupi tubuhnya dengan hoodie milikku—warna abu-abu hadiah Yujin.
"Maaf, bau aku ya?"
"Nggak apa-apa."
Ujung kakiku menapak lantai loteng yang masih menahan sisa panas akhir musim panas. Di meja samping ranjang, Minji meletakkan dua kondom—bungkus hijau. Lelucon kami di masa kuliah langsung teringat.
"Kalau waktu itu kita benar-benar melakukannya, gimana ya?"
Aku mengangguk. Tapi pandanganku bergetar. Senyum Yujin, ciuman pertama Minji, waktu yang tak pernah bertemu, semuanya tumpang tindih memekakkan kepala.
Mengapa kita tergila-gila pada hari terlarang ini
Para psikolog menyebutnya pelanggaran impulsif. Bukan karena penilaian kabur; justru saat pikiran kian jernih, kita makin yakin itu salah, namun tetap melangkah.
Yang menanti di ujung bukan kenikmatan semata, tapi pengakuan dingin: aku pun bisa mengkhianati.
Kita bukan menjaga hubungan demi pasangan, tuhankah; kita sedang membuktikan bahwa diri kita tak sekokoh yang kita kira.
Maka ketika napasku menyentuh leher Minji, yang kurasakan bukan euforia, tapi kepastian: sekarang aku bukan lagi tak bersalah.
Dini hari pukul dua, akhir yang sudah diumumkan
Minji bertanya, "Kalian kapan ketemu lagi?"
"Besok malam pesawatnya," jawabku.
Ia memukul lenganku tanpa kata, lalu duduk di ujung ranjang, meneguk sisa bir. Kaleng setengah kosong segera tenang.
Aku mengenakan kembali pakaian dan melangkah keluar. Lampu koridor menyorot setiap langkah seperti lampu kilat.
14 detik menunggu lift, aku menelepon Yujin.
"Sudah sampai?"
"Tidak bisa tidur. Kamu nggak ada…"
Dustaku mengalir lancar. Malah terasa seperti kebenaran.
Aku berusaha menepuk-tepuk bayangan punggung Minji, lantai loteng yang membara, bungkus kondom hijau—agar lenyap setiap kali mataku terpejam.
Pertanyaan terakhir
Ketika Yujin pulang, sanggupkah kau mengucapkan cinta?
Ataukah bibirmu akan melontarkan jeritan yang masih mengecap kulit Minji?