Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Mengapa Nenek Setiap Malam Memeluk Palu Besi

Sejak 27 tahun ditinggal mati, nenek 92 thn mengunci pintu dan memeluk palu bekas suaminya. Kini benda itu hidup dalam nafas gelapnya.

tabukehilangannafsulansiabenda
Mengapa Nenek Setiap Malam Memeluk Palu Besi

Ketika palu besi terjepit di antara paha nenek, udara di kamar mengecil. Gagangnya berkarat namun hangat. Ia mengangkat kamar mandi, menekan benda besi itu lebih dalam. Kepala palu yang berat menelusup ke daging—posisi yang bagi siapa pun jelas seperti menelan kemaluan kekasih. "Mayat itu lebih panas daripada waktu ia masih hidup," bisik nenek. Ujung lidahnya menyentuh besi, dan lidahnyalah yang paling cepat tunduk. Di tangan yang mencengkeram palu, kapalan menempel seperti kulit keropeng. Sejak usia 65 hingga kini 92, tangan itu setiap malam memegang benda besi itu. Sejak 1997, sejak suami pergi.


Jam 2.47 dini hari. Tak ada cahaya di luar jendela. Nenek menarik palu ke dalam selimut. Selimut menerpa udara, dan di ujung jarinya tercium nafas suami. Sewaktu hidup, suami tetap berpegang pada palu di bengkel besi hingga akhir. Nenek masih percaya bisa meraba lengannya yang berkeringat bersama bunyi besi ketika itu dengan ujung lidahnya. "Hari ini kakiku sakit lagi," katanya. Tak ada jawaban. Palu pun meluncur perlahan, mengetuk pergelangan kakinya. Getaran yang beresonan di setiap tulang adalah kuku suaminya. Nenek menekuk lutut, mengusap gagang palu ke payudaranya. Alih-puting, besi—dingin di dadanya membuat tubuhnya tegak. Napas makin kasar, palu terasa makin berat. "Sekarang kaulah yang menindasku."


14 Agustus 1997, 4.12 pagi. Suami melepas tangan perawat dan menutup mata. Di rumah duka, nenek memeluk palu, bukan peti abu. Ketika anak laki-lakinya bertanya, "Apa itu?", ia membisu. Anak itu mengerutkan alis, anak perempuan menahan tangis di samping jenazah. Mereka berkata di belakangnya, dia sakit jiwa. Nenek menjawab, "Aku memang begitu." Sejak hari itu ia mengunci pintu dari dalam. Hanya kurir yang keluar masuk, hanya bau mayat suaminya yang masuk.


Musim dingin 1998, Stasiun Jeonju. Nenek naik kereta api sambil memegang palu suaminya. Di luar jendela, padang beku meluncur perlahan. Ia menaruh palu di pangkuan, memasukkan satu jari ke lubang gagang. Ketika ujungnya menyentuh dasar, jarinya meraba ujung tangan suami di dalam besi. Kereta meluncur pelan. Nenek menempelkan palu pada kaca jendela. Buk. Kaca retak. Petugas datang. Nenek berkata, "Mengambil kekasih mati."


2 Juni 2024, hari ini. Nenek melepas kacamata, menatap palu. Bekas sidik jari suami masih tampak di ujung gagang. Ia menempelkan putingnya pada ujung kepala palu. Dingin besi membuat putingnya mengeras. Serbuk besi menempel di kulit. Nenek mendorong palu perlahan ke bawah. Ketika palu menyelinap di antara pahanya, ia menutup mata. Gemetar hari pertama suaminya memegang palu naik dari perutnya. "Kau belum juga pergi." Ia memeluk palu erat, masuk ke dalam selimut. Palu mengetuk dadanya, perutnya, pahanya. Setiap ketukan membuat dagingnya bergetar. Nafas suami meresap ke seluruh tubuh. Ia memasukkan palu ke mulut. Rasa besi bercampur ludah. Lidahnya menahan ujung palu. Ketika ia menutup mata, suaminya berada di atas lidahnya.


3.21 pagi. Nenek menempelkan palu di kemaluannya. Dingin besi menusuk. Ia menggerakkan palu perlahan. Naik, turun, naik—irama persis seperti saat suami masih hidup. Napasnya tersengal. Semakin palu mengetarkan, semakin panas tubuhnya. Pada ketukan terakhir, ia memanggil nama suami, "Choi Young-su."


7.12 pagi. Nenek menyelipkan palu di bawah bantal. Menutup mata, seolah suami duduk di samping kepalanya. Ia mengulurkan tangan, memegang gagang palu. Hari ini pun ia masih hidup. Palu tetap dingin. Namun dingin itu pun adalah suhu tubuh suami. Nenek berbisik, "Esok, tekan aku lagi dengan palu ini."


Seruan Pasti ada yang bertanya. Mengapa memeluk sisa besi alih-alih orang mati. Nenek tak menjawab. Ia hanya mengangkat palu, mengunci pintu dari dalam. Saat fajar, ia memasukkan palu jauh ke dalam tubuhnya. Di sanalah suami bernafas. Di atas hembusan itu, nenek terus hidup. Pada hari ia mati, palu akan ikut dikuburkan. Baru kemudian suaminya akan hidup kembali.

← Kembali