Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Dia Hanya Kirim Hati, Aku Sudah Lamaran dalam Angan

Satu baris balasan, emoji hati, tatapan lirih—mengapa kita haus setengah perhatian? Apakah kau juga tersesat dalam ilusi panas itu?

asmarakhayalanpsikologisitu-situ-annafsu

Pukul 23.47, lampu belakang Hongdae semua berwarna kuning. Minu lebih dulu bangkit, berjalan di depanku lalu tiba-tiba berbalik. Mundur perlahan, masuk ke dalam cahaya. Napasnya menyentur tengkuknya yang terbentang panjang oleh bayangan. Jaraknya selembar cangkir bir. “Aku benar-benar nyaman bareng kamu. Tahu maksudku?” katanya.

Minggu kedua kami minum berdua, siluet kami di dinding bar saling menempel. Ia menyentuh punggung tanganku. Bukan hanya sentuh—ia menggoreskan ujung jarinya di kulitku. Di jarak tak lebih dari satu inci, nafasnya menggelitik pergelangan tanganku. Panas. Malam itu aku tidur tersentak-sentak. Nyaman, bukankah itu awal dari cinta?


Satu jari ketik, musim semi pun mekar

Sejak hari itu, KakaoTalk-nya Minu menjadi termometer hariku. Pukul 02.14 dini hari: “gue lg ngakak” satu baris, aku mengunyah tiga hati di belakangnya seolah melihat masa depan. Ia membalas keesokan harinya. “Tidur nyenyak?” enam huruf saja. Itu cukup membuatku berlari-lari di gerbong kereta Senin pagi.

Yang kumau bukan itu, kan? Aku ingin yang lebih dalam. Lalu mengapa aku ikut melantunkan lirik lagu yang kau tak pernah nyanyikan?

Dua bulan kami bermain ping-pong di wilayah abu-abu bernama situ-situ-an. Ia memberi ‘🔥’ satu huruf untuk potongan rambut baruku. Aku menambahkan dengan penuh harap, “Mungkin karena sibuk ya, lain kali lihat langsung, ya?” Ia mengakhiri dengan ‘haha’ dan aku kembali memadamkan diri selama 48 jam.


Udara dalam mobil itu manis

Sujin, 29 tahun, asisten manajer pemasaran. Setiap hari ia menerima satu like dari seniornya di klub dalam kantor, Jaehyeong. Di dalam lift lantai 7, hanya mereka berdua. Jaehyeong berdiri di depan pintu, menghalangi Sujin dari belakang seperti memagari. Lampu kuning merembes di antara pintu yang menutup, memantul di mata mereka.

“Nanti habis arisan, aku antar pulang naik mobil ya?” ajak Jaehyeong. Sujin mengangguk.

Dalam mobil, udara antara kursi sopir dan penumpang terasa manis. Jaehyeong menghentikan persneling ke posisi P, menatap wajah Sujin. Jarak seujung kuku. “Akhir-akhir ini pulang selalu lama. Tapi kalau sama kamu, sebentar terasa,” bisiknya.

Tangan Sujin menyentuh tangan Jaehyeong, bukan hanya sentuh—diletakkan lembut. Jaehyeong mematikan mesin. Suara mesin hilang, tinggal napas mereka yang saling menaut.

Jaehyeong menggenggam tangan Sujin. Lama. Tanpa tatapan, tanpa kata.


Celah 17 detik di lift

Keesokan harinya, lift yang sama. Sujin masuk duluan. Jaehyeong menyusul. Selama 17 detik pintu menutup, jarak mereka 30 cm. Jaehyeong menyentuh ujung rambut Sujin dari belakang. Sujin tak menoleh.

Jaehyeong memeluk pinggang Sujin. Tubuh mereka rapat. 17 detik berlalu, Jaehyeong melepaskan peluk. Pintu terbuka. Seolah tak terjadi apa-apa, mereka berjalan berdampingan keluar.

Pasti ini dia unggah hanya untuk aku, kan?

Sujin menyeruput Mirinda Strawberry hingga pukul 2 pagi, sambil menelusuri insta story-nya. Jaehyeong menanyakan “Lagi di jalan pulang?” Sujin ingin berkata ia ingin berpeluk. Tak ada jawaban. Tiga puluh menit kemudian Jaehyeong mengirim satu tautan YouTube—pop playlist enak saat nyetir. Sujin memutarnya berulang sepanjang malam.

Ini pasti untukku, kan?


Mengapa kita bertumpu pada ini?

Para psikolog menyebutnya penguatan sebagian (partial reinforcement). Seperti lotre—sekali menang, sepuluh kali kalah. Manusia justru lebih setia pada hadiah tak pasti ketimbang hadiah yang pasti.

Yang kuinginkan bukan Minu. Tahu kan. Aku kecanduan pada hasrat yang tak terjamah.

Kita menyulap setengah perhatian menjadi cinta utuh. Ilusi paling kuat lahir dari keengganan sepenuhnya mengizinkan kemungkinan bahwa mereka tak mencintai kita. Diam diartikan sibuk, jawaban singkat diartikan hati ada.


Apakah kau juga berada di wilayah abu-abu seseorang?

Mungkin saat ini seseorang sedang menunggu dua emoji hati. Detak jantung naik-turun di antara layar mati dan hidup. Maka kutanya: apa kau membayangkan percintaan di balik tirai dari satu kata “iya” yang dikirimnya tadi malam?

Hingga kapan kau akan menatap jurang khayalan itu, sambil terus membohongi diri bahwa itu cinta?


Kebenaran dalam bayang

Minu dan aku akhirnya berpisah dalam sebulan. Ia berkata, “Kita teman saja ya.” Aku mempercayai itu ketulusan. Mungkin kini ia mengirim hati baru kepada orang lain.

Aku masih mengetuk profil KakaoTalk-nya. Terakhir daring tiga hari lalu. Tetap kutunggu hatinya. Sebab aku masih haus pada setengah perhatian itu.

Sebab aku ingin mempercayai bahwa itu cinta.

← Kembali