“Seandainya saja dia berbohong”
“Perutku lapar,” katanya, berdiri di ambang pintu. Sore musim dingin, kamar tanpa pemanas. Bahunya tidak setitik salju pun melekat, tangan menggantung kosong. Tak ada kantong plastik, sebatang bunga, bahkan sekedar nasi kotak minimarkat. Hanya tangan hampa. Aku tetap membuka pintu, seperti didorong ke belakang. Kenapa harus hari ini dia datang.
Jebakan yang mekar di atas tangan kosong
Kita acap kali bilang ‘aku mengharapkan sesuatu’. Padahal yang benar-benar menggerakkan kita bukan harapan, melainkan rasa malu ketika harapan itu runtuh. Ketika dia datang tak membawa apa-apa, aku baru pertama kali menghadapi pertanyaan: ‘Apakah aku tidak lebih dari nihil?’ Pertanyaan itu mengupas habis harga diri yang kusembunyikan, lalu menghadiahkan sensasi terpaku di atas rasa hina.
Bukan ‘mengapa aku di sini’, melainkan ‘mengapa aku tak bisa pergi’ yang menjadi pertanyaan sejati. Seperti membuka kulkas saat perut tengah lapar, lalu menutupnya lagi tanpa mengambil apa pun. Saat kelaparan terkonfirmasi, rasa lapar itu terasa makin nyata, dan kita candu pada ketidakpuasan yang tak terpuaskan.
Malam ke-49 Yuri
Yuri menjalin hubungan dengannya selama tiga tahun; hari jadi mereka tak pernah sekali pun dirayakan. Ulang tahun pertama, dia menegaskan, “Aku tak akan datang saat hari jadi.” Tahun kedua, dia tertidur lelap karena kerja lembur. Kali ini, tak sepatah pun pesan masuk. Namun Yuri tetap tersentak saat bel berbunyi.
“Ada pesanan antar?”
“Bukan, aku.”
Tentu saja, tangan kosong. Yuri mendorong kue cokelat di atas meja ruang tamu ke dalam kulkas. Cokelatnya meleleh menetes. Tapi aku pura-pura masih menyayangi kue itu.
Sepanjang malam, dia hanya menikmati tubuh Yuri; Yuri berdoa mata lelaki itu setidaknya selezat cokelat. Keesokan pagi, Yuri menemukan cincin 60 ribuan di laci meja rias—hadiah Natal lalu, dibeli dan disembunyikan sendirian. Saat itulah ia sadari: mencintai bukan soal memberi hadiah, melainkan lari dari hadiah.
Buku harian Minu
Minu adalah junior di klub kantor. Sang senior selalu mengajaknya “minum” usai rapat. Tapi selama enam bulan Minu tahu mereka hanya bisa bertemu di depan minimarkat dekat rumah senior.
Di sana, Minu selalu membeli menu yang sama: gimbap tuna, dua kaleng minuman berenergi. Semuanya bukan untuk Minu, melainkan camilan senior. Hari itu, ia membeli soju 30 ribu dan menunggu. Senior datang empat puluh menit kemudian, sambil mengutak-atik ponsel, “Kemarin habis minum lagi sama siapa gitu.”
Minu mengunyah gimbap sepotong habis. “Kenapa kau mau bertemu aku?”
Senior tersenyum mata lelah. “Enak aja kau ada.”
Minu menyukai bobot di balik kalimat itu. ‘Enak’ berarti tak mengharap apa-apa, kan?
Ia pulang tangan kosong, tapi meninggalkan sesuatu: harga diri di atas kasir minimarkat.
Mengapa kita candu pada tangan hampa
Psikolog menyebutnya ‘kecanduan ketidakpastian’ atau ‘obsesi penghindar’. Tapi definisi itu terlalu rapi. Alasan sejatinya lebih sederhana: kita menakar untuk membuktikan bahwa kita memang sudah kosong.
Saat menerima tangan kosong, kita kehilangan alasan untuk berharap, dan justru itulah kita tak kehilangan diri. Bukan kelaparan yang membuat candu, melainkan sensasi bisa merasa lapar. Bukan terluka, melainkan aman karena tetap berada di posisi bisa terluka.
Obsesi bukan versi rusak dari cinta. Obsesi adalah halusinasi yang mekar di atas puing cinta. Dan halusinasi justru lebih menggetarkan daripada kenyataan.
Saat kau menutup pintu, akankah engkau masih menjadi dirimu sendiri?
Akhirnya Yuri putus. Minu masih menunggu senior setiap pekan di depan minimarkat. Keduanya masih berhadapan dengan tangan hampa. Tapi itu bukan tangan kosong yang sama.
Yuri kini tahu dia tak menginginkan apa-apa; Minu sedang membuktikan bahwa dia memang tak pernah menerima apa-apa.
Malam ini, barangkali kau pun akan membuka pintu untuk tangan hampa. Atau, ingin membukanya.
Kenapa?
Saat kau menutup pintu, akankah engkau masih menjadi dirimu sendiri?
Di kamar yang hanya menyisakan tangan kosong, siapakah yang akan kau temui tatkala menatap cermin?