Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Ia Mengikuti Gadis 18 Tahun, tetapi Tak Pernah Sekali Pun Berkomentar

Pacarmu mengikuti gadis SMA 18 thn. Ia akan bilang ‘cuma iseng’, tapi kau tahu—ada nafsu tersembunyi yang menggulita.

ketimpangan kuasatabucembururasa milikkemerosotan hubungan
Ia Mengikuti Gadis 18 Tahun, tetapi Tak Pernah Sekali Pun Berkomentar

"Hari ini gadis itu mengunggah lagi, sinar matahari menari di atas rok sekolahnya"

Hari libur, pukul tiga sore, Min-seo rebah di tempat tidur dan tanpa sengaja menggenggam ponsel milik pacarnya, Jun-ho. Layar terbuka bebas—sidik jari Jun-ho sama dengan ujung jarinya yang tertidur. Begitu Instagram terbuka, jantung Min-seo terjun bebas. Pencarian terakhir: '@ye._.jin00'. Foto profilnya, gadis SMA berjaket sekolah dan rok pendek. Jun-ho memberi 47 tanda hati. Unggahan tampak diambil di Taman Olimpiade, sehari sebelumnya. Di bawah pohon palem, roknya sedikit naik, memperlihatkan betis putih. Min-seo menggulir layar. Setiap hari. Akun yang sama. Hati yang sama.


Tatapan yang Bimbang, Pupil yang Tersembunyi

Aku juga pernah berusia itu. Ingin rok lebih pendek, ingin sorot mata menatap.

Jun-ho mahasiswa pascasarjana. Min-seo sudah tiga tahun bekerja. Selisih usia empat tahun. Tetapi kadang empat tahun itu terasa sepuluh. Melihat akun Park Ye-jin, Min-seo baru pertama kali menyebut dirinya sendiri "tante". Apa dulu aku sekurus itu? Lemak di paha bagian dalam tampak mengendur. Jun-ho selalu bilang mencintai tubuhnya, namun kini perkataan itu terdengar dusta. Karena ia memandangi bahu putih gadis delapan belas tahun.


Saksi pertama, kisah Se-jin

"Aku sudah tanya. 'Kenapa kamu follow?'"

Se-jin menangkap cangkir Americano panas dengan kedua telapak tangan. November lalu, ia menemukan akun di ponsel suaminya, Min-hyuk—'@hr._.vely', siswi kelas dua SMA. Foto-fotonya kebanyakan selfie setelah les, di kereta bawah tanah. Di bawah masker tersungging bibir merah muda. Se-jin tanyai Min-hyuk. Kenapa follow?

"Cuma... kakak-adek gitu lho."

"Kakak-adek yang membidik close-up bibir?"

Min-hyuk malah kabur ke kamar mandi. Keesokan harinya, akun itu lenyap. Tapi Se-jin tahu—bukan diblokir, hanya disembunyikan. Sejak itu, setiap kali di mobil suaminya, Se-jin mencari sehelai rambut di jok belakang. Panjang dan berwarna, bukan miliknya. Ketika Min-hyuk memberi karet rambut baru sambil bilang "hadiah dari junior kantor", Se-jin langsung buang ke tong sampah. Karet rambut berwarna merah muda.


Saksi kedua, catatan Haneul

Haneul mengikuti pacarnya, Seong-woo, tiga bulan lalu. Klub di Shinchon. Seong-woo sedang menempuh ujian advokat. Namun yang Haneul lihat, Seong-woo memelangi pinggang gadis lain sambil berjoget. Gadis itu kelas tiga SMA, teman adiknya. Haneul merekam. Suara calon pengacara itu serak.

"Hyung... ngapain di sini?"

"...Haneul? Aku bisa kena hukuman ya?"

Malam itu, Haneul menangis sambil memutar rekaman. Keesokan harinya, Seong-woo berkata,

"Aku cuma... khawatir dia tersakiti."

Tersakiti? Siapa? Gadis delapan belas tahun itu? Atau dirimu sendiri?


Mengapa kita menginginkan yang 18?

Para psikolog berkata, "Obsesi lahir dari kekurangan." Tapi itu bohong yang pura-pura tidak tahu. Kita tidak sekadar menginginkan masa muda. Yang kita inginkan adalah putar ulang. Kembali ke usia dua puluh, memakai seragam, menjadi sorotan, seolah tak pernah menua.

Pria tahu ini. Makanya mereka follow. Sengaja tak berkomentar. Hanya melihat. Sebab itu tabu paling aman. Min-seo mungkin tak sesedih ini kalau Jun-ho meninggalkan komentar. Komentar adalah deklarasi perang. Tapi Jun-ho diam. Diamnya itulah pengkhianat terbesar. Min-seo menua, Jun-ho memandangi yang tak menua, dan di antaranya tak ada sepatah katapun.


Pertanyaan yang belum terucap

Min-seo memandangi punggung Jun-ho malam ini. Bahunya setelah mandi. Tetes air mengalir di atasnya. Min-seo mengulurkan tangan lalu berhenti.

Boleh kutanyakan?

Namun di detik itu ia tahu—sudah terlambat. Begitu ditanya, hubungan ini hancur. Jika tidak, ia akan membusuk begitu saja.

Malam itu, Min-seo tertidur sendiri. Jun-ho diam di ruang tamu, menekan ponsel. Layarnya lagi-lagi gadis ber-seragam. Min-seo berbisik, Aku tak bisa lagi menjadi 18 tahun versimu.


Kalau begitu, apakah kau masih sanggup mengucapkan pertanyaan itu? Ataukah memilih diam, membusuk dalam hening?

← Kembali