Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

30 Menit Jarak, Pria Itu Hanya Menatap Tubuhku — Tanda-tandanya Bagaimana Aku Tahu

Pria yang kaudekati benar-benar menginginkan dirimu, atau hanya kulitmu? Tinjauan mematikan saat kita memproyeksikan diri dalam nafsu orang lain.

tanda nafsularangan mesrapria yang hanya ingin tubuhketegangan seksual
30 Menit Jarak, Pria Itu Hanya Menatap Tubuhku — Tanda-tandanya Bagaimana Aku Tahu

Tengah malam lewat dua belas. Di ujung jalur kereta bawah tanah nomor 2, di bawah lampu neon redup, ia mendorongku masuk. Saat pintu mulai menutup, ujung jarinya menyentuh lekuk belakang leherku. Tubuh ini belum pernah kupeluk, namun ujung jarinya sudah terasa panas. Begitu bunyi isyarat berhenti, ia mundur selangkah sambil tersenyum. “Aroma rambutmu tadi, masih tersisa.” Ekspresinya menarik napas dalam. Pupilnya berkilau, tapi aku baru sadar ia tak pernah sekali pun memanggil namaku.

Kata terpanas dalam mulut

Setiap orang tahu bahwa manusia ‘ingin dipilih’, namun sebenarnya ‘alasan dipilih’ yang lebih penting. Sambil berharap tergores dalam nafsu seseorang, kita tak kuasa jika nafsu itu terlalu dangkal. Tatkala ia lebih lihai menyapa lewat gerak tubuh ketimbang nama, kita menyadari celahnya. ‘Apakah ia melihatku sebagai manusia, atau hanya menikmati suhu tubuhku?’ Pertanyaan itu akhirnya membengkak menjadi, ‘Sejauh mana aku sudah siap untuk dibuang.’

Hari itu, Sujin kehilangan bibirnya bukan kalung

Sujin, usia 29. Kantornya di pertigaan Stasiun Seoul, rumahnya di pintu masuk Universitas Konkuk. Dengan pria itu, jaraknya cuma 30 menit. Pertemuan pertama usai lembur di kedai izakaya reot. Begitu mata mereka bersua, ia segera mengecup punggung tangan Sujin. “Hari ini pakai parfum apa?” Namun pertanyaan nama ditundanya. Malam itu, Sujin merasakan jemarinya terus meraba bagian dalam sikutnya. Tanpa salam, ia melengkapinya: “Kulitmu tampak lebih putih malam ini.” Malam kedua. Ia menemaninya sampai depan rumah. Ketika Sujin menekan kode pintu, ia berbisik dari belakang, “Kalau kau diam di rumah, aromamu akan menguap ke seluruh penjuru.” Begitu ia selesai berkata, Sujin menutup pintu. Di dalam, ia menahan napas sambil menghapus kode itu. ‘Ia datang bukan mengejar diriku, tapi mengejar sesuatu yang kusembunyikan dalam tubuhku.’

Minwoo tiap pagi meniup napas, bukan nama

Minwoo, 31 tahun, fotografer studio. Sudah sebulan ia ber-‘situ-situ’an dengan pria itu. Jarak di Nonhyeon-dong, Gangnam, cuma 20 menit berjalan kaki. Tapi jarak yang dirasakan Minwoo bukan hitungan menit. Pukul dua pagi, setelah lampu studio padam. Saat Minwoo hendup menutup kamera, tubuhnya dipeluk dari belakang. Karena tingginya, cuping telinga Minwoo menyentuh dagunya. “Warna foto tadi terlalu panas. Kau juga merasakannya, kan?” Minwoo mengira ia sedang membicarakan foto. Malam itu, ia menidurkan Minwoo di sofa. Tanpa melepas satu pun pakaian, ia menjelajahi tulang rusuk Minwoo dengan jari—seperti menggambar. Tidak ada centimeter kulit yang terbuka, tapi ujung jarinya terus-menerus menyentuh ujung BH Minwoo. Pagi harinya, ia menyerahkan secangkir kopi dan berkata, “Besok jam yang sama. Pakai benda yang sama persis.” Baru saat itu Minwoo sadar: ia tak pernah dipanggil dengan nama. ‘Ia mengingat bungkusku, bukan aku.’

Tubuhku berbicara lebih dulu

Para psikolog berkata: “Ketika seseorang memandang kita sebagai ‘objek’, suhu kulit kita turun.” Tubuh kitalah yang bereaksi duluan. Minwoo mengecek termometer studio—0,7 derajat lebih rendah. Tapi kita mengira dingin itu adalah ‘degup jatuh cinta’. Sebab, ada harapan: ‘Aku juga bisa ikut lenyap.’ Ketika kita menyerahkan diri pada nafsu orang lain, ada saat kita ingin kontur diri kita menjadi kabur. Menjadi dipanggil lewat napas, suhu, aroma—bukan nama—kadang menyeramkan, namun juga terasa ‘hebat’.

Maka ku tutup pintu

Sejak hari itu, aku belum pernah memeluknya. Tapi aku tahu. Di ujung jalur kereta bawah tanah nomor 2, ia pasti berdiri. Di depan pintu studio gelap, ia pasti berdiri. Dan tiap 30 menit kubuka aplikasi, menelusuri posisinya. Seperti tubuhku memanggilnya lebih dulu. Yang kuingin ketahui hanya satu:

‘Saat kukonfirmasi nafsunya, apakah aku ingin mengakhirinya, atau malah ingin terbakar habis bersamanya.’

Sekarang, meski tahu seseorang hanya menginginkan tubuhmu, tahukah kau kenapa kau belum juga pergi?

← Kembali