Ciuman Pertama di Depan CCTV
"Ia menghitung berapa bayangan orang yang tercermin di pupilku."
Min-su, 47 tahun, terasa anakronis sejak hari pertama kami bertemu. Setiap kali aku tertawa dengan pria lain, ia seperti pendulum jam yang menakar detik—mengawasi setiap kedip mataku yang paling kecil pun. Lalu, tiap malam di ruang tamarnya, ia bertanya dengan suara yang hampir tak terdengar:
– Di tempat sepi sekalipun, apakah kau masih menginginkan yang lain?
Aku menjawab tentu saja tidak, namun ia tahu. Ia sudah mengenali cara dustaku.
Anatomi Nafsu
Hubungan ‘sempurna’ pada akhirnya adalah pengawasan tanpa ampun.
Min-su ingin mengetahui segala tentangku. Apakah aku mencium bau orang asing yang lewat di kereta bawah tanah? Apakah ada sentuhan fisik dengan rekan kerja saat jam makan siang? Siapa yang kuingat saat sendirian?
Ia mengajukan eksperimen kecil: selama seminggu, setiap malam aku harus menulis jujur dalam buku harian—apakah hari itu aku menginginkan orang lain. Imbalannya: ‘kebebasan sempurna’ darinya.
Anehnya, ia berjanji takkan pergi meski mengetahui seluruh nafsu ini. Aku menerima. Malam pertama kutulis:
– 15.17, tiba-tiba penasaran dengan jari rekan baru di sebelah.
Dusta di Tengah Surga
Min-su tersenyum membaca catatanku. Tapi senyum itu milik orang sedang menghitung. Ia berjanji membangunkan ‘surga sempurna’:
– Aku akan mengumpulkan semua yang kau inginkan dalam satu ruang. Agar kau tak lagi merindukan.
Aku tercengang, namun tersentak pula. Apakah mungkin?
Minggu depannya ia membawaku ke sebuah vila pegunungan. Di sana berkumpul semua yang kulirik atau kupikirkan berbulan-bulan: rekan baru, mantan kekasih, lelaki asing di kereta, bahkan tetangga yang belum pernah kubicarakan namun selalu memicu rasa penasaran. Mereka datang karena diundang ke ‘pesta spesial’.
Min-su mendorongku ke tengah mereka dan berbisik:
– Ambillah sepuasmu. Lalu katakan padaku kebenarannya.
Detik Kiamat
Yang kuinginkan ternyata adalah momen ini sendiri.
Semua objek nafsu berkumpul. Namun ketika itu tercapai, aku tersadar: aku rupanya mencintai ketegangan ‘tidak bisa dimiliki’. Tatkala segalanya menjadi mungkin, tiba-tiba aku tak menginginkan apa pun.
Tapi aku tak berhenti. Di hadapan Min-su, aku mencium satu, lalu yang lain. Ia menyaksikan. Matanya tetap tenang, tapi aku tahu: ia menungguku menghancurkan diri sendiri.
– Kini kau tak bisa berdusta lagi.
Malam itu kubuka kembali buku harian. Hanya satu baris yang sanggup kutulis:
– Aku membakar surga. Dan dalam apinya pun aku masih menginginkan seseorang.
Psikologi Tabu
Mengapa begitu sempurna milik justru melahirkan rongga yang lebih besar? Min-su tahu jawabannya. Ia memberiku kebebasan sempurna, lalu memaksaku menyaksikan nafsuku sendiri.
Kita pada akhirnya mencintai perbuatan menginginkan, bukan objek yang diinginkan.
Min-su, 47 tahun, mengerti bahwa nafsuku tak akan pernah terpuaskan. Karenanya ia menawarkan ‘puas sempurna’—hukuman paling kejam.
Pengamatan Terakhir
Hari ini pun Min-su mengamatiku. Tapi kini berbeda. Ia tak lagi bertanya apakah aku menginginkan orang lain. Ia berkata:
– Kala kau tak menginginkan siapa pun, barulah kau benar-benar menjadi milikku.
Aku berharap momen itu belum tiba. Namun, dalam waktu yang sama, aku menantikannya.
Berapa lama hubungan ‘sempurna’-mu akan bertahan? Atau kau sedang membakar surga seseorang saat ini?