Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Saat Ia Menekan Hati di Foto Mantan Pacar, yang Tersisa di Tangan-Ku

Sebuah like yang membara: mengupas psikologi cinta cemburuan di era digital dan trauma tersembunyi di baliknya.

cemburuSNSpsikologi cintatraumaera digital

"Coba jelaskan kenapa kamu memberi hati di foto itu" Pukul 02.47 dini hari. Sepotong lemon masih mengambang di gelas, lalu menepuk lembut ke tepi meja sebelah. Jisoo masih memperbesar foto Hyuna—12 minggu lalu—lalu mengusapnya berulang kali. Gaun hitam, senyum seperti makaron biru. Di bawahnya, 12 hati, dan salah satunya jelas milik akun itu.

"Kamu tahu kan, dulu Hyuna dan aku pernah..."
"Terus? Masih juga begitu? Perasaan itu masih tersisa?"

Hening yang mencekik. Tangan Jisoo gemetar. Ia sudah membatalkan like dua jam lalu, namun ujung jarinya terasa seperti terbakar, seolah ternodai selamanya.


Satu hati, satu bulan lenyap Kita salah mengira itu sekadar gerakan polos. Namun di balik hati putih itu terselip ratusan bayang.

"Apakah sekadar basa-basi? Atau sisa harap agar dia masih di sampingku?"

Saat kekasih kini menekan jari pada masa lalu orang lain, sejatinya kita sedang membidik diri sendiri di masa depan. Meniadakan masa lalu orang lain, lantas menghapus diri kita di hari esok.


Seorang yang hilang, dan Mijeong Mijeong tiap malam pukul 03.00 menyiarkan live. Lipstik merah saja, di kafe sepi.

"Hari ini ulang tahunmu. Aku di toko kue yang biasa kita datangi. Di sinilah kita bergandengan. Di sinilah kali pertama kamu bilang menyukaiku. Lalu kamu di mana? Kenapa hanya aku yang tersisa di sini?"

Ia men-follow teman kampung halaman seseorang, lalu memberi hati di foto konser dua tahun lalu. Di situ, dia tercium mencium bahu seseorang. Orang itu adalah Mijeong.

Malam itu, pesan terakhir masuk: “Sepertinya… kita cukup sampai di sini.” Sejak itu, senyap. Namun Mijeong masih tiap pukul 03.00, berbicara pada kursi kosong.


Enam bulan lalu, kafe tempat mereka lenyap Suatu Sabtu sore. Sujin dan Hyunwoo duduk di kafe Hapjeong. Foto yang diunggah Hyunwoo menampakkan sinar matahari menari di atas meja. Yang memberi hati tak lain mantan suami Sujin, Minsu.

"Aku tak tahu kenapa dia memberi hati di fotomu."
"Dia cuma teman lama."
"Teman lama yang pernah mencium punggung tanganmu!"

Sujin memblokir Minsu hari itu. Namun keesokan harinya Minsu muncul di kafe—di hadapannya, di bawah sinar matahari yang sama. Ia unggah lagi:

“Aku teringat hari pertama kita bertemu di sini.”

Hyunwoo, dalam perjalanan pulang, bertanya, "Hubungan kita, apakah terlalu sensitif?" Sujin tak menjawab, hanya memegang pergelangan tangannya. Namun jarinya menunjuk jam tangan yang tiga tahun lalu Minsu hadiahkan.


Mengapa kita terjerat pada gerakan kecil ini Cemburu era digital bukan lagi sekadar rasa. Ia adalah ketakutan yang dipenuhi ribuan data mikroskopis. Follow, like, komentar, tag lokasi—semua kini menjadi mata-mata yang mengintip kita.

"Ketika ini pun, bukankah kamu sedang menelusuri profil seseorang?"

Bukan sekadar gelisah. Ini adalah mutasi baru dari nafsu memiliki: keinginan menghapus masa lalu, obsesi menjadikan kenangan orang lain milikku. Kita bukan terbakar karena satu like. Kita terbakar karena hasrat agar diri bukan lagi masa lalu, melainkan kini. Dan api itu tak pernah padam.


Untuk siapa hatimu menunggu saat ini Saat ini pun, seseorang sedang merefresh profil mantan. Seseorang masih memperbesar hati terakhir dari kekasih yang hilang. Seseorang menyimpan tangkapan layar hati yang diberikan suami di foto mantan.

Dan saat membaca ini, bukankah sedikit demi sedikit muncul rasa tak ingin menjadi masa lalu siapa pun?

Untuk siapa hati yang ingin kamu tekan? Dan saat menekannya, akankah kau benar-benar merdeka?


Sesuatu yang tajam di genggam. Lambang hasrat untuk menebas lalu. Tapi makin kita menebas, luka makin dalam menganga.

← Kembali