"Sayang, Oppa Hyunseok bilang dia mau menginap di rumah kita malam ini," ucapnya satu kalimat di meja sarapan. Bau telur ceplok menusuk hidung dan garpu di tanganku gemetar. Ia menyeret piring ke arahku tanpa sepatah kata, ah, makanya semalam ia setrika baju sampai larut.
Tas pria di ruang tamu
Hyunseok adalah senior yang sudah disukainya sejak ia berumur dua puluh tahun. Kini ia lelaki beristri, tapi tetap menyelinap berkirim pesan—aku tahu. Ia tak menyembunyikan fakta itu, aku pun pura-pura tak mendengar.
"Kita lipat saja sofa, dia datang terlalu malam," katanya. Getaran aneh terselip di suaranya; matanya berbinar lembut. Sambil mengamati perubahan kecil itu, aku bergumul dalam perulangan hati: tenang, takkan terjadi apa-apa.
Timeline tersembunyi
Pukul 23.00. Bel pintu berdering. Aku sudah berdiri di depan pintu. Ia berlari membukanya, ringan seperti gadis SMA yang kembali ke masa lalu. Pintu terbuka; mereka saling menatap lima detik tanpa suara. Hening sekejap, pandangan bersilang, jantungku tercekat.
"Lama tak bertemu, Minsa," kata Hyunseok sambil jari-jarinya menyentuh helai rambutnya—sentuhan samar tapi nyata. Gadisku tersenyum mau menghindar, bahu mereka bersentuhan. Getaran itu merembet ke tubuhku. Di detik ini, aroma apa tercium olehnya?
Alasan senyum rahasianya
"Kami keburu larut mencari foto lama," katanya di ambang sambil meneguk soju. Ia menghadirkan foto festival kampus 2014: dirinya tersenyum lebar di samping Hyunseok. Masa tanpa diriku. Jari-jarinya melayang di atas foto itu.
‘Kalau saja saat itu ia memelukku, bagaimana nasib kita kini?’
Sayup kecewa melintas di matanya. Aku menelan rasa itu. Bukan sekadar cemburu; ada sesuatu yang lebih dalam. Dalam semua ekspresi yang kukenal, yang ini belum sepenuhnya milikku.
Hyunseok tiba-tiba mabuk. Ia menuntunnya ke sofa; dunia kecil berdua. Aku di dapur sendirian meneguk air—bukan alkohol, melainkan air yang membakar cemburu.
Kamar tanpa kunci
"Sayang, besok pagi kita ngobrol lagi, ya?” Jam 2 pagi. Ia berbaring, berbisik. Hyunseok tertidur di ruang tamu. Aku perlahan merebahkan diri. Wajahnya terlalu indah untuk kujamah.
"Dulu waktu kuliah, aku sangat tersakiti karena ternyata dia tak pernah mencintaiku. Tapi… aku tak tahu apakah terus berhubungan sekarang salah." Suaranya gemetar. Aku diam. Ia melanjutkan, "Kalau kita putus nanti, bisa nggak kita tetap berteman seperti sekarang?”
Kalimat itu membuatku sadar: bagi dirinya, aku adalah tempat teduh yang nyaman—tapi cinta yang bertepuk sebelah tangan tetap api yang membakar.
Wajah sejati nafsu
Mengapa kita tertarik pada luka seperti ini? Kita mencintai dengan rela tersakiti. Mengetahui masih ada bekas orang lain di hati pasangan, kita tetap terpikat. Setiap jejak berupa foto, pesan, kenangan, membuat kita mabuk kepayang.
Psikolog menyebutnya trauma bonding: kita memilih bertahan di posisi yang bisa melukai. Cinta terpendamnya berada di tempat lain, namun aku belajar menetap di sela-sela itu.
Dua kisah nyata
1. Jisoo (32, perancang grafis)
Setiap Jumat, cinta bertepuk sebelah tangan sang pacar datang menginap—senior kuliahnya yang kini bercerai. Mereka menonton film lama, larut dalam nostalgia. Jisoo meneguk bir di samping mereka. Sekali ia mendengar pacarnya berkata, "Aku sangat merindukanmu," lalu Jisoo menangis di kamar mandi. Keluar, ia berkata, "Aku juga sangat merindukanmu,” lalu gadis itu tersenyum menggenggam tangannya.
2. Haejin (29, programmer)
Mantan pacar kekasihnya masih sering mampir membantu pekerjaan desain. Haejin memperhatikan mereka dari jauh. Ketika si mantan mengelus rambut sang pacar, Haejin menumpahkan gelas air. Saat mereka menoleh kaget, Haejin meminta maaf. Dalam hati ia berkata: saat ini aku sedang cemburu luar biasa.
Pertanyaan terakhir
Keluar dari kamar mandi, ia berkata, "Hari ini spesial sekali. Terima kasih.” Aku mengangguk. Ia memakai jubah mandi, aku memandangi punggungnya. Setelah ia tertidur, aku ke ruang tamu. Hyunseok terlelap di sofa. Kubuka tasnya; di dalam terselip surat yang dulu pernah ia kirimkan kepadanya.
"Kalau kita bertemu lagi, bagaimana nasib kita?”
Aku bisa saja membuang surat itu. Tapi aku biarkan tetap di sana, karena diam-diam aku menikmati sensasi gelap menyaksikan wanita ini mencintai orang lain.
Pada detik ini, siapa yang bersemayang di hati kekasihmu? Dan seberapa lama kau sanggup menahannya?