Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Ia Bilang Sedang Hamil, Aku Memilih untuk Tak Menghapusnya

Berita kehamilan datang, tapi mereka hanya menekan ‘hapus’. Ketakutan di balik hubungan tabu dan kelegaan diam yang membunuh.

kehamilankebohonganmenghapustabu

“Sayang, aku hamil.” Saat kalimat dari chat tadi—tiba dua menit lalu—menjadi kalimat utuh, aku menekan layar dan memilih ‘hapus’. Saat jari meluncur, seluruh suara di kamar mati. Hening. Bahkan deru AC dan dengung kulkas lenyap. Sebaris teks saja sudah musnah.

24 Jam Menahan Nafas

Jihu mengirim chat lagi keesokan sorenya.
“Sudah dibaca?”
“……Tolong dibalas ya.”
Aku sudah membalas. Dengan tombol hapus.
Dia hamil, dan aku bisa jadi ayahnya.
Tapi mengakuinya berarti meruntuhkan diriku yang sekarang.
Lima tahun menikah, dua kali istriku keguguran.
Dokter selalu berkata, “Kalau suami agak lebih ‘giat’…”
Kami bahkan tak pakai kontrasepsi.
‘Tetap tak kunjung datang’ adalah kenyataan yang telah kami lepas begitu saja.
Maka kehidupan yang menempel di tubuh Jihu adalah larangan bagi kami.

Para Penghapus Lainnya

Masih banyak yang menekan tombol sama sepertiku.

Kasus 1. Minseo menekan dua kali

3 Desember, 02.17 dini hari. Minseo merekam wajah pacarnya yang tertidur, kirim video tiga detik, lalu hapus dalam 37 detik. Tak lama kemudian ia kirim foto plastik putih: obat yang baru dibelinya di apotek.
“Benar ini?”
“Benar.”
“Terus gimana?”
“Batalkan saja.”
Percakapan berhenti di situ. Pacarnya takkan pernah tahu Minseo pergi ke klinik keesokan harinya.

Kasus 2. Junghwan mematikan rekaman

“Hyung, kita beberapa kali… sekarang aku sedang…”
Junghwan mendengar pesan suara lima belas detik itu lalu langsung ubah tanda ‘1 menit lalu’ menjadi ‘terhapus’. Lawan bicaranya rekan kerja, juga senior kuliah istri. Sekali saja mereka terseret kemabukan.
Ketika tahu wanita itu hamil, bukan wajahnya yang muncul, melainkan upacara masuk sekolah anak perempuan Junghwan.
‘Kalau anak kita mirip wajahnya gimana?’
Bayangan itu terlalu jelas, maka Junghwan hapus percakapan itu. Hari ini pun ia kirim pesan: “Aku bawa bolu stroberi ya.”

Kehamilan Bersembunyi di Ujung Feed

Kabar kehamilan tak ditentukan oleh siapa yang lebih dulu bicara, melainkan siapa yang lebih dulu diam.
Instagram penuh kaus kaki bayi, video USG, tapi pesan yang terhapus tak masuk statistik.
Maka kita tak tahu:

  • Berapa orang hari ini menghapus kata “aku hamil”
  • Berapa orang menyerah pada janji ke klinik
  • Berapa orang mengubur mungkin-dirinya-sebagai-ayah untuk selamanya

Mengapa Kita Tak Bisa Tak Menghapus

Psikolog Gary Schneidner menulis soal ‘identitas rahasia’.
Nama yang kita sematkan di KTP berbeda dari diri yang hanya bisa ada kalau terhapus.
Kehamilan Jihu adalah jalan pintas menuju ‘diri lain’ itu.

  1. Kebalikan rasa bersalah — Lebih takut dipanggil ‘Ayah’ daripada dituduh ‘pengkhianat’.
  2. Perangkap waktu — Ilusi bahwa kalau ‘aku sekarang’ bertahan, ‘aku nanti’ juga aman.
  3. Lampu belakang nafsu — Kesenangan terlarang yang makin jelas karena harus disembunyikan. Menghapus bukan sekadar gerakan, melainkan ritual agar ‘aku terus berjalan’.
    Saat sebaris di layar lenyap, seolah realita ikut sirna, menyelimuti seluruh tubuh.

Hening yang Berkelanjutan

Tiga hari kemudian Jihu menelepon.
Begitu nama tertera, aku tak mengangkat.
Ia kirim SMS:
“Aku tahu kamu mikir apa selama tiga hari. Tapi tetap, aku harap kamu yang menyatakannya dulu.”
SMS itu pun aku hapus.
Saat ini aku berdiri di tengah gelap, di antara kata ‘ayah’ dan kata ‘suami’.

Kalau kau, bisa kah kau tetap menghapus setelah mendengar berita itu?
Atau, bisa kah kau hidup seumur hidup sambil memikul fakta bahwa kau pernah menghapus seseorang?

Jihu masih mengirim chat.
Aku masih menghapus.
Setiap layar putih menyala, aku mendengar tangisan bayi.
Padahal belum lahir pun, tangis itu begitu nyaring hingga aku ingin menutup telinga.
Sekarang, siapa lagi yang sedang kau hapus dari hidupmu?

← Kembali