Tatapan Sekali Waktu yang Mendorihkan Dominó
"Juno, hari ini nggak ketemu, kan?" Ia menunjuk matanya dengan jari lalu tersenyum tipis di ujung koridor. Pukul 09.40 pagi, kakiku sudah gemetar. Tanpa sepatah kata pun, ia tahu. --- ## Kampus Tanpa Tempat Berteduh Lantai 3 perpustakaan, bilik toilet, hingga lantai dasar parkiran bawah tanah—tatapan itu tetap mengejar. Memang tak ada di belakang, tapi panas terbakar di tengkuk tak kunjung padam. Setiap jam kuliah aku bertahan tiga detik di depan pintu ruangan. Seandainya aku masuk, mungkin saja ia sudah duduk di barisan paling belakang; lamunanku membuat ujung jari kebas. Hari itu sama saja. Tak kuat menahan tiga detik, langkahku berbalik. Saat keluar lorong, ponsel bergetar. — Lagi ngumpet, ya? — Aku suka kamu, itu saja. Dua baris itu mendorongku menuruni tangga belakang kampus, bukan ke ruang kelas. Duduk di sana, aku bergumam: kapan ya kata "suka" berubah menjadi ancaman begini? Tak ada yang mengajarkannya. --- ## Inti godaan selalu berujung pada "tak bisa menolak" > Alasan "takut dia tersakiti" ternyata tameng untuk nafsu sendiri. Kita salah kaprah mengira godaan sebagai "aku menerimanya". Yang sebenarnya membuat kita terpana adalah ketidakmampuan menolaknya. Bukan beban akibat menolak, tapi rasa tercekik karena menolak sama sekali mustahil. Juno tahu itu. Sejak pandangan pertama. Ia melihat wajahku yang menolak tapi tetap menyesal, mataku yang tak sanggup menghindar walau jijik, dan gemetar kecil saat aku diam memperhatikan. --- ## Dua kisah nyaris nyata ### Kasus 1. Minji, 24 tahun, jurusan Linguistik "Aku bukan takut, lalu lari," kata Minji. Demi menghindari senior Park, ia bolos kulihan Jumat sore empat pekan berturut-turut. "Kalau dia ngomong, aku nggak yakin bisa bilang 'tidak' sampai habis. Aku malah bisa tersenyum duluan… itu yang menakutkan." Setiap kali ujung kaki Park menyentuh kakinya di bawah meja stu-dio, Minji menutup rapat kedua pahanya. Dan lagi-lagi, alih-alil "tidak", ia berkata, "Aku pamit dulu ya". Lima belas menit kemudian ia bersembunyi di jendela lantai enam perpustakaan. Kampus yang terbentang di depan iba-nya panggung yang menampilkannya di tengah keramaian. ### Kasus 2. Hyejin, 29 tahun, studio desain "Sebenernya nggak mau telat…" Hyeyin sengaja bolos dari kelas sketsa luar ruang yang dipimpin senior Jaeyoon—tepatnya, 30 menit sebelum kuliah dimulai, mobilnya sudah keluar gerbang kampus. "Kalau Jaeyoon oppa lihat aku, pasti bilang, 'Ke studio, bantu edit.' Kata 'tidak' keluar, nanti di kelas berikutnya aku dicoret… portofolioku hancur." Ia berkeliling koridor bawah tanah Gangnam sambil membeli kopi, bukan pensil. Di atas struk kusut melayang pertanyaan: Mana yang lebih menakutkan, berani mengecewakannya atau berani menanggung drop sks? --- ## Kekuatan yang mendorong tabu Psikolog menyebutnya kekuatan dialektis. Semakin besar hasrat orang itu padamu, sebenarnya kau berada pada posisi kuasa yang lebih tinggi. Tapi kita tak menyadarinya; nafsu kita terbelit oleh larangan: kalau menolak, dosa. Pesan terakhir Juno: — Makin kamu lari, aku makin penasaran. — Selagi kamu menghindar, aku tahu seberapa besar kamu menginginkanku. Ia tahu: aku bukan melarikan diri darinya, tapi sedang mengaktifkan rantai mesin yang membuatnya makin haus. --- ## Apakah kau benar-benar sedang lari? Pernahkah kau bolos kuliah demi menghindar? Atau absen dari kumpul kantor, pertemuan keluarga, bahkan ke minimarket depan rumah. Saat itu, bukan karena "tidak suka" kau melarikan diri. Kau sedang berdiri di titik terdekat untuk memastikan nafsumu yang membuatnya makin menginginkanmu. --- > Kau sudah tahu, kan, mengapa makin kau hindari pandangannya, mata itu justru makin tajam menggores ingatanmu.