Bisikan Sejuk yang Dilepaskannya Selasa malam, bar anggur Samcheongdong. Aku menyesap Syrah 2017 pilihan Jihajin, sambil memutar ulang kalimat yang baru saja diucapkannya. Tinggi 180 cm ya minimal. Kalau saja marah dan bilang itu tidak sopan, semua akan mudah. Namun dia begitu tenang, seolah berkata, "Hari ini agak dingin ya." Ketenangan itulah yang paling mencekam.
'Ini… aku cuma 175 cm.'
Tidak kuucapkan, tapi sudah terlambat. Pandangannya menelusupiku lalu berlalu. Rasanya seperti berdiri di depan pintu yang tertutup rapat.
Bukan Standar yang Terlalu Tinggi, tapi Mengapa Kita Merasa Telanjang Dievaluasi? Tinggi, gaji, pekerjaan, wajah. Ini bukan sekadar selera—ini ujian. Dan aku gagal. Kekerasan tersembunyi di balik kata "tipe ideal". Ia sebenarnya timbangan yang menakar: seberapa besar "nilai" yang kau bawa. Evaluasi nilai pasar yang telanjang, atas nama cinta.
Arsip Jihajin Jihajin, 31 tahun, perancang UX. Musim gugur lalu, dia didekati Jaehyun yang berdiri 178 cm. Jelas bukan "tipe"-nya. Tapi dia tetap bertemu dengannya kali kedua, ketiga. Kenapa kau mau bertemu? tanyaku. Jihajin memutar gelas anggurnya. Awalnya penasaran, kenapa dia tertarik padaku. Lalu kumengerti: dia membuatku merasa "bernilai". Seperti menangkap sesuatu.
Suaranya tiba-tiba bergetar. Atau sebenarnya, akulah yang merasa tertangkap.
Buku Harian Suji Suji, 29 tahun, manajer pemasaran. Tiap Rabu malam ia men-screenshot profil pria menonjol di aplikasi kencan, lalu menyimpannya dalam folder. Folder bernama "Tipe Ideal" berisi 47 pria yang memenuhi syarat: minimal 180 cm, karyawan perusahaan besar, apartemen Rp8 miliar. Selasa malam, ia akhirnya bertemu salah satunya. 183 cm, tiga tahun di perusahaan besar, apartemen Banpo. Percakapan membosankan: 30 menit lamanya ia menjelaskan portofolio saham. Tapi Suji tetap tersenyum. Ia merasa mendapatkan sesuatu.
Pulang ke rumah, ia menatap cermin. Kenapa pria itu memilihku? Apa yang dilihatnya?
Ketakutan samar melintas di matanya. Bagaimana kalau kelak ia tak lagi melihatku sebagai sesuatu yang "berharga"?
Perangkap Nafsu Mengapa kita tergila-gila pada standar semacam ini? Ini bukan selera—ini batu pengganti nilai diri. Menjadi tipe ideal seseorang berarti kita memiliki bukti bahwa diri kita istimewa.
Masalahnya, bukti itu tidak kekal. Hari ini kau mungkin tipe idealnya; besok bisa jadi tidak—bahkan, pasti tidak. Akan muncul seseorang yang lebih muda, lebih cantik, lebih sukses. Maka kita harus terus menambah kekurangan: kencani yang lebih tinggi, lebih kaya, lebih tampan. Seperti permainan leveling yang tak ada habisnya.
Kebengisan yang Sebenarnya Sejujurnya, standar mereka tak terlalu tinggi. Kita hanya berpikir begitu. Ia ingin pria 180 cm? Mungkin itu alasan kita sendiri agar tak harus menerima fakta bahwa kita 175 cm. Daripada berkata, "Aku tidak cukup," kita lebih suka bilang, "Dia terlalu berlebihan." Seperti siswa yang gagal ujian lalu berkata, "Soalnya terlalu susah," padahal sebenarnya belajar pun tidak.
Tanya Terakhir Malam ini, sebelum mengutuk standarnya, lihatlah cermin. Lalu jujurlah: "Mengapa aku tak mencoba memenuhi standar itu?" Atau lebih ekstrem: "Mengapa aku ingin menjalin hubungan dengan orang yang menuntunku mengejar standar semacam itu?"
Jawabannya adalah awal dari segala ketidakbahagiaan.