"Saat melaju 120 km/jam, tiba-tiba kau menoleh ke jendela dan tersenyum." Rambutnya menyebar, menempel di jok kulit. Lampu jalanan di luar menyambar wajahnya, menerangi lalu menelannya lagi tiap 0,3 detik. Aku mengepalkan kemudi. Telapakku memanas.
"Kenapa tersenyum?"
Alih-alih menjawab, ia mengetuk kaca dengan ujung jari. Sepasang kekasih melintas di luar. Perempuan itu melingkarkan lengan di lelaki. Pemandangan itu tak lebih dari sekejap, namun ia menangkap satu detik itu dan tersenyum.
Tas di Bangku Belakang
Hari itu kita menyebrang dari Seoul ke Busan, lima jam perjalanan. Tasnya tergeletak di kursi belakang: satu set lingerie, sikat gigi, dan cincin yang kuberikan kemarin. Tapi cincin itu belum merapat di jarinya. Kukira ia naik mobil demi aku. Tapi kini kupikir, barangkali ia hanya melarikan diri dari sesuatu. Tasnya oleng; pintu tas terbuka, terlihat seulas renda hitam. Aku mencoba alihkan pandang, namun gagal. Ia tahu—mungkin itu pula yang membuatnya semakin tersenyum.
Titik Awal Nafsu
Tidak aneh jika nafsu lahir di tol. Ruang terkurung. Kecepatan. Jalan yang harus terus menjauh. Kita saling memilih, sekaligus terpenjara. Senyumnya ke jendela adalah retakan pertama di ruang sempit ini.
Aku ingin percaya ia naik mobil demi aku. Tapi saat ia menatap jendela sambil tersenyum, kusadari: masih ada lain di kepalanya.
Aku ingin mencuri senyum itu, menjadikannya milikku, menghapus lelaki di baliknya. Nafsu dimulai begitu: dorongan untuk mengosongkan pikirannya yang menempatkan orang lain.
Dua Kisah yang Terdengar Nyata
Kisah Pertama: Gaun Hitam Jihae
Jihae—pacarku tiga tahun. Jumat malam, ia naik ke mobilku. Incheon–Gangneung, tiga setengah jam. Malam itu ia berdandan: gaun hitam, leher terbuka. Katanya, ia belum pernah pakai gaun itu sebelumnya, "Karena malam ini istimewa." Sambil menatap jendela, terus mengecek ponsel. Tiba pesan. Ia tersenyum. "Siapa?" tanyaku. "Teman," jawabnya. Lampu jalan menyambar gaun hitam. Malam itu ia tak melepasnya, tertidur dengan gaun masih melilit. Aku hendak membelai rambutnya, tapi berhenti. Wangi parfum asing melayang.
Kisah Kedua: Bibir Merah Minsu
Minsu—pacarku enam bulan. Pyeongtaek–Yeosu, empat jam. Bibirnya merah bengkak, entah kenapa. Ia sapu lip balm berulang, tapi aku tahu. Menatap jendela, ia berkata, "Aku akan ke luar negeri." "Dengan siapa?" "Sendiri." Malam itu ia terus memandangi laut Barat di luar, memikirkan seseorang. Kuraih tangannya. Ia genggam erat, tapi matanya tetap di kejauhan. Aku urungkan niat memasangkan cincin di jarinya.
Mengapa Kita Tergoda pada Terlarang
Jalan tol adalah perpanjangan realitas, sekaligus ruang di mana realitas seolah tertunda. Di sini kita saling memilih, sekaligus tahu tak bisa lari. Maka nafsu membesar. Pikirannya yang menempatkan orang lain masih berada di tempat lain, walau ia duduk di sampingku.
Terlarang dimulai dari keinginan mencuri senyum yang bukan untukku. Menghapus orang lain dari kepalanya. Mengukir namaku di dadanya—bukan nama lain. Dorongan ini lahir bukan karena moral atau etika, melainkan karena kita saling menginginkan.
Pertanyaan Terakhir
Saat ia menatap jendela dan tersenyum, apa yang kau lihat? Apakah kau ingin mencuri senyum itu, ataukah kau ingin menghapus orang lain dari kepalanya?