Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Saat Pacar Temanku Membuka Lemari Es-ku, Aku Telah Kalah

Pacar sahabatku menumpang 20 hari. Stiker namanya di kulkas, langkah kaki telanjang keluar kamar. Kami menguji siapa yang lebih terdesak.

tabuobsesirunthuhnya-batassegitiga-cintanafsu
Saat Pacar Temanku Membuka Lemari Es-ku, Aku Telah Kalah

“Sayang, garamnya di mana?” Sehyun berdiri di depan kulkas. Kaos tanpa lengan putih, rompi yang memperlihatkan pinggang. Jam delapan pagi, dan di depan mataku seseorang memanggil kekasih. Itu panggilan kebiasaan Jihun, sahabatku, setiap pagi. Sehyun sudah pacarnya.

Aku mencengkeram baju tidurku. Sehyun mengambil tabung garam, lalu menaburkan isinya dengan sendok teh. Sendok kaca kesukaanku—dia tak tahu.


Ia sudah memiliki kunci rumahku

Awalnya cuma semalam. Jihun harus dinas ke luar negeri untuk pameran lulusan, dan Sehyun belum dapat penginapan sementara. Tanpa sadar aku bilang, “Tinggal saja di sini.” Seperti malaikat baik hati yang menunggu Jihun pulang. Satu hari menjadi sepuluh, sepuluh menjadi lima belas. Sehyun menempel stiker namanya di kulkas, menuliskan inisialnya pada botol sampo, bahkan menggantung rajut musim dinginnya di sisi lemariku.

Di ruang tamu, rambut yang tersisa lebih banyak miliknya daripada punyaku.

Jihun hanya bilang “makasih” berulang kali lewat telepon. “Sehyun bilang dia merasa nyaman, katanya kamu sangat perhatian.” Aku menjawab tak apa-apa, padahal bukan. Setiap tengah malam sekitar pukul dua Sehyun keluar ke dapur minum air. Aku membuka pintu kamar sedikit dan mengintip dia memegang gelas dengan kedua tangan. Kadang diam-diam menuangkan susu. Hanya aku yang tahu Jihun membenci susu.


Aku tahu, ini permainan apa

Suatu subuh aku melihat laptopku terbuka. Layar kunci terlepas, kolom pencarian berisi: kalau pacar terlalu lama di rumah sahabatnya, apakah dia akan bosan? Aku merasakan senyum kecut di belakangku malam itu.

Kami bertemu di lorong, hanya kami berdua dalam gelap. Sehyun berbicara duluan. “Kamu benci aku di sini, tahu kan.”

“…Tidak.”

“Dusta. Matamu gemetar.”

Dia melangkah mendekat, aku bersandar ke dinding. Ujung jarinya menyentuh lenganku—bukan dingin, bukan hangat, cuma kulit.

“Jihun pulang minggu depan. Sampai saat itu, tolong.”

Dia tersenyum. Tak ada yang tahu aku dimohon apa.


Udaranya racun bagi dua lelaki

Kutelepon Jihun. “Kapan kembali?”

“Jadwal molor, sebulan lagi kira-kira.”

Sebulan. Sehyun menerima waktu tak masuk akal itu sebagai izin untuk tetap tinggal tanpa persetujuan siapa pun.

Kami lalu membuat ‘aturan’: pagi pura-pura tak saling tahu, malam makan bersama, subuh tak bertemu di dapur. Tapi aturan hancur tanpa tahu siapa pelanggarnya. Sehyun membuat sup kesukaanku. Aku makan sambil bilang, “Enak.”

Dia berkata, “Jihun juga bilang enak.”

Saat itu aku cemburu pada Jihun.


Nafsu dimulai saat pintu kulkas terbuka

Psikolog bilang ‘penyusupan wilayah orang lain’ bukan sekadar kebaikan, melainkan eksplorasi batas kekuasaan dalam hubungan. Rumah siapa, kamar siapa, sampo siapa—semua sebenarnya menanyakan siapa yang lebih terdesak.

Alasan Sehyun menetap bukan karena Jihun pergi. Ia telah menciptakan ruang terisolasi di antara dua lelaki. Aku hanya bisa menjaga, dia hanya bisa menguasai.

Kami saling menguji.


Malam kedua puluh, pintu kamarku terbuka

“Sebentar, perlu bicara.” Sehyun berkata.

Aku duduk di ujung ranjang. Ia menutup pintu dengan sendu, berjalan telanjang kaki, berdiri di depanku.

“Aku ingin tetap di sini.”

“…Itu urusanmu dengan Jihun.”

“Kalau mau bicara dengan Jihun, kau yang harus mengakui dulu.”

Aku mengangkat alis. Apa yang dia inginkan? Aku tahu dia pacar Jihun. Dia tahu aku sahabat Jihun. Lalu kami sedang apa?

“Aku suka di sini. Kau tahu itu.”

Dia melangkah lebih dekat. Aku menahan napas. Tangannya menutup punggung tanganku. Dingin, tapi gemetar.

“Kalau Jihun pulang, semua berakhir?”

Aku tak bisa menjawab. Dia tersenyum keluar. Tapi tak menutup pintu.


Batas tergantung siapa yang melangkah duluan

Drama psikologis ini bukan sekadar cinta segitiga. Kami saling menyerbu ‘cara menjadi’ satu sama lain. Aku membiarkannya di rumahku, dia membiarkanku menyerbu hubungannya. Itu bentuk obsesi berbeda yang sama-sama ingin memiliki.

Eksperimen psikologi: tiga ruang, laki-laki A, perempuan B, laki-laki C. A–B sepasang, C sahabat A. B tinggal di rumah C. Lama-lama A dan C membuat B tak bisa pergi, karena keduanya menikmati ‘pelanggaran batas’ B.

Kami korban sekaligus pelaku.


Pertanyaan terakhir

Ketika dia bertanya lagi, sanggupkah aku menjawab: “Ya, tetaplah di sini.” Namun apakah itu berarti meninggalkan Jihun, atau meninggalkan diriku sendiri, atau meninggalkan kita semua?

Kalau kau, pintu mana yang sanggup kau tutup? Pintu gerbang rumah sahabat yang meminjamkan pacarnya, atau pintu kamarmu sendiri?

← Kembali