Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Dia Menggambar Lingkaran di Tengah Ranjang, Tempat yang Tak Bisa Ditinggalkan Setelah Masuk

Lingkaran kecil di atas kasur penuah obsesi dan dominasi. Pernahkah kau ingin dimiliki habis-habisan setelah melangkah masuk?

kekuasaanobsesiranjangtabupsikologi

“Masuklah, ke sini” Jemari gemetar menggambar lingkaran dengan kapur putih di atas kasur. Ia menunduk, berbisik ke telingaku. “Cukup satu langkah. Setelah itu, kau milikku.” Bunga kunci yang terdengar membelah sunyi. Kamar terasa sempit seperti mobil yang baru saja ditutup, panas mencekam. Aku belum melepas sepatu, namun pandangan matanya sudah menelan jari-jariku. Saat itu, mengapa lingkaran itu terlihat menggoda? --- ## Nafsu seperti pi yang dingin > Tanpa sadah kakiku bergetar. Tak boleh masuk. Tapi… sekali saja… Lingkaran itu bukan sekadar bentuk geometris. Ia garis batas bertinta seperti tato. Begiku melepas sepatu dan melangkah telanjang kaki, tubuhku terasa menandatangani kontrak hanya berbalut satu helai lingerie. Ia duduk di ranjang, menatapku dari atas. Kepalanya miring. “Di sini kau tak bisa menentukan apa-apa. Cukup berbaring.” Kalimat itu turun seperti kelegaan. Ya, aku juga sudah lelah. Rasa ingin menurut tanpa alasan bergeliat di dalam diri. Dorongan untuk dikuasai, dan sekaligus obsesi untuk memiliki seseorang sepenuhnya, berkelindan. --- ## Tiga kisah nyata, atau mungkin bohong ### 1. Kasus Yuri — 3 bulan lalu “Diminta masuk ke dalam lingkaran?” Yuri tertawa. 28 tahun, AE di agensi iklan. Ia menatap pacarnya yang menghisap rokok di ujung ranjang. “Sekali saja, coba. Kalau kau diam, aku akan tutup mulutmu.” Malam itu Yuri melangkah masuk. Ia tak bisa keluar lagi. Pacarnya menutup mulutnya dengan lakban, mengikat pergelangan tangan ke tiang ranjang. Pukul 4 pagi, Yuri menangis pertama kali. Air mata membasahi lakban. Tapi mengapa air mata itu ternyata manis? Di kereta bawah tanah keesokan pagi, Yuri terus terdiam. Tak bicara pada siapa pun. Aku masih di dalam lingkaran itu. Pikiran itu menghantu seperti ilusi. --- ### 2. Kasus Junho — 2 minggu lalu Junho barista paruh waktu. 24 tahun, tiba-tiba diajak bicara oleh tamu pria berusia 30-an. “Nona, habis shift ada waktu?” Obrolan biasa. Tapi pria itu memberi stiker bundar kecil, bukan kartu nama. “Tempel di punggung tanganmu, lalu ikut aku, boleh?” Stiker itu bundar kecil dijual di kafe. Junho menempelkannya. Lalu ikut. Di atas ranjang motel, pria itu menggambar lagi. Kali ini di atas bantal. “Berbaring di sini. Tutup mata.” Junho menurut. Selama 30 menit tak terjadi apa-apa. Pria itu hanya mengecup rambutnya. Lalu berkata, “Sekarang kau boleh pergi.” Junho tak pergi. Ia sengaja tinggal di dalam lingkaran. --- ## Alasan manis dari tabu > Mengapa kita mau melemparkan diri sendiri? Ahli psikologi berkata. Nafsu menguasai dan tunduk adalah sisi mata uang yang sama. Sebesar keinginan menggenggam kekuasaan, sebesar itu pula hasrat menyerahkan diri. Lingkaran di ranjang itu bukan sekadar bentuk. Ia undangan untuk lepas tanggung jawab. ‘Kalau aku hanya menurut, aku bukan wanita nakal.’ ‘Karena kau menginginkanku, aku tak akan ditinggalkan.’ Begitu kaki melangkah masuk, semua pilihan lenyap. Lalu muncul rasa bebas. Kelegaan tak perlu memutuskan apa-apa. Tapi kelegaan itu perangkap. Setelah masuk, saat keluar tubuhmu berkeping-keping. Jari kaki, ujung jari, seulas pandangan tetap tertinggal selamanya di dalam lingkaran. --- ## Pernahkah kau ingin masuk sebentar? Saat ini, duduk di ranjang sambil membaca, jika seseorang menggambar lingkaran kecil di pergelangan kakimu? Kanan kau masukkan, atau kau balikkan ranjang dan lari? Tapi tahukah kau. Mereka yang pernah masuk berkata. Saat keluar mereka menangis pelan. Tapi ingin masuk lagi. Maka kutanya. Apa yang kau tunggu sekarang? Bisikan “Masuklah, ke sini” dari seseorang?

← Kembali