Ketika aku mengusap punggung tanganku di pinggangnya, Ji-yoon menutup pintu kulkas dan berkata, "Lagi? Baru selesai masak, aku kepanasan." Aku tak bisa berkata apa-apa. Jari-jariku yang gemetar di bawah cahaya dapur malu diusir oleh tumitku. Ia membawa satu bantal dan pergi ke ruang tamu. Dalam 1,5 detik, aku kembali sendirian. --- ## Pelukan menjadi barang mewah Sebelum menikah, Ji-yoon rela menaiki satu stasiun ekstra demi memelukku. Saat menunggu di kereta pulang kerja, tubuhku ia keluarkan lebih dulu dari dompet. Ia menempelkan pipi di lenganku, berkata, "Masukkan aku." Seperti anak kecil yang membuka mulut untuk dimasukkan makanan. Kini ia lebih dulu berbaring di ujung ranjang, 40 cm. Jarak itu tak pernah berkurang 3 cm pun saat aku berbaring. Bersama, namun aku selalu kedinginan dan menggigil. Istri bertanya, "Kenapa sih?" tapi aku menelan ludah. Kenapa, kenapa, kenapa. --- ## Nicola dan Sabtu sore Nicola (nama samaran, 35) menangis sepanjang malam hingga tubuhnya terasa remuk. Suaminya, Seung-min, mengguncang bahunya. "Kenapa menangis? Bilang dong!" Jeritan pendek. Jawaban Nicola satu kalimat: "Aku cuma ingin dipeluk sekali saja, erat." Seung-min tertawa kecil. "Sekarang? Jam tiga pagi. Aku capek banget." Sejak itu Nicola menggosok-gosokkan jari kakinya di bawah meja makan, "Maaf, sepertinya aku terlalu posesif." Ia men-cap dirinya gila. Namun setiap pagi lingkar hitam di bawah mata memang membayang. Seung-min menepuk pipi Nicola pelan, "Tenanglah," tapi setiap kali sentuhan itu lepas, tubuhnya terasa sekeras marmer. --- ## Eksperimen Ha Jung-woo (nama samaran, 41) Suatu hari istri Jung-woo terbang pagi-pagi sekali, ia berdirikan dua kantong belanja di samping ranjang. Di dalamnya ia masukkan kausnya sendiri, lalu mengepalkan kedua ujung kantong. Lengannya menirukan lingkaran memeluk pinggang istri. Selama 47 menit. Pagi harinya kantong itu ambruk, terkulai seperti handuk basah. Dengan mata merah, ia kirim pesan: "Aku kangen." Tiga menit kemudian balasan: "Aku juga. Cepat pulang." Tapi istri yang kembali hanya mengetuk bahu Jung-woo pelan lalu pergi ke meja rias. Sejak itu Jung-woo memeluk dirinya sendiri. Ia bersembunyi di balik gorden, menggoyang tubuh dengan tangan terlipat. Begitu langkah kaki istri terdengar di pintu, ia segera melepaskan genggaman. Seperti pelajaran rahasia, ia menahan napas. Sebulan kemudian Jung-woo turun 6 kg. Dokter bilang penyebabnya tak diketahui, tapi Jung-woo tahu. Tubuhnya memulai pembalasan. --- ## Mengapa kita terus memohon dipeluk? Profesor psikolog Terry Ottum menyebutnya ‘refleks emosional’. Getaran hangat saat kita bayi dipeluk orangtua terekam di lekuk otak. Pola itu menetap seumur hidup. Bahkan sebagai dewasa, itu tetap strategi bertahan hidup. Dipeluk, detak jantung turun, hormon stres terguyur. Tapi setelah lima tahun menikah, refleks itu aus. Pasangan bukan lagi ‘sentuhan baru’, melainkan ‘penghalang sehari-hari’. Kita merindukan waktu ketika bisa dipeluk tanpa diminta. Maka nafsu menjadi mata pisau lebih tajam. Yang kuinginkan mungkin justru rasa sakit. Ketagihan menghitung setiap detik getaran saat dipeluk. --- ## Apa yang diinginkan tubuhmu sekarang? Aku masih menempelkan tangan di punggung Ji-yoon. Setiap kali ia menghela napas di atas makanan, aku menghitung apakah saatnya pantas. Hari ini jika kuminta, akankah ia menjauh? Atau sedikit menyerah? Tiba-tiba kupikir: bukankah yang kuinginkan bukan pelukan, melainkan saat penolakan? Ya, setiap kali ditolak, aku ingin menggali lebih dalam ke dalam pelukannya. Akhirnya aku membenci diriku sebanyak aku membenci benci istriku. Tubuhku meneliti mengapa aku didorak. Saat ini, meski kau sedang memeluk seseorang, tanyakan: apakah kau benar-benar sendirian? Tubuhmu kini menginginkan apa. Dan bila ia tak terpenuhi, siapa yang kau benci?
2026-03-25
Pelukan Jenuh Istriku adalah Satu-satunya Napas yang Tersisa
Tahun ke-7 pernikahan, istri bilang pelukan tak lagi bermakna. Tanpa itu aku mati kehabisan napas. Mengapa kita terus memohon dipeluk?
← Kembali