“Maaf, aku memang gila” — ujung tenggorokannya di pintu keluar 2 Gangnam Station
Pukul dua siang, di bawah terik matahari yang menyilaukan, Ji-hye mencengkeram kerah kemeja pacarnya, Hyun-soo. Saat pejalan kaki mengangkat ponsel mereka, tangan gadis itu sudah menampar pipi lelaki itu. Hyun-soo berlutut di aspal, kemeja putihnya berdebu.
Ji-hye, jangan begini, di sini ramai orang — ucapnya gemetar. Saat itu, tumit hitam Ji-hye menjejak tas kulit Hyun-soo. Suara tas yang terremuk lebih dulu terdengar, baru kemudian bunyi kamera.
Rasa yang muncul dari lubuk jantung
Mengapa wanita tahu betapa lezatnya meretakkan martabat lelaki yang dicintanya di jalanan?
“Tidak, aku sesungguhnya menunggu momen itu.”
Ji-hye masih mengingat air mata di ranjang motel minggu lalu seperti kotoran mata. Bau parfum wanita yang Hyun-soo sembunyikan dengan dalih “teman biasa”. Dusta. Hingga kini bau itu masih menusuk ke belakang tenggorokanku.
Pertunjukan di trotoar itu adalah balas dendam. Tapi bukan sekadar dendam. Di punggung tangan Ji-hye masih terasa mengalir listrik. Listrik itu mengandung ikrar tak akan tertipu lagi sekaligus ancaman akan kukerahkan sakitku padamu.
Kasus 1: Sepatu Dior Mina dan Lamaran Magang
Mina, 29, AE di biro iklan. Saat ulang tahun dua tahun bersama Seong-min, ia melempar kantong belanja Dior ke atas meja kafe Cheongdam-dong.
“Akhir-akhir ini kepala departemen kelihatan tertarik padaku,” ucapnya. Wajah Seong-min pucat pasi. Mina membuka ponselnya. Layar terbuka pada percakapan Kakao Seong-min ke junior kampus: ‘Lamaran magang yang kugarap semalaman gagal karena kamu’.
Mina berdiri. Ia mengoyak lamaran magang itu lalu menaburkannya ke lantai kafe. Serpihan kertas beterbangan; para tamu menahan napas. Bukan sekadar lepas marah. Ini pembalikan total tatanan yang kau ciptakan.
Kasus 2: Undangan pernikahan Soo-jin
Soo-jin, 32, pengacara. Tiga hari sebelum pernikahan, tunangannya Jae-hyuk mabuk berat. Ia menempelaknya di tengah alun-alun Seoul Station.
“Pesanmu yang kubaca tadi malam—‘menikah bukan main-main’, kan?” Soo-jin mencengkeram undangan pernikahan. Jae-hyuk menangis tersedu-sedu berlutut. Soo-jin mengoyak undangan itu, lalu melemparkannya ke udara. Serpihan putih melayang seperti salju. Saat itu aku menampakkan amarah yang selama ini kubendung. Ternyata begini rupa cinta.
Mengapa kita terpikat
Kehinaan di muka umum adalah ekstensi luka pribadi. Emosi semestinya kubur dalam diri, tapi ada luka terlalu dalam untuk dibiarkan. Apalagi luka karena pengkhianatan cinta.
Para wanita memilih melepas topeng ‘kesopanan’ yang sudah lama dipakai. Perempuan diam, perempuan pengertian—ketika masa lalu sebagai dirinya tiba-tiba tak tertahankan lagi.
Trotoar bukan pinggir, melainkan pusat. Di hadapan semua orang, akhirnya ia menyuarakan kebenarannya: menyiarkan sinyal aku terluka. Kekerasan ini ternyata bahasa yang rapih: deklarasi menghancurkan sistem, tatapan, dan penilaian yang membentuk dirinya. Aku bukan perempuan yang kalian kira.
Pertanyaan terakhir
Saat ini, di dalam benakmu, muncul juga nama yang ingin kau suruh berlutut di jalanan? Dan saat nama itu muncul, mengapa jantungmu berdegup pelan tapi tajam?